Sabtu, 10 Desember 2011

Tizar Purbaya, Dalang Sekaligus Kreator Wayang Golek Betawi Masa Kini | www.indopos.co.id | Wayang, Tizar, Golek, Betawi, Dalan


PDFPrint


















 Adegan Perkelahian, Tubuh Wayang pun Bisa Berdarah
 

Di antara beberapa dalang yang berani menabrak pakem, Tizar Purbaya adalah salah satunya. Seperti halnya dalang wayang kulit Enthus Susmono asal Tegal yang fenomenal, lelaki 61 tahun itu juga punya cara agar penonton betah menyaksikan pertunjukannya.

Gara-gara gayanya yang khas itu, dia kerap diundang manggung di luar negeri.RUMAH di Jalan Danau Indah, Sunter Selatan, Jakarta Utara, itu tak seberapa besar. Mungkin setara dengan rumah tipe 40. Ruang depan hingga tengah rumah tersebut, setiap mata memandang, dipadati ratusan wayang golek. Mulai wayang golek purwa dan menak kebumen, wayang suket, hingga wayang golek purwa dan cepak cirebon. Tizar, si pemilik rumah itu, rupanya, tidak mau menyisakan sedikit pun ruang mata nya tanpa pajangan wayang. Wayang bagi lelaki 61 tahun itu adalah jiwanya.

Dia dalang sekaligus pembuat wayang golek. Bahkan, Tizar menyebut dirinya sebagai penggagas wayang golek betawi. ”Di Betawi, ada wayang. Seperti wayang kulit, bukan wayang golek,” tutur dia. Sebagai dalang sekaligus pembuat wayang golek, Tizar termasuk kreatif. Tokoh-tokoh wayang golek betawi kreasi Tizar diberi kostum yang berbeda. Misalnya, ada yang diberi kemeja, celana panjang, kebaya, sarung, dan peci.
Tokoh-tokohnya pun sudah tidak asing bagi warga Betawi. Salah satunya adalah si Pitung. Ketika membawakan lakon pewayangan, Tizar juga kerap menampilkan tokoh yang akrab bagi pemirsa televisi. Misalnya, si Manis Jembatan Ancol, Sinchan, hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). ”Tetapi, itu dalam penampilan tertentu,” terang Tizar sambil merapikan wayang-wayangnya Selain berinovasi dengan membuat nama- nama tokoh baru yang merujuk kepada sosok populer di media massa, Tizar kerap membuat atraksi menarik ketika mendalang. Misalnya, ketika membawakan adegan perkelahian antarpendekar, kepala pendekar yang kalah dibuat hancur betulan oleh Tizar. Bahkan, dua bola mata pendekar itu sampai keluar. Terobosan tersebut membuat wayang yang dimainkan oleh Tizar seperti benar-benar hidup. Saat si tokoh terkena sabetan pedang, Tizar juga piawai membuat ”efek” sehingga cairan seperti darah keluar dari perut wayang.

”Inovasi itu penting agar penonton betah menonton wayang,” katanya. Sebagai pembuat wayang, Tizar bangga karena produknya sudah dipesan beberapa kali oleh sekolah-sekolah di Amerika Serikat (AS). Sekolah-sekolah Tiongkok bertaraf internasional di Jakarta pun kerap mengundangnya untuk tampil. Sayang, dalam daftar jadwal manggungnya, sama sekali tidak ada sekolah negeri atau swasta di Jakarta atau daerah lain yang mengundangnya.

Meski demikian, Tizar tidak mempersoalkannya. ”Jadi, saya lebih dikenal di sekolah asing daripada sekolah dalam negeri,” ujarnya sambil terkekeh. Tizar sangat menekuni dan menikmati dunia tersebut karena sangat menggandrungi wayang sejak kecil. ”Saya sering menonton pertunjukan wayang kulit betawi di pasar-pasar. Saat kecil, saya sering diajak ibu berjualan di pasar,” tutur lelaki yang lahir dan tumbuh di Banten itu.

Kegandrungan terhadap wayang tersebut dia teruskan ketika beranjak dewasa. Saat itu dia mendalami kesenian pedalangan di sekolah nonformal di Taman Ismail Marzuki (TIM). Di TIM, Tizar menimba ilmu kesenian kepada (alm) Arifin C. Noor. Di tempat itu pula, dia mendapatkan bekal kesenian yang luas. Bukan hanya pengetahuan tentang dunia pedalangan, tetapi juga ilmu teater dan seni peran.

Dia mengaku satu angkatan dengan Dedi Mizwar saat itu. Tizar juga berlatih seni peran dengan (alm) Benyamin Sueb. Akhirnya, pada 1970 Tizar memberanikan diri tampil di depan umum sebagai dalang wayang golek purwa. Dia tampil dalam pergelaran Pekan Wayang II di TIM. ”Saat itu saya belum menciptakan wayang golek betawi,” papar dia. Dengan kemampuan yang saat itu paspasan, Tizar memberanikan diri mengganti bahasa Sunda ke bahasa Indonesia ketika mendalang. ”Kebanyakan dalang menyalahkan langkah saya. Tetapi, penonton malah setuju,” ujarnya.

Dari keberanian itu, karir Tizar sebagai dalang wayang golek semakin moncer. Dia bahkan diundang untuk unjuk gigi di Jepang, India, Thailand, dan AS. ”Saya diundang langsung. Tidak melalui pemerintah,” ujar dia. Ketika tampil di luar negeri itulah, Tizar mendalang dalam bahasa Inggris. Bahkan, dia pernah menggunakan bahasa Jepang, India, dan Thailand untuk mendalang ketika manggung di negara-negara tersebut. Selain banjir order manggung, Tizar mendapat banyak order untuk menduplikat wajah tokoh-tokoh nasional dan mancanegara menjadi wayang golek.

Ketika terjadi demonstrasi besar-besaran yang menuntut reformasi pada 1998, Tizar mendapat order menduplikat wajah tokohtokoh Orde Baru dan tokoh-tokoh gerakan nasional lain. ”Tokoh-tokoh yang dipesan itu sudah saya bikin, tetapi sampai sekarang belum diambil,” terang lelaki yang pernah beradu akting dengan Benyamin dalam film berjudul Pinangan itu. Tizar juga membuat wayang golek dengan wajah mantan Presiden AS George W. Bush dan Presiden AS Barack Obama. Khusus wayang golek betawi, Tizar menyatakan diminta manggung oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada 10 April 2001.
Dia manggung di Galangan Kapal VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), Jalan Kakap Nomor 1, Penjaringan, Jakarta Utara. Dia membawakan lakon Si Jampang. Penontonnya saat itu adalah para duta besar negara sahabat, para anggota DPRD DKI Jakarta, serta masyarakat seni. Jumlahnya 200-an orang. Ketika adegan Jampang berkelahi dengan Mandor Jun, kreativitas Tizar muncul. Di tangan Tizar, wayang golek dengan tokoh si Jampang itu bisa mengeluarkan golok dan menusukkannya ke kepala Mandor Jun. Atraksi-atraksi seperti itulah yang membuat Tizar disukai penonton. Kini pertunjukan wayang golek betawi Tizar tidak hanya dinikmati di kampungkampung, tetapi sudah merambah ke gedung- gedung bertingkat.
Dia menerangkan, dalam beberapa kesempatan dirinya diundang untuk mendalang di acara perpisahan pemimpin perusahaan top lokal dan asing. Selain itu, Tizar kerap diundang untuk tampil pada upacara perkawinan. Saat tampil di acara resepsi pernikahan, dia diminta membuat replika wayang golek yang menyerupai mempelai. Biasanya, tokoh utama lakon yang dia mainkan adalah kedua mempelai.

Cerita sederhananya, mempelai laki-laki menyelamatkan mempelai perempuan dari drama penculikan. Saat ini, di tengah usia yang semakin senja, Tizar ingin terus menghidupkan wayang golek betawi. Kala kondisi kesehatannya labil pun, dia harus mempersiapkan penampilannya pada 21 Juli mendatang di Museum Wayang Kota Tua, Jakarta. ”Bapak baru terserang stroke dua kali,” ujar Rocky, salah seorang putra Tizar.

Dalam penampilan tersebut, Tizar akan membawakan lakon Si Jampang dengan episode baru, yang ceritanya dirahasiakan. Di tengah persiapan tersebut, kendala lain yang dihadapi Tizar adalah sulitnya mencari sinden baru. Tizar memaparkan, mencari sinden yang benar-benar bisa nyinden dan membawakan gambang keromong cukup sulit. Di sisa hidupnya, dia berusaha tetap mempertahankan wayang golek betawi agar tak punah. (c11/kum)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar