Senin, 05 Januari 2015

“ W A Y A N G ” Oleh Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro


 
Kita Semua Wayang - Seni, 05 Desesember 2015 - Menurut penyelidikan para ahli, wayang adalah salah satu kebudayaan asli bangsa Indonesia, penyelidikan tersebut menghubungkan pertunjukan wayang dengan tradisi cara berfikir alam kepercayaan lama.  Dalam perkembangannya setelah melalui proses akulturasi dengan kebudayaan dari luar, khususnya dari India dan kebudayaan Islam, wayang menjadi bentuk manifestasi seni budaya yang tinggi mutunya.  Dalam hal ini para seniman pada zaman Islam ikut memberikan saham dalam pembinaan dan pengembangan seni wayang.

1.              Awal pembentukan rupa wayang
Dilihat dari bentuk fisiknya, perkembangan pertama dari wayang sudah dimulai pada zaman prasejarah sebagai bentuk perwujudan dari arwah nenek moyang.  Boneka batu yang dikenal dengan nama unduk adalah perwujudan pertama dalam wayang berdasarkan kepercayaan animisme.
Dalam sejarah perkembangan wayang, kepercayaan iti selalu menjadi landasan pemikiran.  Leluhur wayang ini adalah bentuk perlambangan nenek moyang yang kehadirannya didukung oleh hasrat manusia untuk memuja nenek moyang.
Pada zaman Hindu wayang mengalami perkembangan sesuai tradisi kebudayaan dari India.  Unsur-unsr kebudayaan dari India ini berhasil diserap dan dicerminkan dengan tradisi kebudayaan asli Indonesia dan membuahkan seni wayang yang lebih luas nilai kegunaannya.  Karena wayang itu pula terciptalah berbagai jenis seni yang berpadu satu sama lain seperti seni pedalangan atau seni karawitan, seni tari dan seni rupa.  Selanjutnya seni wayang menjadi wadah tumpuan dari berbagai nilai budaya bangsa karena karena pesan yang dibawakan.  Masyarakat dididik melalui seni wayang untuk mencintai hidup yang baik berdasarkan ajaran agama.  Wayang akhirnya berhasil membudaya dalam masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa.  Pada zaman Hindu boneka yang telah dirintis sebelumnya, mengalami perubahan bentuk dalam usaha memujudkan tokoh yang berperan dalam cerita pahlawan atau wiracarita.  Wiracarita yang bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabharata yang melahirkan bentuk baru dalam sejarah seni wayang.
Dalam perkembangan seni rupa pada waktu itu menjadi proses perubahan konsep dalam bentuk pernyataan visual.  Poses pembentukan rupa dari wayang dapat diikuti pada pahatan relief candi.  Sebutan langgam wayang dalam mewujudkan tokoh cerita pada relief candi zaman Singasari dan Majapahit menjelaskan bagaimana gaya relief candi Jawa Tengah telah ditinggalkan untuk beralih pada bahasa pengucapan bentuk rupa yang baru.  Perwujudan tokoh cerita berubah menjadi gaya stilistik dan mengarah ke bentuk perlambangan.  Stilasi bentuk manusia dan binatang dengan melepaskanbentuk berdasarkan pedoman ikonografi seni India menghasilkan prototipe wayang yang kemudian berkembang pada Islam.   Perwujudan semacam ini mirip dengan bentuk wayang kulit yang sampai sekarang masih dipertahankan di Bali.












Gambar 1.  Hiasan adegan cerita Ramayana pada relief candi Panataran
Masih selalu menjadi bahan perbedaan pendapat, mana yang lebih dulu dicipta, apakah wayang kulit atau relief candi.  Apakah wayang kulit yang mencontoh relief ata sebaliknya.  Tetapi yang jelas ialah bahwa pada zaman Hindu telah diletakkan dasar-dasar rupa wayang untuk dikembangkan pada xaman Islam.  Proses pembentukan rupa wayang klaik dicapai pada zaman Islam sebagai karya seni rupa.  Dalam sejarah wayang dikenal pula jenis wayang  beber yang dilihat dari teknik pembuatannya merupakan karya seni lukis.  Tiap adegan cerita dilukiskan pada kain sebagai sarana pedalangan.  Dalam hal ini seorang dalang tidak memainkan boneka wayang melainkan adegan wayang dengan membeberkan gulungan kain yang bergambar.

Gambar 2.  Wayang beber dengan seni lukis penerus tradisi seni Hindu

2.              Peranan Kebudayaan Islam
Sulituntuk menjawab dengan tepat bilamana ada usaha pertama untuk memainkan wayang sebagai boneka wayang.  Usaha pertama untuk memainkan wayang diperlukan penemuan teknik baru, yaitu untuk menggerakkan bagian tangan dari boneka.  Bagian tangan boneka ini, seperti juga pada tubuhnya, diberi pegangan yang disebut gapit.  Usaha untuk melengkapi wayang dengan peralatan agar dapat dimainkan menurut penyelidikan dari zaman Islam.  Segala gerak dari tokoh wayang dihidupi oleh keterampilan dalang dalam menggerakkan tangan wayang dengan sikap tertentu.  Agama Islam yang pada dasarnya tidak menghendaki perwujudan makhluk hidup dalam bentuk nyata tidak sampai mengurangi nilai seni rupa wayang.  Tidak sedikit peranan para pemimpin Islam dalam mengembangkan dan menyempurnakan seni wayang dengan menambah beberapa jenis wayang seperti wayang krucil dan wayang klitik dan kemudian wayang purwa.  Tubuh wayang krucil dibuat dari bahan kayu gepeng sedangkan tangan dari kulit yang dapat digerakkan sepertu pada wayang kulit biasa.  Wayang krucil atau wayang klitik mengambil lakon dari cerita yang bersumber dari sejarah Majapahit dan Blambangan.  Lakon wayang ini juga dimainkan dalam wayang gedog yang dibuat dari papan kayu yang diukir.
Bentuk rupa dari wayang krucil dan wayang gedog dapat dipandang sebagai bentuk permulaan dari jenis wayang golek.  Wayang golek benar-benar merupakan jenis wayang boneka dengan bentuk tiga dimensi.  Meskipun perwujudannya plastis, tetapi wajah dan rut muka tokoh wayang dengan tata warnanya masih mengingatkan bentuk rupa tokoh-tokoh wayang kulit.  Juga apabila dilihat dari segi stilasi dan pengembangan dari bentuk fisik wayang kulkit.  Hal ini tidak menutup kemungkinanbahwa kelahiran dari kedua jenis wayang terssebut dalam waktu yang bersamaan, mengingat ide dari boneka wayang nenek moyang yang tiga dimensional telah dikenal zaman prasejarah.  Mengingat dasar pemikiran animistik pada zaman Hindu masih memegang peranan, maka tidak mustahil bahwa jenis wayang boneka ini ikut mendasari kelahiran wayang golek.
Gambar 3.Pentas wayang golek

Seperti telah diterangkan di depan, nama Islam banyak menghapus alam pikiran lama, karenanya seni wayang masih dapat dipelihara terus.  Dan dalam usaha mengembangkan seni wayang sebagai sarana da’wah dan media pendidikan para wali dan Sultan berjasa dalam menciptakan bentuk wayang baru.  Di samping berhasil mengembangkan bentuk rupa wayang, mereka juga mampu memberikan isi dan pesan barudalam lakon wayang dengan aspek-aspek pandangan falsafah baru.  Lakon wayang yang bersumber pada cerita Islam seperti cerita Nabi dari Kitab Ambiya dibutuhkan bentuk sumber rupa baru yang dikenal dengan nama wayang Dobel.  Demikian pula wayang Wahana dan wayang yang menyebabkan Islam berhasil menciptakan bentuk rupa dan isi lakon baru adalah karena keduduan wayang yang telah membudaya dalam masyarakat seperti yang telah diterangkan di depan.  Meskipun Islam tidak mengakui jenis kepercayaan yang animistik dan bersifat Hindu/Budha, namun Islam tidak menolak wayang sebagai  media pendidikan.  Dalam hal ini para mubalig dan para pemimpin masyarakat Islam, sesuai dengan kepentingan politik pemerintahannya, memakai dan mengembangkan seni wayang.  Karenanya seni wayang sebagai bentuk kesenian klasik dapat kesempatan untuk berkembang terua di pusat-pusat pemerintahannya, di samping jenis kesenian klasik lainnya.  Hasil dari pembinaan dan penyebaran jenis seni klasik ini, timbullah berbagai langgam atau gaya seni wayang kulit atau wayang golek dari Surakarta yang berbeda dengan gaya dari Yogyakarta atau dari Cirebon.  Perbedaan gaya seni ini meliputi kepandaian teknik sesuai dengan pengaruh tradisi seni daerah setempat.  Sejalan dengan timbulnya berbagai gaya wayang, timbul pula jenis-jenis wayang baru yang mengambil lakon baru pula.  Ada lakon yang bersumber pada cerita pokok dari wayang lama, cerita tentang agama, cerita tentang sejarah sampai kepada cerita tentang kehidupan binatang.
gambar 4. Pentas wayang kulit


pustaka:
prof. Dr. wiyoso Yudoseputro
Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia
Angkasa – Bandung 2000

Senin, 05 Januari 2015—14:31 WIB
Slamet Priyadi
Di Pangarakan, Bogor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar