Selasa, 14 Januari 2020

Ki Slamet 42: WATAK DAN PERILAKU TOKOH WAYANG PANDAWA LIMA

Blog Ki Slamet 42 : Kita Semua Wayang
Rabu, 15 Januari 2020 - 09'08 WIB

Image "Pandawa Lima (Foto: Google)
Pandawa Lima
Di dalam buku Karakter Tokoh Pewayangan Mahabharata, tulisan Sri Guritno – Purnomo Soimun Hp., beliau memaparkan bahwa tokoh pewayangan yang terdapat dalam cerita Mahabharata terdiri dari sejumlah besar pribadi yang watak dan karakternya beraneka ragam.
Keanekaragaman tersebut dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu :
1.            Tokoh pewayangan yang mempunyai watak yang baik, dan
2.            Tokoh pewayangan yang mempunyai watak buruk.
Simbol tokoh pewayangan yang mempunyai watak baik terdapat pada kelompok dan para tokoh Pandawa, sedangkan simbol tokoh yang berwatak buruk terdapat pada kelompok dan para tokoh Kurawa.
Tokoh para Pandawa adalah keturunan Pandudewanata, raja Astina yang mempunyai dua istri. Istri pertama bernama Dewi Kunti atau Dewi Prita, seorang puteri dari kerajaan Mandura yang dipersunting Pandudewanata setelah ia berhasil memenangkan sayembara memanah yang diadakan oleh kerajaan Mandura tersebut. Dari permaisuri pertamanya inilah lahir tiga orang putera yang diberi nama Yudistira, Bima, dan Arjuna.
Permaisuri kedua bernama Dewi Madrim, seorang puteri dari kerajaan Mandaraka yang dipersunting oleh Pandudewanata setelah ia dapat mengalahkan kesaktian Narasoma dalam suatu sayembara tersebut. Dari permaisuri kedua, Dewi Madrim inilah lahir putera kembar yang diberi nama Nakula dan Sadewa. Kelima putera dari kedua permaisuri Pandudewanata inilah yang dalam jagat pewayangan dikenal dengan nama Pandawa Lima.
Seperti telah dikatakan bahwa tokoh Pandawa Lima dikenal sebagai tokoh yang mempunyai watak dan perilaku yang baik. Akan tetapi, apabila dikaji secara individu masih memiliki sifat yang kurang sempurna dalam arti sifat yang tidak baik. Seperti tokoh Yudistira misalnya, putera tertua Pandawa Lima ini dikenal sosok yang memiliki tingkat kesabaran yang amat tinggi, mampu menguasai diri secara sempurna, suka bersamadi, tidak pernah bertengkar, berbudi luhur, dan tidak pernah menolak permintaan seseorang sesederhana apapun.
Oleh karena sifat dan wataknya yang tidak pernah menolak permintaan orang lain inilah Yudistira menerima tantangan Duryudana untuk bermain judi dadu. Dimana dalam permainan judi dadu yang penuh dengan kecurangan ini Yudistira mengalami kekalahan, yang pada akhirnya istri dan adik-adiknya yang dipertaruhkan dalam perjudian itu menjadi orang buangan di hutan selama tiga belas tahun.
Begitupun halnya dengan Tosok Bima. Dalam jagat pewayangan Bima dikenal sebagai pahlawan perang yang disegani lawan. Kejujurannya tidak pernah tergoyahkan. Kestiaannya dan ketabahannya membuat dirinya menjadi sosok yang dikagumi. Ketabahan dan kesetiaannya teruji dalam cerita Dewa Ruci. Sebuah cerita Mahabharata yang mengisahkan tentang avonturisasi Bima dalam melaksanakan perintah gurunya Begawan Drona untuk mencari Tirta Prawitasari (air pengehidupan), diri sendiri, dan Tuhan. Akan tetapi di balik semuanya itu, sesungguhnya Bima sosok yang egois, karena kata-katanya selalu menggunakan kata “Aku”. Selain itu, Bima adalah seorang pembohong dan senang sekali makan (gembul).
Dari paparan di atas maka sebagaimana pernyataan Anderson (1976), bahwa para tokoh Pandawa Lima pun tidak luput dari kritik itu memang benar adanya. Hal ini karena sifat dan watak tokoh Arjuna selain memiliki berbagai kelebihan juga mempunyai kekurangan-kekurangan. Akan tetapi jika watak dan karakter kelima tokoh Pandawa Lima itu disatupadukan akan terbentuk watak dan karakter tokoh pewayangan yang sempurna. Perpaduan kelima watak dan karakter inilah yang akhirnya dalam perang Bharatayuda pihak Pandawa menang melawan pihak Kurawa.
Perpaduan kelima watak dan karakter, persatuan dan kesatuan yang dimaksud di sini adalah bersatunya kesatuan spiritual. Persatuan dan kesatuan tersebut dapat menumbuhkan kekuatan spiritual yang jauh lebih kuat daripada kekuatan fisik, sebagaimana terlihat dalam perang Bharatayuda. Meskipun dalam perang Bharatayuda tersebut para Kurawa yang berjumlah seratus orang di bawah pimpinan Duryudana mempunyai pasukan yang luar biasa besarnya yang dibantu pula oleh para raja-raja dari negeri-negeri sahabat, akan tetapi ternyata tidak dapat menaklukkan persatuan dan kesatuan para Pandawa. Dalam kata lain, kekuatan dharma yang pada akhirnya dapat memenangkan perang Bharatayuda, bukan kekuatan fisik yang tercermin dalam diri para Kurawa.

—KSP 42—
Rabu, 15 Januari 2020 – 08.17 WIB
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan, Lido – Bogor

P u s t a k a :
Sri Guritno – Purnomo Soimun Hp.      
“Karakter Tokoh Pewayangan Mahabarata”
Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata
Jakarta 2002