Jumat, 23 Oktober 2015

ILMU SIASAT PERANG DALAM KAKAWIN BHARATA-YUDHA 2 Oleh : Prof. Dr. R.M. Sucipto Wirjosuparto

"Garuda Wyuha" Bentuk susunan tentara seperti burung garuda

ILMU SIASAT PERANG DALAM KAKAWIN BHARATA-YUDHA 2
Oleh : Prof. Dr. R.M. Sucipto Wirjosuparto

                Karena pengertian sama-bheda-ddanndda disebutkan dalam kitab kakawin Arjunna-wiwaha dan Nitisastra, dijelaskan bahwa siasat perang  sama-bheda-ddanndda itu dikenal dan dipelajari di Indonesia.  Dalam hubungan ini dapat dikatakan, bahwa pengetahuan penggunaan senjata perang itu disebut ‘dhanurweda’ (weda berarti pengetahuan, sedangkan dhanu berarti panah) dan merupakan sebagian dari pengetahuan perang.  Jalan untuk mencapai kemenangan dalam perang dapat diperoleh dengan mempelajari pengetehaun yang dalam kesusateraan Jawa baru disebut pengetahuan ‘jaya-kawijayan’, ialah pengetahuan untuk mendapat kemenangan perang.

                Pengetahuan tentang perang dalam bentuk yang agak kongkrit diketemukan dalam beberapa kitab, di antaranya dalam kakawin Bharata-Yudda yang menyebutkan beberapa bentuk wyuha atau susunan tentara, kitab Nitisastra yang membicarakan cara untuk memilih seorang panglima, dan kitab Nagarakrertagama dari zaman Majapahit yang menguraikan bagaimana raja Hayam Wuruk itu mempertontonkan kepandaian tentaranya yang mendemonstrasikan segala macam ulah perang.  Dari berita-berita yang diketemukan dalam beberapa kitab kesusasteraan Jawa kuno dapat ditentukan dengan pasti, bahwa ilmu siasat perang itu telah dikenal, sedikitnya di daerah Jawa, Bali dan Lombok.

                Sebaliknya di daerah lainnya di Indonesia juga diketahui bahwa ada beberapa kitab yang menunjukkan adanya beberapa pengertian, bahwa siasat perang itu telah dipelajari di Indonesia.  Di dalam kitab sejarah melayu disebutkan, bahwa pada menjelang malam direbutnya kota Malaka yang diserbu oleh angkatan perang Portugis sejumlah banyak perwira muda yang menginginkan supaya kitab Hikayat Mohammad Hanafiah itu dibacakan dengan tujuan untuk memberi semangat kepada mereka karena di dalam kitab Hikayat Mohammad Hanafiah itu banyak disebutkan tentang siasat perang.  Kitab lain dalam kesusasteraan Indonesia kuno yang juga memuat siasat perang, ialah kitab Hikayat Amir Hamzah.  Seperti diketahui, Amir Hamzah adalah paman Nabi Muhammad s.a.w. dan dalam usahanya ikut meluaskan agama Islam,  Amir Hamzah berperang dengan raja-raja di tanah Arab dan negara lainnya.  Seperti telah diketahui, cerita Hikayat Amir Hamzah yang tumbuh di Indonesia itu melalui kesusasteraan Persia.

                Hikayat Amir Hamzah dalam bahasa Melayu itu sedemikian populernya, sehingga melalui Hikayat Amir Hamzah ini disadur suatu cerita baru dalam bahasa Jawa baru pada zaman Mataram Kartasura (kira-kira tahun 1700) dan  terkenal sebagai Serat Menak (Kartasura).  Karena pada waktu  meluasnya agama Islam itu cerita-cerita dari zaman pra-Islam itu agak terdesak, sebagai gantinya tumbuh cerita-cerita Islam yang berpangkal kepada kitab Menak, sehingga R.Ng. Jasadipura ikut menulis menulis cerita Menak dalam bahasa Jawa Baru.  Dengan ini mulai terkenallah tokoh Wong Agung Menak Jayengrana, ialah sebutan Amir Hamzah dalam bahasa Jawa dan pahlawan-pahlawan lainnya seperti Umarmaya, Lamdahur, Hirman, Kelan dan lain-lainnya.

                Disebabkan karena menyadur kakawin Bharata-Yudha menjadi Serat Braratayuda Jarwa, R. Ng. Jasadipura telah mengenal sejumlah banyak nama susunan tentara yang dipakai oleh keluarga Pandawa dan Kurawa, cerita Menak dalam bahasa Jawa baru itu ditambah dengan bagian-bagian yang berbentuk serangan secara frontal dan tahu bagaimana caranya menjebak musuh yang menurut cerita itu dilancarkan oleh pasukan-pasukan yang bersembunyi dan siasat ini sangat populer di antara rakyat biasa dengan istilah ‘baris pendem’.  Contoh-contoh lain dapat diambil dari ‘Babad Ganti’ yang mengisahkan perjuangan Mangkubumi yang dikemudian hari bergelar Hamenku Buwana I  melawan Belanda.  Kecuali disebutkan dalam Babad Ganti sendiri, bahwa Pangeran Mangku Bumi itu seorang ahli  siasat perang, kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang Belanda juga mengakui, bahwa Pangeran Mangku Bumi itu sungguh-sungguh seorang “strateeg”, seperti yang ditunjukkan dalam pertempuran yang terjadi di tepi sungai Bogowonto.

                Contoh-contoh tentang keahlian bangsa Indonesia untuk berperang dapat ditambahkan lagi dengan mengambil tokoh ‘Pangeran Diponegoro’ yang menggoncangkan kedudukan Pemerintah kolonial Belanda.  Apabila pada waktu dikejar oleh tentara Belanda Pangeran diponegoro itu dapat menyelamatkan diri dengan jalan menceburkan diri ke dalam sungai Progo yang sedang tinggi airnya, tetapi dapat memilih bagian yang dangkal, sedangkan tentara Belanda masuk ke dalam sungai ini di bagian-bagian yang dalam, sehingga terpaksa berenang dengan kuda-kudanya sehingga tidak dapat mengejar  kuda yang dinaiki oleh Pangeran Diponegoro, ini disebabkan karena Pangeran Diponegoro mengenal setiap jengkal tanah yang dipergunakan sebagai ajang bertempur melawan Belanda.  Kemenangan ini juga disebabkan karena pasukan-pasukan Pangeran Diponegoro disuruh menyusun barisan pendem dan dapat menghalau serangan tentara Belanda yang mengejar Pangeran Diponegoro.

                Bahwa bangsa Indonesia telah mengenal siasat perang yang juga dimiliki oleh negara-negara besar hal ini telah telah dibuktikan ketika  Sultan Agung bersama tentaranya menyerang benteng kota mengepung Batavia tahun 1628 dengan menggali parit-parit untuk mendekati obyek yang akan direbut dan hal tersebut tentunya telah mengejutkan para serdadu kompeni Belanda.  Berita lainnya yang menunjukkan, bahwa bangsa Indonesia pada abad 17 telah mempunyai organisasi ketentaraan yang disusun rapih dengan tujuan memudahkan pelaksanaan siasat perang disebutkan oleh Dr. De Helen, seorang utusan Belanda yang mengunjungi Karta, ibukota Mataram pada zaman Sultan Agung.  Dikatakan, bahwa apabila ‘gong’ yang ada di empat penjuru di kota ‘Karta’ dipukul, dalam waktu setengah hari dapat dikumpulkan sebanyak 200.000 orang.

                Dari berita-berita itu cukuplah terbukti, bahwa rakyat Indonesia pada waktu lampau memang telah mengenal ilmu siasat perang.  Hanya saja tidak diketemukan kitab-kitan yang menguraikan ilmu ini secara metodis dan sistematis.  Seperti telah dikatakan di atas, seandainya dapat diketemukan berita-beritanya, berita-berita itu ada terselip dalam kitab kesusasteraan Indonesia kuno.  Salah satu buah kesusasteraan Indonesia kuno yang sedikit agak metodis membicarakan siasat perang frontal yang disebut ‘wyuha’, ialah kitab ‘Kakawin Bharata-Yuddha’.

                Menurut kesusteraan India kuno, kitab ‘Arthasastra karya Kauttilya’ menyebutkan beberapa macam wyuha, antara lain ialah :

1.       Ddanddda wyuha, susunan tentara seperti bentuk alat pemukul,
2.       Bhoga wyuha, susunan tentara seperti ular,
3.       Mannddala wyuha, susunan tentara seperti bentuk lingkaran,
4.       Asamhata wyuha, susunan tentara yang bagian-bagiannya terpisah-pisah,
5.       Pradara wyuha, susunan tentara penggempur musuh,
6.       Ddrddhaka wyuha, susunan tentara dengan sayap dan lambung tertarik ke belakang,
7.       Asahya wyuha, susunan tentara yang tak bisa ditembus,
8.       Garudda wyuha, susunan tentara seperti burung garuda,
9.       Sanjaya wyuha, susunan tentara untuk mencapai kemenangan dan berbentuk busur,
10.   Wijaya wyuha, susunan tentara menyerupai busur dengan bagian busur depan yang menjorok ke muka,
11.   Sthulakarna wyuha, bentuk susunan tentara yang menyerupai telinga besar (karna sthula),
12.   Wiҫalawijaya wyǔha, bentuk susunan tentara yang disebut kemenangan mutlak; susunannya sama dengan sthulakarnna, hanya saja bagian depan disusun dua kali lebih kuat dari sthulakarnna wyuha’
13.   Camǔmukha  wyǔha, bentuk susunan tentara dengan bentuk 2 sayap yang saling berhadapan muka dengan musuh (dalam bahasa sansekerta, camǔ berarti satu kesatuan perang),
14.   Jhashãsya wyǔha, bentuk susunan tentara seperti  camǔmuka, hanya saja sayapnya ditarik ke belakang (jhashãsya berarti muka ikan),
15.   Sǔimukha wyǔha, bentuk susunan tentara yang berujung (muka (mukha) seperti jarum (sǔci)   
                                                                                                                                            
 B e r s a m b u n g

P u s t a k a  :
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto, “Kakawin Bharata-Yuddha”
Penerbit – Bhratara – Jakarta 1968

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar