Jumat, 23 Oktober 2015

“ILMU SIASAT PERANG DALAM KAKAWIN BHARATA-YUDHA” Oleh : Prof. Dr. R.M. Sucipto Wirjosuparto



denmaspriyadi.blogspot.com - Jumat, 23 Oktober 2015 


Betoro Kresno Ahli Siasat


“ILMU SIASAT PERANG DALAM KAKAWIN BHARATA-YUDHA”
Oleh : Prof. Dr. R.M. Sucipto Wirjosuparto

            Pada waktu bangsa Indonesia mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda dalam perang –perang kolonial, seperti pada waktu perlawanan Sultan Hasanuddin dari Makasar, Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengku Buwana I), Perang Dipanegara, Perang Padri, Perang Aceh dan lain-lainnya melawan Belanda, siasat perang bangsa Indonesia telah mengejutkan pihak lawan, karena tidak disangka oleh pihak penjajahBelanda, bahwa bangsa Indonesia memiliki akal yang cerdas untuk menghadapi seranga musuh dalam pertempuran kecil, khususnya dalam perang gerilya 1), seperti  yang telah diuraikan oleh Jendral A.H. Nasution. dijelaskan nasution.  A.H.  NASUTION.  Sekalipun perang gerilya merupakan perang yang Hebat dan memeras otak dari pihak yang mengadakan gerilya, perang ini secara sendiri belum dapat memberi pukulan terakhir kepada musuh, karena kemenangan terakhir hanya bisa tercapai dengan tentara yang teratur dengan serangan-serangan yang berbentuk frontal dan perang kecil.

                Karena perang melawan musuh itu dalam sejarah tidak hanya merupakan perang fisik-militer, akan tetapi juga merupakan perang diplomasi, politik, psychologis dan sosial-ekonomis, tibullah pertanyaan darimana gerangan bangsa Indonesia itu mempelajari siasat perang, apabila mereka itu dalam sejarah mengadakan perang frontal dan gerilya terhadap angkatan perang Belanda.  Dengan perkataan lain, disamping adanya faktor semangat menyala-nyala untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dari serangan luar dari pihak manapun juga, pastilah bangsa Indonesia itu memiliki kitab-kitab mengenai siasat perang yang bersifat khusus atau terselip dalam beberapa kitab kesusasteraan.

                Apabila dikatakan, bahwa kitab kesusasteraan itu menjadi dasar pengetahuan siasat perang, hal itu memang benar, karena pada zaman kuno belum ada lembaga pendidikan seperti pada waktu sekarang, segala macam pendidikan itu diambil dari isi kitab kesusasteraan yang diberi penafsiran sesuai dengan il,u yang diajarkan, seperti moralitas, ilmu negara, ilmu hukum, ilmu siasat perang dan sebagainya.  Sudah barang tentu, karena ajaran-ajaran tersebut tidak disusun secara sistematis, dibawah pimpinan seorang guru otak setiap pelajar pada waktu yang lampau dilatih berdasarkan atas kitab-kitab kesusasteraan mengenai sesuatu mata pelajaran dan mencari kesimpulan sendiri dan apa yang diajarkan.

                Dari kesusasteraan Indonesia kuno ada beberapa bukti, bahwa Indonesia itu telah mengenal siasat perang.  Suatu pengertian siasat perang yang penting diketemukan dalam kitab kakawin Arjuna-wiwaha dari abad 11 dan kitab Nitisastra dari abad 14 dan sekitarnya, keduanya dalam bahasa Jawa kuno yang masing-masing memuat istilah sama-bheda-ddanndda .  pengertian siasat perang  dalam kesusateraan Jawa kuno itu diambil dari kesusateraan India, ialah dari kitab Arthasastra ciptaan Kauttilya dalam bahasa sansekerta, ialah kitab yang mengajarkan tentang pengetahuan politik, termasuk politik menghancurkan musuh.  Kitab ini rupanya menjadi kitab pegangan dalam lapangan ilmu politik yang dikerjakan oleh keluarga raja-raja Gupta yang pernah mempersatukan sebagian besar India.

                Menurut ajaran sama-bedha-ddanndda dirumuskan, bahwa setiap kepala negara yang ingin membinasakan lawannya wajib mencari sekutu (sama) di antara negara-negara yang berhubungan baik.  Telah diperhitungkan, bahwa pada waktu perang dengan negara-negara lain, negara-negara yang telah terikat oleh ‘sama’ itu sedikitnya bersikap  netral, bahkan dapat diharapkan adanya sokongan dan bantuan dari negara-negara tersebur.  Siasat kedua dari ‘sama-bedha-ddanndda’, ialah siasat ‘bheda’ yang berarti memecah belah dan memerintah, yang kurang lebih sama dengan pengertian divide et impera.  Sebab apabila tujuan mengadu domba musuh itu telah tercapai, sampailah waktunya untuk mempraktekkan ‘ddanndda’ atau pukulan, ialah pukulan terakhir kepada musuh yang telah lemah itu.

 B e r s a m b u n g

Pustaka:
Prof. Dr. Sutjipto Wirjosuparto "Kakawin Bharata-Yudha"
Penerbit Bhratara - Jakarta 1968 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar