WARTA DARI GOOGLE

Loading...

Minggu, 13 November 2011

NUANSA AJARAN ISLAM DALAM LAKON JAMUS KALIMUSODO By Slamet Priyadi

MINGGU, 13 NOVEMBER 2011 – DENMAS PRIYADI BLOG -  Lakon Jamus Kalimusodo atau Jimat Kalimasada dalam cerita pewayangan adalah salah satu lakon carangan atau cerita karangan yang diciptakan oleh para wali penyebar agama Islam Wali Songo. Hal ini seperti ditulis Dr. Th. Piqeud dalam bukunya “De Javaanse Volksvortoningen” bahwa:

Kalimah Syahadah

“Sunan Kali mengarang lakon-lakon wayang baru dan menyelenggarakan pergelaran-pergelaran wayang dengan upah baginya sebagai dalang berupa Kalimah Syahadat”. ( Dikutip dari buku “Unsur Islam Dalam Pewayangan” hal. 84, Drs. H. Effendi Zarkasi )

Dewa Srani
       Diceritakan dalam lakon Jamus Kalimusodo :  Dewa Srani seorang raksasa putra Betara kala berambisi besar untuk menguasai dunia, lalu diceritakanlah keinginannya ini kepada ibunya Betari Durga. Mendengar pernyataan dari putra kesayangannya ini Betari Durga sangat  suka cita, maka disarankan kepada putranya Dewa Srani agar mencuri pusaka “Jimat Kalimusodo” yang ada pada Prabu Darmakusuma raja Amarta pemuka Pandawa.

       “Wahai ananda, jika ananda memang benar-benar ingin menguasai dunia, itu hanya satu syaratnya, ananda harus mendapatkan pusaka Jimat Kalumusodo yang terdapat di Negeri Amarta milik Prabu Darmakusuma, dan puasaka itu terletak di mahkota kepala Prabu Darmakusuma”.

Betari Durga
      Mendengar jawaban dan syaran dari ibunya Dewa Srani sedikit terkejut, karena bagaimana mungkin mendapatkan pusaka tersebut karena dia sendiri mengetahui kalau Raja Amarta, Prabu Darma Kusuma adalah pemuka Pandawalima yang teramat kesohor kesaktian dan kedigjayaannya. Bertanyalah Dewa Srani kepada ibunya:

      “Ibunda! Bagaimana caranya ananda bisa memperoleh pusaka Jimat Kalimusodo itu sedang ibunda tahu, Prabu Darmokusumo dan keempat saudaranya yang dikenal dengan Pandawalima adalah sosok-sosok sakti mandraguna. Ananda kira sangatlah sukar untuk merampas pusaka itu secara langsung!”

Betara Kala
      “Ibunda sarankan agar sebaiknya ananda harus mencurinya saja, itu adalah satu-satunya jalan termudah sebab jika ananda merampasnya sepertinya itu tidak mungkin sebab kesaktian Pusaka Jimat Kalimusodo itu maha sangat luar biasa tidak bisa dikalahkan oleh jenis senjata pusaka manapun, dan untuk itu sebaiknya ananda menghadap ramamu Betara Kala untuk minta restu dan bekal kesaktian agar dalam melakukan pencurian nanti berhasil. ” Demikianlah saran dari ibunya kemudian.

       Singkat cerita Dewa Srani akhirnya berhasil memperoleh Pusaka Jimat Kalimosodo dengan cara mencurinya dari Prabu Darmakusuma, dan iapun menguasai dunia berkat pusaka Jimat Kalimusodo tersebut, akan tetapi pusaka Jimat Kalimusada ini dapat direbut kembali oleh Pandawa Lima melalui kegigihan satriya panengah Pandawa Raden Arjuna.

       Nuansa ajaran Islam yang terkandung dalam cerita lakon Jimat Kalimusodo adalah penjelasan tentang ucapan “Dua Kalima Syahadah” Rukun Islam pertama.  Kalimosodo atau Kalimasada = Kalimat Syahadah yaitu kalimat ucapan, persaksian atau bukti diri, dan pengakuan  “TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH.”

Arjuna merebut kembali Jamus Kalimusodo

       Adapun tentang Dewa Srani, ini adalah penggambaran dari sifat angkara murka. Dewa Srani adalah putra dari Betara Kala dan Dewi Durga yang selalu ingin menyebarluaskan berbagai macam prilaku kejahatan di dunia. Dalam konteks kekinian, Dewa Srani merupakan visualisasi dari Sang Monster Penjajah dari Barat yang  kuku-kukunya sudah mencengkeram kuat di seluruh dunia terutama di bumi Timur Tengah, dan akar-akarnyapun sudah menyebar ke seluruh dunia. Hampir semua Negara di seluruh dunia menjadi mangsanya, terjajah budayanya, ekonominya, social dan politiknya. Siapa berani menantang aku, maka akan aku hancurkan.  Iraq, Afganistan, Mesir, Libya adalah contoh nyata dari Prilaku Dewa Srani.

       Terkait dengan prilaku Barat yang ingin menguasai dunia Islam Al-Qur’an sudah mengingatkan: 

       Dan orang-orang Yahudi dan Nashara tidak akan rela kepadamu hingga kamu turut agama mereka”.  Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah sebenar-benarnya petunjuk. Jikalau engkau turut kemauan mereka sesudah dating pengetahuan kepadamu maka engkau tidak akan dapat penolong dan pembantu dari Allah”. ( ALBAKARAH : 120 )

Keris Pusaka Kalimusodo

       “Segolongan dari Ahli Kitab suka hendak menyesatkan kamu, padahal tidak dapat mereka menyesatkan kecuali diri-diri mereka sendiri sedang mereka tidak sadar” ( ALI IMRAN : 69 )

      Oleh karena itu sebaiknya umat Islam di seluruh dunia mau dan tetap bersatu dalam ISLAM dan selalu waspada terhadap ancaman-ancaman yang ingin merubah serta merusak aqidah Islamiah kita. [ PUSTAKA: 1. Budaya Indonesia ( Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah – Prof.Dr. Edi Sedyawati, 2. Karakter Tokoh Pewayangan Mahabarata – Sri Guritno – Purnomo Soimun HP,  3. Unsur Islam Dalam Pewayangan, Drs. H. Effendi Zarkasi  <SP> ]

1 komentar:

  1. @ Sebaiknya umat Islam di seluruh dunia mau dan tetap bersatu dalam ISLAM dan selalu waspada terhadap ancaman-ancaman yang ingin merubah serta merusak aqidah Islamiah kita.

    BalasHapus