Sabtu, 24 Oktober 2015

ILMU SIASAT PERANG DALAM KAKAWIN BHARATA-YUDHA 3 Oleh : Prof. Dr. R.M. Sucipto Wirjosuparto



1Kita Semua Wayang - denmaspriyadi.blogspot.com - Sabtu, 24 Oktober 2015 - 21:45 WIB

.       walaya wyǔha, susunan tentara seperti  Sǔimukha wyǔha, hanya ajabarisannya terdiri 2 lapisan,
2.       ajaya wyǔha, susunan tentara yang tidak terkalahkan,
3.       sarpasari wyǔha, susunan tentara seperti ular (sarpa) yang bergerak (sari),)
4.       gomǔtrika wyǔha, susunan tentara yang berbentuk arah terbuangnya air kencing (mǔtrika) sapi (go),
5.       syandana wyǔha, susunan tentara yang menyerupai kereta (syandana),
6.       godha wyǔha, susunan tentara yang menyerupai buays (godha),
7.        wâripatantaka wyǔha, susunan tentara sama seperti syandana wyǔha, hanya semua pasukan terdiri dari barisan gajah, kuda dan kereta perang,
8.       Sarwatomukha wyǔha, susunan tentara yang berbentuk lingkaran, sehingga pengertian sayap, lambung dan bagian depan tidak ada lagi; sarwato dari kata sarwata yang berarti seluruh, sedangkan mukha berarti arah,
9.       Sarwatabhadra wyǔha, susunan tentara yang serba (sarwata) menguntungkan (bhadra),
10.   Ashttanika wyǔha, susunan tentara yang terdiri dari 8 divisi ( assatt atau assashttanika berarti delapan)
11.   Wajra wyǔha, susunan tentara menyerupai petir (wajra) dan terdiri dari 5 divisi yang disusun terpisah-pisah satu dari yang lain,
12.   Udyâ wyǔha, susunan tentara menyerupai taman (udyânaka) yang juga disebut kâkapadi wyǔha, artinya susunan yang berbentuk kaki (padi berarti berkaki) burung kaka-tua (kâka) dengan ketentuan bahwa susunan tentara ini terdiri 4 divisi,
13.   Ardhacandrika wyǔha, susunan tentara yang berbentuk bulan sabit, juga disebut ardhacandra wyǔha ; ditentukan bahwa susunan tentara ini berdasarkan atas 3 divisi,
14.   Karkâttakaҫrênggi wyǔha, susunan tentara yang berbentukkepala (ҫrêngga) udang (karkâttaka),
15.   Artisa wyǔha, susunan tentara yang serba menang (arista) dengan susunan garis depan yang ditempati oleh barisan kereta perang, barisan gajah, sedang barisan kuda menempati garis belakang,
16.   Acala wyǔha, susunan tentara yang tidak bergerak, ialah suatu susunan tentara dengan menempatkan barisan infanteri, barisan gajah, barisan kuda dan barisan kereta perang satu di belakang yang lain,
17.   Ҫyena wyǔha, susunan tentara sama dengan garudda eyǔha,
18.   Apratihata wyǔha, susunan tentara yang tidak dapat dilawan (pratihata berarti melawan sedangkan ‘a’ berarti tidak) dengan ketentuan bahwa barisan gajah, barisan kuda, barisan kereta perang dan barisan infanteri ditempatkan satu di belakang yang lain,
19.   Capa wyǔha, susunan tentara yang berbentuk busur
20.   Madhya capa wyǔha, susunan tentara yang berbentuk busur dengan inti kekuatan dibagian tengah.

Sebaliknya, di dalam kitab Kamandaka, salah satu kitab dari kesusateraan Jawa kuno disebutkan 8 macam wyǔha, ialah :

1.       Garudda wyǔha                (atau byuha), susunan tentara yang berbentuk garuda,
2.       Singha wyǔha, susunan tentara yang berbentuk singa,
3.       Makara wyǔha,  susunan tentara yang berbentuk makara (udang)
4.       Cakra wyǔha, susunan tentara yang berbentuk cakram,
5.       Padma wyǔha, susunan tentara yang berbentuk bunga seroja,
6.       Wukir sagara wyǔha, susunan tentara yang berbentuk bukit dan samudera,
7.       Ardhanacandra  wyǔha, susunan tentara yang berbentuk bulan sabit,
8.       Wajratikshnna  wyǔha, susunan tentara yang berbentuk wajra atau petir yang tajam.

Di dalam kakawin Bhârata-Yudha disebutkan 10 macam wyǔha, ialah :

1.       Wukir sagara wyǔha (terdapat dalam transkripsi kakawin bharata-Yudha Pupuh X dan XL  2)
2.       Wajratikshnna (Pupuh X  11)
3.       Kagapati wyǔha (Pupuh XII  6)
4.       Gajendramatta atau gajamatta wyǔha (Pupuh XIII  13)
5.       Cakra wyǔha (Pupuh XIII 22 dan XV  21)
6.       Makara  wyǔha ( XIII  24 dan XXVII 2 )
7.       Sǔcimukha wyǔha dalam Pupuh XV  21)
8.       Padma  wyǔha  (Dalam Pupuh XV 22)
9.       Ardhanacandra wyǔha  (Dalam Pupuh XXVI  5)
10.   Kânanja wyǔha  (Dalam Pupuh XL  2)

Ketika perang besar antara keluarga Kurawa dan Padawa dimulai, tentara Kurawa mengambil susunan tentara wukir sagara.  Raja-raja takluk, kerajaan Hastina yang berkendaraan gajah dan kuda merupakan karang laut yang serba kokoh dan kuat, sedangkan serangan prajurit yang bergelombang itu merupakan gelombang samudera yang tiadak ada henti-hentinya.  Susunan tentara ini memerlukan memerlukan sejumlah prajurit yang banyak, bertempur dalam massa yang besar dan memiliki dinamika dan daya tempur yang tinggi, hal tersebut sebagaimana diceritakan dalam Pupuh X  17, yang menyatakan bahwa satu kereta perang diperkuat oleh 10 ekor gajah, sedangkan masing-masing gajah diperkuat oleh 10 ekor kuda dan seekor kuda diperkuat oleh 10 orang prajurit.  Massa yang banyak dengan kuda dan gajah itu menjadi bukit yang kokoh. 

Sebaliknya dalam permulaan perang ini menurut Pupuh X, 11 keluarga Pandawa mengambil susunan tentara yang disebut ‘wajratikshnna wyǔha’, artinya petir yang tajam.  Bima, Arjuna dan Srikandi merupakan ujung petir yang tajam, sedangkan putera-putera Wirata, Uttara dan Sangka, bersama-sama Setyaki serta Drestajumena memimpin pertahanan di belakang.  Yudhistira bersama-sama dengan raja lainnya, — tentunya yang dimaksud ialah Kresna, Nakula dan Sadewa bersama-sama dengan Sweta —, dalam Pupuh X  11 itu dikatakan ada di barisan tengah.  Susunan tentara yang disebutkan dalam kakawin Bharata-Yudha ini berbeda dengan apa yang disebutkan dalam serat Bratayuda Jaewa yang dipergunakan oleh J. Kats sebagai bahan penulisan bukunya.

B e r s a m b u n g

P u s t a k a  :
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto, “Kakawin Bharata-Yuddha”
Penerbit – Bhratara – Jakarta 1968

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar