Selasa, 05 Maret 2013

Puisi Puisi Karya Slamet Priyadi


Slamet Priyadi


Gelegar Pertala
Denmas Priyadi Blog│Selasa, 05 Maret 2013│06:30 WIB

Geram gelegar pertala usik marcapada
Saksikan prilaku dan ulah manusia
Yang tak lagi berunggah-ungguh kedepankan etika
Sana sini hanya umbar syahwat
Nafsu angkaranya pun kian menggeliat

Yang digugu dan ditiru lenyapkan rasa malu
Yang digdaya dan kuasa cengkeramkan kuku
Pancanakanya pun kian menghujam
Membenam semakin dalam
Menusuk jantung dan merobek selimut social
Masyarakat kecil yang kian melemah, gontai dan lunglai
Tiada berdaya…
Ya, yang tak lagi punya daya dan upaya

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor

Pituah Segumpal Asap Rokok
Denmas Priyadi Blog│Jumat, 28 Desember 2012│09:30 WIB

Selepas tidur suntuk semalam, di pagi cerah ini, aku minum secangkir kopi
Terasa dada ini menghangat meski sedikit menyengat
Sambil menghisap sebatang rokok, aku tatap jendela rumah
Nampak bingkai kayunya mulai rapuh-ruah
Pikirku pun jadi menerawang ya, begitulah aku sekarang
Semakin tua usia lekang, semakin merenta tulang-tulang

Kembali aku hisap rokok yang ada di jemariku
Asapnya mengepul-ngepul kelabu, berputar-putar di depan mataku
Melayang-layang di telinga seperti berbisik dan berkata-kata,
"Usia tuan semakin lanjut dan berkurang, apa yang sudah tuan persiapkan dari sekarang
‘tuk bekal tuju ke Maniloka alam kelanggengan"
Segera aku matikan rokok di jemari melangkah gontai dan lunglai
Menuju ke kamar mandi 'tuk bersuci bersihkan semua kotoran dalam diri
Tuhan, dosa-dosaku semakin merebak, hingga kini pun belum jua terkuak
Aku jauh dari-MU, dan semakin jauh dari-MU, gerakkanlah hati hamba-MU,
Berikanlah kasih-MU, berikanlah rahmat-MU agar aku dekat, dan kembali ke jalan-MU
Amieeen......

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor

Carmuka
Denmas  Priyadi Blog│Senin, 17 Desember 2012│07:16 WIB

Adalah sudah merupakan kebiasaan kebanyakan orang-orang kita
Suka dan gemar sekali cari muka
Sana-sini mencaci, sini-sana memuja
Di depan menjilat-jilat lidahnya pintar bersilat
Ketika kepentingannya tak didapat, dia pun melompat ba’ kutu loncat
Janji ‘tuk loyal prasetia, dengan puji dan puja lupalah semua
Kesetiaan yang tersisa hanya kepentingan semata

Di belakang menista tiada henti cari kesalahan di sana-sini
Di depan menjilat-jilat menyosorkan diri
Dengan alibi demokrasi bicaranya ceplas-ceplos tanpa isi, tanpa basa-basi
Asalkan senanglah di hati
Yakh, begitulah memang prilaku diri
Si Carmuka yang suka cari muka di sana dan di sini

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor


Kau Tak Pernah Mau Sirna
Denmas Priyadi Blog│09 Desember 1978│08:45 WIB

Sudah tiga puluh satu warsa sejak taqdir pisahkan kita
Bayang-bayangmu Lutfia,  masih jua tak pernah mau sirna
Dari benakku, bahkan dari jiwaku, dan segala rasa ini semakin menyiksaku

Segala daya, segala upaya telah aku coba
Memecah cermin kalbu, mengoyak tabir rindu, melepas rantai belenggu
Bahkan  aku kepakkan sayap terbang kembara ke alam dewangga ‘tuk lupakan segala lara
Namun, kau masih jua tak pernah mau sirna dari benakku, dari kalbuku
Dan kenangan itu, serta gelora rasa ini, bahkan selalu mendera hari-hariku
Menteror jiwaku di setiap waktu

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor


Sajak Dari Bukit Parigi
Denmas Priyadi Blog│Minggu, 16 Des. 2012│09:25 WIB

Meniti jalan setapak di kaki bukit Parigi
Saat cahaya Mentari pagi menelusup celah-celah daun bambu
Di simpang kelok jalan bertugu batu
Nampak dua ekor anjing berpadu satu saling ungkapkan hasrat nafsu
Merasa terganggu atas kehadiranku
Keduanya menyalak keras ke arahku seakan protes dan berkata
“Wahai manusia, kami bukan sepertimu yang memiliki etika dan rasa malu
Jadi, silahkan lewati jalan ini, dan angan ganggu kenikmatan kami”
Kemudian  aku pun berlalu

Melewati gundukan semak-semak jalan setapak
Di balik rimbunnya daun bambu dan pohon salak
Nampak di sana, dua ekor kera jantan dan betina sedang ungkapkan hasrat senggama
Merasa terganggu atas kehadiranku, keduanya, dengan wajah galak mata terbelalak
Menatap garang ke arahku seakan protes dan berkata,
“Wahai manusia kami bukan sepertimu yang memiliki etika dan rasa malu
Jadi, lewati jalan ini dan jangan ganggu kenikmatan kami”
Kemudian akupun segera berlalu

Tak terasa waktu berganti, Surya pagisemakin meninggi
Aku terus melangkah meniti jalan setapak di kaki bukit Parigi
Melewati kebun yang buahnya mulai ranum
Melewati pematang sawah yang padinya mulai menguning
Dua wanita jelita menyapa dengan tingkah menggoda yang mengundang hasrat jiwa
“Wahai tuan kami tahu, tentu tuan seperti yang lain
Mampirlah di kedai kami, di sini ada kopi kehangatan
Sesuai dengan selera dan rasa yang tuan inginkan”
Dan akupun terus berlalu

Ketika peluh membasahi seluruh tubuh
Ketika rasa lelah mulai mengeluh
Aku putuskan untuk henti berjalan
Rehat, istirahat kembali segarkan badan
Segera aku hampiri kedai di ujung jalan
Pesan secangkir kopi dan setatakan gorengan
Dengan lemah gemulai dan kemayu
Perempuan kedai itu buatkan kopi pesananku
Sambil tawarkan hasrat tak malu-malu
“Wahai tuan, tadi ada tiga orang dari kota sama seperti tuan
Dan, sekarang pun masih di dalam biasa tuan, cari belai-belai kehangatan
Apakah tuan juga berkeinginan sama seperti mereka?”
Ucap perempuan itu sambil tertawa cekikikan
Tiada kata-kata terucapkan segera aku bayar secangkir kopi dan gorengan
“Benar-benar tak punya etika dan rasa malu”
Aku menggerundel, dan segera berlalu dari kedai itu

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor


Pesan Pejuang
Denmas Priyadi Blog | Sabtu, 10 November 2012 | 11:35 WIB

Telah aku wariskan Sang Saka
Merah Putih pusaka bangsa
Dari medan laga darah pun telah tertumpah
Korbankan nyawa Ikhlas dan rela

Telah aku wariskan Sang Rajawali
Garuda perkasa nan perwira
Dari medan juang Jiwa pun telah perlaya
Korbankan jiwa Demi bangsa merdeka

Wahai kaum muda pewaris bangsa
Jaga, jagalah dan camkanlah
Janganlah sampai Pusaka bangsa sirna
Luka, robek, pecah terkoyak , Penuh luka dan mati
Dan, Pancasila jadikanlah pemersatu bangsamu
Bangsa Indonesia yang harus tetap lestari nan jaya
Di persada bumi Nusantara

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor

Sang Rajawali Garuda
Denmas Priyadi Blog | Minggu, 23 0ktober 2011| 01:30 WIB

Kau Rajawali, Garudaku…
Digjaya, perkasa nan gagah perwira
Terbang melayang di angkasa raya
Mengepak sayap menguak jagad
Sekuat, sekeras kilat pertala
Gelegarkan gema Pancasila
Gaungkan  ke Marcapada

Kau Rajawali, Garudaku...
Kini tak gagah dan perkasa lagi
Bintangmu nyaris tak berlima segi
Bantengmu seakan tak bertaji
Beringinmu tak rimbun kini
Padi kapasmu  tiada bersemi
Dan, Rantai satu pengikat
Pun kian rompal berselimut karat
Menanggung beban yang kian sarat

Kau Rajawali, Garudaku...
Hayo, keluarkanlah daya saktimu
Terbanglah tinggi-tinggi
Angkatlah bebanmu kuakkan mega-mega
Untuk menembus angkasa
Kepakkanlah sayap Pancasila seluas jagad raya
Agar dunia tahu bahwa kita masih perkasa
Ya, masih perkasa

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor

ARYO JENAR: "INI KARYAKU": Puisi Puisi Karya Slamet Priyadi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar