Sabtu, 11 Juni 2016

BE VERSI SOSOK SRIKANDI KARYA : Ki SLAMET 42

Blog Ki Slamet 42 : Kita Semua Wayang

Minggu, 12 Juni 2016 - 10:32 WIB








“BE VERSI SOSOK
SRIKANDI”
Karya : Ki Slamet 42

Ada cerita tentang tokoh wayang Srikandi
Piturut wiracarita Mahabharata dari Hindi
Wanita nan pemberani berperilaku laki-laki
Bersuka wanita nan juga berperangai banci
Nikahi seorang puteri yang tahunya ia lelaki

Ketika sang putri tahu siapakah sang suami
Dia berang bukan kepalang  Srikandi dimaki
Betapa amat malu  dan terhinanya Srikandi
Ia keluar dari kamar berlari ingin bunuh diri
Putus asa hati sakit rasa tiadakan terobati

Dalam duka nestapa dan sakit tiada terperi
Beruntung ada seorang lelaki yang baik hati
Mau menikah dengan Srikandi sepenuh hati
Dan mereka berdua sepakat bersuami isteri
Meski bertukar kelamin harus mereka jalani

Tapi piturut versi wiracarita wayang Jawani
Dia, Srikandi betul asli seorang puteri sejati
Puteri dari  Prabu
Drupada dan Gandawati
Yang konon tercipta dari  api puja dan puji
Saat lahir  telah
genggam busur panah sakti


Dalam perjalanan waktu  puteri Pancala ini
Tumbuh menjadi gadis lincah kenes geregeti
Ketika ia belajar manah sang guru jatuh hati
Begitulah jua Srikandi cinta mereka bersemi
Gurunya sang Arjuna sunting jadikan ia istri

Maka  Srikandi
diboyong  Arjuna sang suami
Ke Ksatriaan Madukara tinggallah sami-sami
Isteri Arjuna lainnya Sumbadra dan Larasati
Kemampuan memanah yang begitu mumpuni
Buatlah ia  dipercaya
jadi Ksatriaan sekuriti


Di perang Bharatayuda Srikandi jadi Senopati
Ia berhasil bunuh Bhisma  dengan panah sakti
Meski semua itu atas kemauan Bhisma sendiri
Sebab di wajah Srikandi muncul  Amba Dewi
Wanita yang tewas dibunuh sang Bhisma Resi

Tapi  Srikandi
pun bernasib tragis  tewas mati
Dibunuh Aswatama putera terkasih sang Resi
Yang menyelinap ke kemah Srikandi malam hari
Selepas kecamuknya perang Bharatayuda usai
Yang membuat berang dan dendam sang suami


Bumi Pangarakan,
Bogor
Minggu, 12 Juni
2016 – 09:33 WIB
 




SAJAK PUISI KI SLAMET 42 : BE VERSI SOSOK SRIKANDI KARYA : Ki SLAMET 42: Blog Ki Slamet : Sajak Puisi Ki Slamet 42 Minggu, 12 Juni 2016 - 10:02 WIB Srikandi   “BE VERSI SOSOK SRIKANDI” Karya : Ki Slam...

Selasa, 07 Juni 2016

ABRAHAM LINCOLN PRESIDEN AS KE 16 ( 1809 - 1865 )

Blog Ki Slamet : Kita Semua Wayang
Selasa, 07 Juni 2014 - 14:20 WIB

 
PRESIDEN AMERIKA SERIKAT KE 16
ABRAHAM LINCOLN ( 1809 – 1865 )
Abraham Lincoln (1809-1865)
Mengapa tidak ada suatu keyakinan yang sabar mengenai keadilan yang pokok bagi rakyat? Apakah ada harapan yang lebih baik atau sama di dalam dunia ini? 
(—PIDATO PELANTIKAN, 1861 —)
Diahirkan :
Di Hardin County, Kentucky, 12 Pebuari 1809
Pendidikan :
Belajar sendiri/oto didak
Kawin :
Dengan Mary Todd, 1942
Karier :
-          Penyidik, Kepala Pos, Kapten dalam Perang Black Hawk, 1831 - 1937
-          Anggota DPR Illinois, 1834 – 1842.
-          Pengacara 1837.
-          Anggota Kongres, 1847 - 1849.
-          Presiden, 1861 - 1865.
-          Duta Besar untuk Belanda tahun 1780.
Meninggal :
Di Washington, D.C. 15 April 1865
Dalam sejarah tidak ada contoh yang lebih dramatis menyamai terpanggilnya seorang tokoh maju ke depan untuk menghadapi tantangan krisis berat yang mengancam, dari pada munculnya tokoh Abraham Lincoln, yang laksana tokoh dalam cerita dongeng timbul dari kegelapan ke permukaan sejarah, menjadi Presiden dari suatu negara yang mau rubuh. Halangan-halangan laksana raksasa menghadang di depannya. Dia lahir di kalangan rakyat sederhana, kurang pengethuan, miskin, dan hidup di dalam hutan daerah perbatasan. Dia sama sekali tak mempunyai hal yang menguntungkan atau perhubungan. Da terlalu sederhana untuk bisa menjadi kesayangan sebagai politikus profesional. Pribadinya penuh teka-teki, terlalu pilosofis, sangat pelucu untuk menjadi tokoh yang terkenal. Tetapi nasib tidak bisa dihalang-halangi. Bagaimanapun juga Lincoln diangkat menjadi Presiden, sebagai calon kedua dari sekian banyak calon lainnya. Melalui suara pemilih yang kurang dari suatu mayoritas dia akhirnya menjadi Presiden dalam 1860.
Keuar dari tahun-tahun awal kemiskinan dan percobaan, muncul seorang tokoh yang secara unik memperlihatkan kemampuan menghadapi ancaman perang saudara. Orangnya sangat jujur, punya kesadaran yang tinggi, dan kecakapan mengagumkan, dan seorang yang mempunyai rasa kemanusiaan yang mendalam. Setelah 18 bulan pertama dalam jabatannya, Lincoln menjadi seorang yang kuat dan efektif sebagai pemimpin. Dia teguh dalam pendirian, bijaksana dan meyakinkan. Tetapi di atas segalanya itu, dia mempunyai pandangan yang jauh. Dia melihat Amerika Serikat dalam dimensinya yang terbesar sebagai percobaan yang terbaik dalam demokrasi. Dalam sejarah tirani dan penindasan yang panjang, pada diri tokoh ini orang melihat bersinarnya cahaya harapan. Baginya cita-cita besar demokrasi itu mengurangi perbedaan daerah. Keyakinan Lincon yang mendalam mengenai nilai bertahan dalam percobaan ke pemerintahan bebas meneguhkan hatinya selama peperangan bertahun-tahun lamanya itu di medan perang Gettysburg hal terebut mendorongnya untuk memperlihatkan kepada dunia sinar pandangannya mengenai kebesaran negerinya yang sejati itu; “suatu negara yang dibangun dalam kemerdekaan dan diabdikan kepada pendirian bahwasemua orang diciptakan sama,” dan pikirannya yang teguh untuk berjuang mempertahankan Kesatuan Negara. “Pemerintahan rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat itu, tidak akan lenyap dari muka bumi.”  Pernyataan Gettysburg, yang merupakan pernyataan politik dan kemanusiaan yang agung dan sejati sepanjang masa, memperlihatkan ketulusan, kesederhanaan dan keagungan yang sejati yang menandai Lincoln sebagai salah seorang Presiden Amerika Serikat yang terbesar.
Selama pemerintahan Lincoln, penduduk Amerika Serikat tahun 1861 berjumlah 32,350,627 jiwa  dan pada tahun 1865 berjumlah menjadi 35, 700,678 jiwa
Pustaka:
Vincent Wilson Jr. 1982. “The Book Of The Presidents”
 “Presiden-Presiden Amerika Serikat”
Alih Bahasa oleh Drs. Abdullah Amry
Penerbit Mutiara Jakarta – Cetakan kedua 1982
Sabtu, 30 April 2016 – 12:21 WIB
Slamet Priyadi di Pangarakan, Bogor

Rabu, 04 Mei 2016

“KAKAWIN BHARATA-YUDHA” PUPUH XLII ( 1 – 9 ) RAJA SALYA PERLAYA

Blog Ki Slamet : Kita Semua Wayang
Rabu, 04 Mei 2016 - 21:51 WIB 

Raja Salya Sais Kereta

“KAKAWIN BHARATA-YUDHA”
PUPUH XLII   ( 1 – 9 )
 RAJA SALYA PERLAYA
Transkripsi
Terjemahan Bebas
1
Mangkat Çri Nrépa Dharmaputra ratha kanakamaya.
Bék ghor kumwa prawira padda gadgada muwah umasö.
Génndding gong gumuruh gubar kakêrérug saha surak anguhuh.
Ttongttong grit lakuning rathâҫwa gaya ghǔrnnita makagarabag.s
1
Berangkatlah Raja Yudhistira, anak Dewa Dharma dengan mengendarai kereta perang berkilau mas. Dalam sekejap mata hal tersebut telah membangkitkan semangat dan keyakitan para prajurit Pandawa untuk dapat memenangkan pertempuran. Gamelan dan gong dipukul-pukul mengeluarkan bunyi yang bergemuruh, sedangkan canang yang dipukul bersuara riuh, dibarengi dengan suara sorak yang gegap gempita. Roda kereta perang mengeluarkan bunyi mencicit, sedang suara kuda dan gajah laksana suara halilintar menggelegar dengan lidahnya yang menyambar-nyambar.
2
Sâr sök ring gaganântarâla warayang narapatisumahab.
Rêneêmsyǔhananâng rathâҫwa gaja Korawabala kapusus.
Ndan langgêng hananing ҫarâsura mabherawa mangamah.
Söh lumrêngawuwuh muwah mijil arampak anahut angêmah.
2
Panah-panah Raja Yudhistira memenuhi angkasa menghancurkan kereta kuda dan membinasakan pasukan gajah Kurawa. Panah-panah yang berbentuk raksasa menakutkan itu melesat kian-kemari, menyebar kemana-mana dengan jumlah yang kian bertambah-tambah menyerang, menangkap musuh-musuhnya.
3
Mangkin krodha Yudhishtthirânglêpasakên ҫarawata gumuruh.
Mwang Madrisuta Bhima Phalguna mangêmbuli parêng amanah.
Sakweh sang ratu sang samângguru kabeh sumahab alimunan.
Sâkshât megha lumangkung angrahabi bhâskara sêddêng anêngah.
3
Amarah Raja Yudhistira semakin meluap-luap. Ia melepaskan panah-panah dahsyat bersuara gemuruh. Begitu pula Nakula dan Sadewa, anak Dewi Madrim, Bima dan Arjuna ikut pula menyerang dan bersama-sama mereka melepaskan panah-panahnya. Raja-raja yang memegang peranan penting dalam pertempuran itu juga telah maju menyerang secara bersama-sama, menyerupai mega-mega yang berarak menutupi sinar matahari di siang hari.
4
Lila tan hana rêsnira ng nrêpati Çalya rinêbut inirup.
Tan linggar tuwi nirwikâra kakênan ҫarawara sumaput.
Sing mangsö kabalik têkapning asurâstra binuru pinangan.
Tan pendah kadi larwa-larwan angasut kutug ing apuy agöng.
4
Meski Raja Salya itu diserang bersama-sama dan dikepung, ia tetap gembira tidak takut sama sekali. Ia tidak lari meninggalkan medan pertempuran, ia bahkan tidak bergerak, sekali pun tubuhnya telah terkena panah-panah yang dahsyat. Siapa pun yang mendekatinya dipukul dan dikejar-kejar oleh panah-panah Raja Salya yang berupa raksasa yang akan menelannya, laksana laron-laron yang berjatuhan di atas api yang berkobar-kobar.
5
Ngkâ Çri Kreshnna kumon Dharmmasuta pustaka lêpasakêna.
Engêt ring wêkasan Yudhishtthira sukâng hati pinituturan.
Tan dwâng sanjata pustakâ kalimahoshadha rinêgêpira.
Sâmpun siddha siniddhikâra mngarah-arab.
5
Pada waktu itu Raja Kresna menyerukan kepada Raja Yudhistira, smsk Dewa Dharma, untuk menembakkan senjata pustaka. Akhirnya Raja Yudhistira menemukan kembali kesadarannya dan ia suka dalam hati, ketika ada orang yang memperingatkannya. Dengan sewajarnya ia memegang senjata pustaka yang bernama kalimahoshadha. Mantra telah diucapkan dengan sempurna, sehingga senjata itu memiliki kekuatan gaib menjadi tombak yang dapat mengeluarkan api yang berkobar-kobar.
6
Muntab tejanikâgni yânggêsêngi daityapati ҫarawara.
Têkwan mantra samâdhi tatwani dilahnya matêmahan apuy.
Wruh Çri Çalya yan antakânira gatinya tuwi tan atakut.
Mangkin ҫûta masö surângiwuh amâhi ҫarawara pênuh.

6
Apinya menyala-nyala membakari panah-panah dahsyat yang berbentuk raja-raja raksasa. Begitu pula sifat dari sinar api itu adalah mantra samadi, sehingga akhirnya menjadi kobaran api. Salya tahu, bahwa kematiannya telah tiba, akan tetapi ia tidak takut. Sebagai pahlawan ia maju ke muka dan dengan tidak menghiraukan apakah tujuannya tepat ia menembakkan panah-panah yang dahsyat, sehingga angkasa pun nampak dipenuhi oleh panah-panah pustaka.

7
Sakwehning panah Indrajâla kinênâkênira pamahuwus.
Dudû ng parwwata bahni len bujagapâҫa mawilêt asulam.
Yângrêncêm bala peka tan hena wênang mulat i sira n amuk.
Iwir Kâlantaka ring yugânta malapâhyun amangana jagat.
7
Ia menggunakan segala macam upaya sebagai jalan terakhir, di antaranya berupa gunung api dan tali berupa ular yang melilit-lilit saling berjalinan. Semuanya telah menghancurkan prajurit yang berjalan dan tidak ada seorangpun yang berani menatap wajahnya selama ia mengamuk, seperti dewa maut pada akhir zaman Yuga yang dengan laparnya yang mau menelan dunia.

8
Yekân ҫighra dinuk ring astrawara pustakamaya lumarap.
Mabhrâpan manni hemaddanndda sang ahulun.
Tan pendah kadi wangkawânginum i râh nrêpati mamulakan.
Ndah ҫaktinya ri jiwanitramantuk ing amarapada.
8
Raja Salya pada waktu itu telah terkena panah dahsyat pustaka terbang. Senjata itu berapi-api karena merupakan suatu alat pemukul yang terdiri dari manikam, mas dan tertanam dalam dada Raja Salya. Keadaannya tiada beda dengan biang lala yang minum darah Raja Salya yang keluar seperti air mancur. Kesaktian Raja Salya dengan diantar oleh roh sang raja kembali ke sorga dewa-dewa.

9
Byaktan dewa muwah nareҫwara patêr gumuruh awurahan.
Linnddu bhûmi kuwung-kuwung mangadêg ing gagana saha kêtug.
Nishttânyan panêngah tikang rawi sirêm mâwêtu riris alit.
Akweh manggala sang krêthâ n umulih ring amarabhawana.
9
Dengan sewajarnya Raja Salya menjadi dewa lagi; kejadian ini disertai oleh suara halilintar yang riuh rendah. Berguncanglah bumi, dan tiang-tiang api berdiri tegak di angkasa disertai suara guruh yang lemah lembut. Sekali pun Matahari berada di puncak langit suasananya gelap dan hujan pun turun rintik-rintik. Banyaklah pertanda baik untuk Raja Salya yang telah menyelesaikan kewajibannya pada waktu ia kembali ke alam dewa-dewa.


Pustaka :
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto
Kakawin Bharata-Yuddha, Bhratara – Jakarta 1968

Bumi Pangarakan, Bogor
Rabu, 04 Mei 2016 – 21:03 WIB