WARTA DARI GOOGLE

Loading...

Minggu, 27 November 2011

NUANSA ISLAM DALAM LAKON PETRUK DADI RATU by Slamet Priyadi

Nov
Petruk Jadi Raja
Minggu, 27 November 2011 – Denmas Priyadi Blog Lakon Petruk Dadi Ratu ( Petruk Menjadi Raja ) merupakan cerita wayang carangan atau karangan pujangga Islam dan tidak ada dalam cerita Mahabarata, oleh karena itu isi ceritanya mengandung ajaran Islam.
 
Diceritakanlah dalah lakon Petruk Dadi Ratu ini, pertempuran antara Bambang Priambodo melawan Dewi Mustokoweni yang begitu sengitnya. Keduanya sama-sama sakti, sama-sama gagah perwira dan pilih tanding sehingga keduanya tak ada yang kalah dan tak ada yang menang.  Keduanya bertempur karena memperebutkan pusaka Jimat Kalimusodo yang teramat sakti itu.  Pusaka Jimat Kalimusodo terkadang berada di tangan Dewi Mustokoweni terkadang berada di tangan Bambang  Priambodo, begitu seterusnya pusaka tersebut saling berpindah tangan di antara keduanya.  

Suatu ketika Bambang Priambodo dapat merebut pusaka Jimat Kalimusodo dari tangan Dewi Mustokoweni. Pusaka tersebut lalu diserahkan kepada Petruk salah seorang Punakawan Pandawa putra dari Semar Kudapawana agar di pegang menjadi ageman, dan jangan sampai bisa direbut oleh orang lain.

Dengan pusaka Jimat Kalimusodo ditangannya yang kemudian mengamalkannya, dengan bantuan Batara Guru dan Batara Narada yang ingin membantu petruk agar mampu menyimpan dan menyelamatkan pusaka Jimat Kalimusodo, maka jadilah Petruk seorang yang sakti mandraguna, gagah perkasa, tanpa tanding. Dengan kesaktiannya yang teramat sakti itu Petruk menjadi jumawa, angkuh dan sombong. Dengan kesaktiannya itu Petruk  menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, salah satu negeri dari negeri-negeri yang ditaklukannya lalu dikuasainya adalah Negeri Sanyowibowo. Dengan bangga dan penuh kesombongan kemudian Petruk mengangkat dirinya menjadi seorang raja yang berkuasa penuh atas kerajaan dan negeri Sanyowibowo bergelar, PRABU BELGEDUWELBEH TONGTONGSOT. 

Ketenaran dan kemashuran negeri Sanyowibowo dibawah kekuasaan Prabu Belgeduwelbeh seorang raja baru yang teramat sakti membuat negeri Astina, Dwarawati, dan negeri Amarta menjadi ketir-ketir juga, mereka khawatir kalau-kalau negerinya juga akan diserang dan ditaklukkannya juga. Maka sepakatlah mereka akan menyerang terlebih dahulu kerajaan Sanyowibowo yang sekali gus membinasakan Prabu Belgeduwelbeh. Akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang mampu mengalahkan kesaktian Prabu Belgeduwelbeh, bahkan mereka dengan begitu mudah dapat dikalahkan oleh Prabu Belgeduwelbwh.
Melihat kenyataan ini, Sri Kresna seorang penasehat pandawa melapor untuk memohon bantuan kepada lurah Semar Kudapawana, ayah dari Petruk yang sudah menjadi raja di negeri Sanyowibowo, dan Nolo Gareng, kakak petruk agar bisa menaklukkan raja yang sakti dan sombong dan jumawa itu. 

Singkat cerita dengan kesaktian Sanghyang Semar Badranaya dan Nolo Gareng, akhirnya kesaktian Prabu Belgeduwelbeh dapat dikalahkan dan kesaktiannya bisa dilenyapkan, begitupun segala kesombongannya hilang seketika dan Prabu Belgeduwelbeh kembali seperti wujud semula menjadi Petruk. Adapun Batara Guru dan Batara Narada yang bertanggung jawab atas rekayasa Petruk menjadi raja di Negeri Sanyowibawa menyatakan alasannya, bahwa mereka berdua menjadikan Petruk menjadi raja yang sakti semata-mata agar petruk mampu menyelamatkan pusaka Jimat Kalimusodo yang akhir-akhir ini sudah dijauhkan dari raja dan rakyat Amarta sendiri.

Secara kajian Islam cerita Petruk jadi raja ini menggambarkan kepada kita bahwa derajat dan kemuliaan seseorang bukan diukur dari harta dan kedudukan, melainkan dari taat dan kukuhnya mengamalkan ajaran agama dari siapapun orang baik hamba sahaya, penguasa, dan para pejabat kaya. Hal ini sebagaimana digambarkan tokoh Petruk seorang punakawan rakyat jelata, ia bisa menjadi besar, orang terpandang karena memegang Jimat Kalimusodo (ISLAM=Kalimat Syahadah). 

Hal ini seperti ditulis dalam Al-Quran, Surat Alhujaraat:13 yang artinya :

“Wahai manusia, sesungguhnya aku (Allah) ciptakan engkau dari lelaki dan wanita, dan Aku jadikan berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, agar saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang lebih mulia di anatara kamu adalah yang lebih taqwa”. 

Dan sebagaimana Hadis Nabi :

“Manusia itu sama seperti gerigi sisir, tiada kemuliaan bagi orang Arab lebih daripada orang (bangsa) lainnya kecuali taqwanya”. <SP>  




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar