Kamis, 29 Oktober 2015

ILMU SIASAT PERANG DALAM KAKAWIN BHARATA-YUDHA 4 Oleh : Prof. Dr. R.M. Sucipto Wirjosuparto



1.       walaya wyǔha, susunan tentara seperti  Sǔimukha wyǔha, hanya ajabarisannya terdiri 2 lapisan,
2.       ajaya wyǔha, susunan tentara yang tidak terkalahkan,
3.       sarpasari wyǔha, susunan tentara seperti ular (sarpa) yang bergerak (sari),)
4.       gomǔtrika wyǔha, susunan tentara yang berbentuk arah terbuangnya air kencing (mǔtrika) sapi (go),
5.       syandana wyǔha, susunan tentara yang menyerupai kereta (syandana),
6.       godha wyǔha, susunan tentara yang menyerupai buaya (godha),
7.        wâripatantaka wyǔha, susunan tentara sama seperti syandana wyǔha, hanya semua pasukan terdiri dari barisan gajah, kuda dan kereta perang,
8.       Sarwatomukha wyǔha, susunan tentara yang berbentuk lingkaran, sehingga pengertian sayap, lambung dan bagian depan tidak ada lagi; sarwato dari kata sarwata yang berarti seluruh, sedangkan mukha berarti arah,
9.       Sarwatabhadra wyǔha, susunan tentara yang serba (sarwata) menguntungkan (bhadra),
10.   Ashttanika wyǔha, susunan tentara yang terdiri dari 8 divisi ( assatt atau assashttanika berarti delapan)
11.   Wajra wyǔha, susunan tentara menyerupai petir (wajra) dan terdiri dari 5 divisi yang disusun terpisah-pisah satu dari yang lain,
12.   Udyâ wyǔha, susunan tentara menyerupai taman (udyânaka) yang juga disebut kâkapadi wyǔha, artinya susunan yang berbentuk kaki (padi berarti berkaki) burung kaka-tua (kâka) dengan ketentuan bahwa susunan tentara ini terdiri 4 divisi,
13.   Ardhacandrika wyǔha, susunan tentara yang berbentuk bulan sabit, juga disebut ardhacandra wyǔha ; ditentukan bahwa susunan tentara ini berdasarkan atas 3 divisi,
14.   Karkâttakaҫrênggi wyǔha, susunan tentara yang berbentukkepala (ҫrêngga) udang (karkâttaka),
15.   Artisa wyǔha, susunan tentara yang serba menang (arista) dengan susunan garis depan yang ditempati oleh barisan kereta perang, barisan gajah, sedang barisan kuda menempati garis belakang,
16.   Acala wyǔha, susunan tentara yang tidak bergerak, ialah suatu susunan tentara dengan menempatkan barisan infanteri, barisan gajah, barisan kuda dan barisan kereta perang satu di belakang yang lain,
17.   Ҫyena wyǔha, susunan tentara sama dengan garudda eyǔha,
18.   Apratihata wyǔha, susunan tentara yang tidak dapat dilawan (pratihata berarti melawan sedangkan ‘a’ berarti tidak) dengan ketentuan bahwa barisan gajah, barisan kuda, barisan kereta perang dan barisan infanteri ditempatkan satu di belakang yang lain,
19.   Capa wyǔha, susunan tentara yang berbentuk busur
20.   Madhya capa wyǔha, susunan tentara yang berbentuk busur dengan inti kekuatan dibagian tengah.

Sebaliknya, di dalam kitab Kamandaka,  salah  satu kitab dari kesusateraan Jawa kuno disebutkan 8 macam wyǔha, ialah :

1.       Garudda wyǔha                (atau byuha), susunan tentara yang berbentuk garuda,
2.       Singha wyǔha, susunan tentara yang berbentuk singa,
3.       Makara wyǔha,  susunan tentara yang berbentuk makara (udang)
4.       Cakra wyǔha, susunan tentara yang berbentuk cakram,
5.       Padma wyǔha, susunan tentara yang berbentuk bunga seroja,
6.       Wukir sagara wyǔha, susunan tentara yang berbentuk bukit dan samudera,
7.       Ardhanacandra  wyǔha, susunan tentara yang berbentuk bulan sabit,
8.       Wajratikshnna  wyǔha, susunan tentara yang berbentuk wajra atau petir yang tajam.

Di dalam kakawin Bhârata-Yudha disebutkan 10 macam wyǔha, ialah :

1.       Wukir sagara wyǔha (terdapat dalam transkripsi kakawin bharata-Yudha Pupuh X dan XL  2)
2.       Wajratikshnna (Pupuh X  11)
3.       Kagapati wyǔha (Pupuh XII  6)
4.       Gajendramatta atau gajamatta wyǔha (Pupuh XIII  13)
5.       Cakra wyǔha (Pupuh XIII 22 dan XV  21)
6.       Makara  wyǔha ( XIII  24 dan XXVII 2 )
7.       Sǔcimukha wyǔha dalam Pupuh XV  21)
8.       Padma  wyǔha  (Dalam Pupuh XV 22)
9.       Ardhanacandra wyǔha  (Dalam Pupuh XXVI  5)
10.   Kânanja wyǔha  (Dalam Pupuh XL  2)

Ketika perang besar antara keluarga Kurawa dan Padawa dimulai, tentara Kurawa mengambil susunan tentara wukir sagara.  Raja-raja takluk, kerajaan Hastina yang berkendaraan gajah dan kuda merupakan karang laut yang serba kokoh dan kuat, sedangkan serangan prajurit yang bergelombang itu merupakan gelombang samudera yang tiadak ada henti-hentinya.  Susunan tentara ini memerlukan memerlukan sejumlah prajurit yang banyak, bertempur dalam massa yang besar dan memiliki dinamika dan daya tempur yang tinggi, hal tersebut sebagaimana diceritakan dalam Pupuh X  17, yang menyatakan bahwa satu kereta perang diperkuat oleh 10 ekor gajah, sedangkan masing-masing gajah diperkuat oleh 10 ekor kuda dan seekor kuda diperkuat oleh 10 orang prajurit.  Massa yang banyak dengan kuda dan gajah itu menjadi bukit yang kokoh. 

Sebaliknya dalam permulaan perang ini menurut Pupuh X, 11 keluarga Pandawa mengambil susunan tentara yang disebut ‘wajratikshnna wyǔha’, artinya petir yang tajam.  Bima, Arjuna dan Srikandi merupakan ujung petir yang tajam, sedangkan putera-putera Wirata, Uttara dan Sangka, bersama-sama Setyaki serta Drestajumena memimpin pertahanan di belakang.  Yudhistira bersama-sama dengan raja lainnya, — tentunya yang dimaksud ialah Kresna, Nakula dan Sadewa bersama-sama dengan Sweta —, dalam Pupuh X  11 itu dikatakan ada di barisan tengah.  Susunan tentara yang disebutkan dalam kakawin Bharata-Yudha ini berbeda dengan apa yang disebutkan dalam serat Bratayuda Jarwa yang dipergunakan oleh J. Kats sebagai bahan penulisan bukunya.

Berikut adalah beberapa contoh susunan tentara dalam perang Bharata-Yudha antara Pandawa melawan Kurawa : 

Gambar A. Wajratiksnna Wyǔha dan Wukir Sagara Wyǔha
Wajratiksnna Wyuha & Wukir Sagara Wyuha

Keterangan gambar A. :

Keluarga Pandawa menggunakan siasat perang  ‘Wajratiksnna wyuha’ dengan susunan tentara sebagai berikut :

1.       Bhima (ujung depan).  2. Srikandi (ujung depan).  3. Arjuna (ujung depan).  4. Yudhistira (tengah).  5. Kresna (tengah).  6. Sweta (garis belakang).  7. Sangka (garis belakang).  8. Uttara (garis belang).  9. Setyaki (garis belakang).  10. Drestajumena (garis belakang sayap kanan.

I.        Sedangkan dari barisan Kurawa terdiri dari gajah dan kuda yang menyerupai karang laut (bukit)
yang kompak, sedangkan II. Terdiri dari pasukan darat yang secarabergelombang menuju ke depan.

Dari kedua susunan tentara yang dimiliki oleh keluarga Pandawa dan Kurawa itu dapat diketahui, bahwa kedua-duanya memiliki tenaga ofensif yang kuat.  Dalam kaitan ini dapat dikatakan, bahwa dalam kitab Bhismaparwa yang berbahasa Jawa kuno itu, susunan tentara keluarga Pandawa itu berlainan dengan apa yang disebutkan dalam kakawin Bhârata-Yudha.  Kecuali nama wyǔhanya tidaklah disebutkan.  Jika ditinjau dari sudut akulturasi Mpu Sêddah yang menciptakan kakawin ini mempunyai daya cipta sendiri dan tidak menjiplak begitu saja yang disebutkan dalam kitab Mahabhârata dalam bahasa Jawa kuno (saduran dari kitab Mahâbhârata dalam bahasa Sangsekerta) yang dijadikan dasar penyusunan cerita kakawin Bhârata-Yuddha tersebut.

Seperti diketahui, dalam permulaan perang itu barisan Pandawa menderita kekalahan besar, ialah dengan terbunuhnya Sweta yang menjadi panglima dan dua orang adiknya Sangka dan Uttara, sedangkan di pihak Kurawa adalah Rukmaratha anak dari raja Salya.  Oleh karena dengan adanya susunan tentara ‘wajratikshnna’ itu keluarga Pandawa menderita kekalahan.  Menurut Pupuh XII 5-7 dikatakan, bahwa setelah Drestajumena diangkat menjadi panglima, susunan tentara Pandawa diganti menjadi ‘Garuda wyǔha dan menurut Pupuh XII 8 diimbangi oleh tentara Kurawa.  Susunan tentara kedua pihak itu lebih tenang sifatnya, karena titik beratnya terlrtak pada aspek defensif, setelah terbukti bahwa dengan susunan tentara yang masing-masing berbentuk wukir sagara dan wajratikshnna itu yang bersifat ofensif keduannya menderita kekalahan dan kerugian besar.

Susunan tentara garudda wyuha menitik beratkan siasatnya untuk menjaga keselamatan dari induk barisan dan keselamatan ini dijamin oleh pemusatan kekuatan di masing-masing lambung.  Dengan adanya jaminan dari kedua lambung itu barisan induk dengan tenang dapat mengadakan ofesif atau penyerangan dengan dibantu dan dilindungi oleh masing-masing lambung.

Gambar B.  Garuda Wyuha

Garuda Wyuha

Keterangan gambar B

     Keluarga Pandawa :

1.       Drupada (kepala).  2. Arjuna (paruh).  3. Yudhistira (punggung).  4. Raja-raja termasuk Nakula dan Sadewa (punggung).  5. Bhima (lambung kiri).  6. Drestajumena (lambung kanan).  7. Setyaki (ekor).

     Keluarga Kurawa :

I.        Sangkuni (kepala),  II. (Salya),  (paruh),  III. Suyudana (punggung),  IV. Bhisma (lambung kiri),  V. Dorna (lambung kana),  VI. Dursasana (ekor).

       Dengan mempergunakan susunan tentara yang serba tenang untuk menjaga jangan sampai banyak menderita kerugian, tentara Kurawa juga menderita kerugian besar dengan terbunuhnya panglima Bhisma, karena sebagai pemimpin yang diserahi pertahanan di lambung kiri kecuali menyerang, juga menjaga keamanan raja Suyudana yang ada di barisan induk.  Dari tempat yang aman ini raja Suyudana menempati posisi yang strategis, karena dapat melihat seluruh gerakan tentara Kurawa yang sedang bertempur.

        Setelah Bhisma gugur dalam medan pertempuran, kedudukannya diganti oleh Dorna yang menjadi panglima tentara Kurawa ;  ia memilih susunan tentara gajamatta, seperti yang disebutkan dalam Pupuh XIII 13.  Sebaliknya tentara Pandawa, seperti yang disebutkan dalam Pupuh XIII 13 itu juga memilih susunan tentara gajamatta sama seperti yang digunakan oleh susunan tentara Kurawa.  Hal ini berbeda dengan dalam karangan J. Kats yang uraian tulisannya atas dasar kitab ‘Serat Bratayuda’, tentara Pandawa tetap mempertahankan susunan tentara garuda wyuha.

Gambar C.  Gajamatta Wyǔha
Gajamatta Wyuha
Keterangan Gambar C.

        Keluarga Kurawa :
I.        Bhagadatta (belalai),   II. Karna (gading),   III. Jayadrata (gading), 

        Keluarga Pandawa :
1.       Arjuna (gading)

Dari pertempuran kedua pihak yang masing-masing mempergunakan susunan tentara berbentuk gajamatta wyuha itu, dari pihak Kurawa dapat diketahui susunannya dengan jelas, karena disebutkan  dalam kakawin Bhârata-Yudha, akan tetapi sebaliknya kakawin Bhârata-Yudha hanya menyebutkannya dengan samar-samar.  Yang disebutkan dalam Pupuh XIII  15, hanya Arjuna.  Di dalam pertempuran itu, pihak Kurawa mengalami kerugian, karena Bhagadatta gugur sebagai akibat serangan Arjuna.  Tentara Kurawa sesungguhnya akan mengalami kerugian lebih besar lagi, jika hari tidak menkadi malam.  Dengan datangnya malam itu peperangan harus dihentikan.

Pada waktu pagi di hari berikutnya, Dorna telah mendengar dari Yudhistira sendiri, bahwa ia dapat dibinasakan jika dirinya ditinggalkan oleh Bhima dan Arjuna, seperti yang disebutkan dalam Pupuh XIII  19.  Setelah dapat menipu Bhima dan Arjuna untuk berperang di tempat-tempat yang jauh, Dorna mencoba membunuh Yudhistira dengan jalan merubah susunan tentara dari gajamatta wyuha menjadi cakra wyuha, seperti yang disebut kan dalan Pupuh XIII  22.   Karena dengan perginya Bhima dan Arjuna itu tentara Pandawa menjadi lemah.  Yudhistira mengganti susunan tentaranya dan dari gajamatta wyuha menjadi makara eyuha, seperti yang disebutkan dalam Pupuh XIII  24.

Gambar D.  Makara Wyuha dan Cakra Wyuha

Makara Wyuha & Cakra Wyuha

Keterangan gambar D

     Keluarga Pandawa :

1.       Drestajumena (sapit kana),  2. Ghatotkaca (sapit kiri),  3. Sâtyaki (mulut),  4.  Nakula (mata kiri),  5.  Sadewa (mata kanam),  6. Abhimanyu (hidung),  7. Dua orang Pancawala atau anak Pandawa (sungut kiri),  8. Tiga orang Pancawala (sungut kanan),  9. Yudhistira (kepala),  10. Beberapa orang raja (punggung),  11. Beberapa orang raja (badan).

     Keluarga Kurawa :

I.        Jayadrata (peleg) bersama-sama dengan raja-raja lainnya,  II. Karna (tuji-ruji),  III. Dorna (ruji-ruji),  4. Krêpa (ruji-ruji),  V, VI  dan seterusnya orang-orang Kurawa (ruji-ruji),  VII. Suyudhana (Sumbu).

B e r s a m b u n g

P u s t a k a  : ipto Wirjosuparto, “Kakawin Bharata-Yuddha”
Penerbit – Bhratara – Jakarta 1968

               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar