Selasa, 03 Desember 2013

Wejangan Agama Dari Era Sekitar Wali Jawa (Studi Naskah "Lontar Ferrara") By Susiyanto

Kitab Surowiti karya Sunan Kalijaga (Dokumentasi: Susiyanto)
 Kitab Surowiti karya Sunan Kalijaga (Dokumentasi: Susiyanto)
PENDAHULUAN
Nampaknya ketertarikan terhadap peri-kehidupan Wali Sanga akan lebih banyak diungkap melalui tradisi lesan dibandingkan tradisi tertulis. Hal ini karena eksistensi mereka memang telah melegenda menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Jawa. Keberadaan mereka selalu dikaitkan dengan penyebaran Islam di Jawa dengan dibumbui berbagai “keajaiban” yang melekat dalam perjalanan kisahnya.[1] Cerita-cerita lesan ini, sayangnya tidak dibarengi dengan hasil dari tradisi pencatatan yang berimbang dari masa sekitar kehidupan Wali Sanga sendiri. Cerita berbalut mitos itu secara umum baru tumbuh dalam naskah-naskah Jawa maupun tradisi oral yang lebih baru.[2] Meskipun demikian bukan berarti masyarakat Jawa kehilangan seluruh tuntunan dan wejangan (nasehat) keagamaan dari para penyebar Islam di Jawa tersebut.
Lontar Ferrara adalah karya tulis yang memuat petuah keagamaan yang diyakini berasal dari Jaman Kawalen[3] tersebut. Naskah ini ditulis di atas daun “Tal” (Lontar) yang terdiri dari 23 lembar berukuran 40 x 3,4 cm dan saat ini tersimpan di Perpustakaan Umum Ariostea di Ferrara, Italia.[4] Oleh karena itu maka naskah ini sering diidentifikasi sebagai “Lontar Ferrara” atau “Kropak Ferrara”. Naskah ini secara sistematik berisi tentang panduan hidup agar menjadi muslim yang kaffah dan pada saat yang sama juga bertujuan menarik para pemeluk Islam baru dan harapan agar masyarakat Jawa membebaskan diri dari penyembahan berhala. Naskah ini ditulis dalam kondisi dimana komunitas muslim masih berjumlah sedikit.
Bagian awal dari Lontar Ferrara yang bercerita tentang sarasehan para wali diperkirakan ditulis dari era sekitar awal abad XVIII. Sedangkan teks lainnya yang berisi tentang wejangan keagamaan dan ini merupakan bagian terbesar dari isi naskah, tidak diragukan mencerminkan abad XVI atau bahkan abad XV. Teks kedua ini banyak menggunakan kosa kata bahasa Jawa kuno, mirip dengan bahasa dalam kitab Pararaton. Teks kedua ini pun nampak merupakan salinan dari naskah lain yang lebih tua usianya.[5] Jelasnya dapat dikatakan bahwa sebagian besar isi Lontar Ferrara memberikan gambaran tentang prototype ajaran keagamaan yang dikembangkan di sekitar era Wali Sanga.
Memang dalam era-era sebelum abad XVI, meski proses Islamisasi di Jawa meski terus berlangsung namun terkesan berjalan lamban. Ma Huan, seorang muslim Cina yang pernah mengunjungi pesisir utara Jawa pada 1416, dalam bukunya Ying-yai Sheng-lang mencatat terdapat tiga komunitas yang mendiami Jawa yakni kalangan muslim dari Barat, Orang Cina yang sebagian menganut Islam, dan para penyembah berhala. Tomé Pires ketika mengunjungi Jawa antara tahun 1512 hingga 1515 mencatat dalam Suma Oriental bahwa di pesisir Jawa banyak didiami pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang mulai menjadi kaya dan bertambah jumlahnya. Anak-anak mereka mulai menjadi orang Jawa dan mereka sendiri telah lebih 70 tahun hidup di sana. Catatan ini mengemukakan bahwa para pedagang muslim banyak yang menikahi wanita pribumi yang telah diislamkan. Proses islamisasi selanjutnya berjalan cepat setelah memasuki abad XVI. Apalagi setelah dakwah Islam melembaga di Jawa dengan berdirinya Kesultanan Demak.[6]
 Secara umum buku ini merupakan panduan awal bersifat praktis bagi masyarakat muslim di Jawa agar menjalani hidup dengan mengandalkan ajaran Rasulullah Saw dan menghindari berbagai bid’ah. Dalam pembahasannya naskah ini menukil sejumlah ayat Al Quran dan hadits Nabi serta kitab-kitab klasik karya para ulama. Tulisan juga dihadirkan sebagai sumbangan dan perbaikan atas sejumlah kekeliruan yang dilakukan oleh G. W. J. Drewes, orientalis Belanda, dalam kajiannya tentang Lontar Ferrara, baik dari sisi pemahaman tentang Bahasa Jawa maupun konsep Islam.
SARASEHAN PARA WALI
            Bagian awal sarasehan naskah Lontar Ferrara berisi tentang sarasehan (tukar pendapat) yang dilakukan oleh para wali yang terdiri dari delapan orang antara lain Pangeran Bonang, Pangeran Cerbon, Pangeran Mojoagung, Pangeran Kalijaga, Syaikh Bentong, Maulana Maghribi, Syaikh Lemah Abang[7], Pangeran Giri Gajah. Menurut naskah tersebut pertemuan ini dilaksanakan di Giri Gajah di Gunung Kedaton, Gresik, Jawa Timur pada hari Jum’at tanggal 5 Ramadhan tahun Wawu. Sarasehan ini dilakukan dalam rangka memperbincangkan tema tentang makrifat. Para wali diminta agar mengemukakan i’tikad masing-masing dengan jujur dan diiringi dengan suasana saling mengingatkan apabila terdapat persoalan iman dan tauhid yang masih keliru di antara para Wali.
            Sebagian besar Wali menyepakati bahwa persoalan iman dan tauhid memiliki hubungan erat antara posisi kawula (hamba) dan gusti (Allah). Pangeran Mojoagung menyatakan bahwa keberadaan kawula menjadi tanda berlakunya pemujaan (ibadah) dan penghambaan terhadap gusti. Apabila seseorang tidak memahami persoalan ini maka ia dianggap kosong pengetahuannya. Apabila hatinya mendua maka ia telah melakukan kesyirikan dan tidak sah imannya, karena tidak memahami dengan baik hakikat tauhid. Pangeran Cerbon menambahkan bahwa orang dikatakan telah makrifat apabila ahlul-iman telah menyadari posisinya sebagai kawula yang dikuasai dan diperintah, tidak bisa melihat yang menguasai dan memerintah namun selalu merasa diawasi (nora aningali tiningalan). Sedangkan menurut Pangeran Kalijaga, makrifat itu tidak dapat diserupakan. Baginya Gusti (Pangeran) itu memiliki pengetahuan yang sempurna sehingga tidak akan menyesatkan apa yang diperintahkan-Nya (Pangeran iku kang sampurna ing pangawruh, kang ora nasar sarehing Pangeran). Syaikh Bentong melanjutkan dengan menggambarkan kekuasaan Allah dengan perumpamaan bahwa Dialah Allah yang mampu berada dalam dua kondisi namun tidak ada duanya dan tetap esa.

            Pembicaraan diantara para wali berjalan lancar. Mereka saling menyepakati dan menyempurnakan pendapat masing-masing. Namun suasana berubah seketika setelah Syaikh Lemah Abang mengungkapkan keyakinannya sebagai berikut: “Iya Isun iki Allah, endi si malih, mapan orana malih, saking isun iki” (Iya aku inilah Allah, dimana yang lain, memang tidak ada lagi selain aku ini). Maulana Maghribi lantas mengkonfirmasi ucapan itu dengan menanyakan apakah yang berbicara ini adalah jasmani Lemah Abang sendiri. Sang Syaikh menjawab: “Nora amba ngrasani jisin malih, mapan dede jisin kang winicara malih, mapan semi amiyak terebeng, ajana rasa-rumasa, den sami tumeka ing pamanggih” (Saya tidak lagi berbicara tentang jasmani, karena memang bukan jasmani lagi yang dibicarakan, sekaligus membuka tabir penghalang, jangan ada lagi perasaan yang bukan-bukan, hendaknya sama-sama mencapai pengertian).

            Maulana Maghribi membenarkan beberapa ungkapan Syaikh Lemah Abang, namun ia juga mengkritik bahwa ungkapan itu terdengar tanpa memiliki rasa apalagi ketika diucapkan oleh sukma yang telah menyatu dengan jasmani. Sukma itu sendiri terikat dengan perbuatan (tingkah) jasmaninya. Itu merupakan ucapan yang tidak pantas didengarkan oleh orang lain. Pangeran Giri menasehati bahwa ungkapan Syaikh Siti Jenar itu seperti halnya gambung yang menancapkan talajung (pancang) sambil mengucap: “sapa weruha ingaran ingsun, yen tan ingsun ingaranana” (Siapa yang mengetahui namaku apabila aku sendiri tidak menyebutkannya).

Kewajiban pemain gambung adalah menari, lain itu tidak. Ia harus menari berdasar pakem (aturan dasar), ritme tarian, dan iringan tetabuhan serta melibatkan berbagai rasa sehingga menghasilkan seni tari penuh penjiwaan. Jangankan menyanyi, berbicara sekalipun dianggap telah melanggar aturan menari yang menjadi tanggung-jawabnya. Penari gambung yang menancapkan talajung, artinya ia telah melanggar aturan yang harus dijalaninya, mengobrak-abrik pakem, dan membuat gerakan-gerakan baru sehingga gambung rusak dan kehilangan ruhnya. Apalagi jika itu dilakukan sambil berbicara dan mengenalkan siapa dirinya. Untuk dikenal ia seharusnya cukup menari dengan baik sampai pertunjukan selesai. Syaikh Lemah Abang telah keliru yakni ia gagal memahami ajaran Islam dan membicarakan hal yang tidak pada kadarnya tentang posisi gusti dan kawula. Keyakinan ini boleh saja menjadi i’tikad pribadinya, namun i’tikad yang menyimpang itu tidak boleh dibicarakan apalagi diajarkan.
Para wali menasehati Syaikh Lemah Abang. Namun ia telah menutup diri dari semua nasehat itu. Bahkan Syaikh Lemah Abang kemudian meninggalkan majelis dengan tetap pada pendiriannya. Sambil beranjak ia sempat mengucap: “endi si malih, aja karoroan” (dimanakah yang lain, jangan dikira ada dua). Para wali kemudian tetap melanjutkan pertemuannya tanpa kehadiran Syaikh Lemah Abang. Diantara pembicaraan itu adalah tentang hubungan antara jasad dengan ruh. Perbincangan itu lantas diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk tidak memperdebatkan tentang Allah dan Rasulullah, namun melaksanakan apa yang telah diwajibkan atas mereka semua.

Tema sarasehan para wali sebagaimana terdapat dalam Lontar Ferrara sebagaimana diungkapkan sebelumnya merupakan tulisan tambahan yang relatif baru, yakni berasal dari abad XVIII. Topik sarasehan para wali untuk mengungkapkan keyakinan masing-masing seperti ini juga banyak ditemukan dalam sejumlah naskah klasik Jawa dengan berbagai variasi yang berbeda. Sebut saja misalnya “Serat Musawaratipun Para Wali” karya Raden Panji Natarata yang menceritakan pertemuan para wali di Masjid Agung Demak. Para wali digambarkan memiliki keyakinan yang beragam dan banyak diantaranya tidak sesuai dengan ortodoksi Islam.[8]

Dalam versi Cirebon, sarasehan (riungan) para wali ini digambarkan terjadi di tiga tempat yang berbeda. Pertama kali diselenggarakan di Masjid Demak. Dalam sarasehan ini Syaikh Siti Jenar telah menunjukkan i’tikadnya yang keliru. Sunan Kudus menasehati agar Syaikh Siti Jenar tidak berpikiran melantur sebab Allah tidak akan bersekutu dengan sesuatu yang baru (ciptaan). Pertemuan kedua dilaksanakan di Gunung Ciremai. Di sini Syaikh Siti Jenar mengajak seluruh wali agar jujur mengemukakan keyakinannya. Ia sendiri menegaskan bahwa dirinya adalah Allah yang hak, Allah secara lahir dan Allah secara batin. Para wali yang lain tetap berupaya mengingatkan i’tikad Siti Jenar yang menyimpang ini. Namun ia malah menantang para wali agar menjatuhkan hukuman terhadap dirinya. Sunan Gunung Jati lantas meminta agar riungan (sarasehan) ketiga dilanjutkan di Masjid Agung Cirebon. Para wali yang lain telah hadir namun Siti Jenar menolak datang karena merasa berselisih paham dengan yang lain. Sunan Gunung Jati lantas berinisiatif mengundangnya. Namun yang bersangkutan selalu menolak dengan berbagai dalih. Jika yang diundang adalah Syaikh Siti Jenar maka Sang Syaikh menolak karena dirinya sebagai Allah tidak menghendaki hal itu. Demikian juga jika yang diundang adalah Allah maka tentu Allah tidak mungkin menuruti kemauan para Wali, yang sejatinya adalah manusia biasa. Setelah berbagai usaha dilakukan, akhirnya Siti Jenar pun bisa dihadirkan. Diakhir pertemuan Siti Jenar dinyatakan bersalah dan dihukum mati di Cirebon.[9]

SHALAT DAN TAFSIR AL FATIĤAH
            Bukan sekedar anjuran untuk melaksanakan shalat, Lontar Ferrara bahkan memuat rukun-rukun shalat secara tertib beserta bacaannya. Bacaan-bacaan itupun lantas diterjemahkan sehingga masyarakat Jawa yang mendapatkan pengajaran diharapkan akan dapat memahaminya dengan baik. Namun demikian tidak semua bacaan itu ditampilkan secara lengkap. Mungkin saja teks pada bagian tentang pengajaran shalat ini dibuat dengan maksud sebagai panduan untuk pengajaran shalat secara oral.

            Bacaan Surat Fatiĥah yang menjadi salah satu rukun dalam shalat juga ditampilkan bahkan disertai dengan penafsirannya. Diantara penafsiran itu adalah kata bismillah dimaknai dengan “ingsun amet barekat lawan namaning Pangeran” (aku mencari barokah dengan nama Allah). Alhamdulillah dimaknai “Tuwan oleh puji” (Tuwan mendapatkan puji). Rabbi’l ‘alamina ditafsirkan “Tuwan kang angraksa alam kabeh, kang aweh nugraha ing kawula kabeh kang pangabekti awedi ing Pangeran” (Engkau adalah pemelihara seluruh alam, yang memberi anugerah kepada semua hamba yang berbakti dan takut kepada Pangeran(Allah)). Al-Rahman dimaknai “amurah ring dunya” (bersifat Murah di dunia) dan Al-Rahim ditafsirkan “Tuwan asih ring akerat, kang mukmin lanang lan wadon” (Engkau mengasihi Mukmin laki-laki dan perempuan di akhirat). Maliki yawmi’l-din dimaknai “Tuwan ratuning dina kiyamat, kang angukumaken kabeh” (Engkau adalah penguasa hari kiamat, yang mengadili semua).

            Selanjutnya Iyyaka na’budu ditafsirkan dengan makna “Tuwan kang sinembah sekehing alam kabeh” (Engkaulah yang disembah seluruh alam) dan iyyaka nasta’-inu dengan tafsiran “Tuwan amba jaluki tulung” (kepada Engkaulah hamba meminta pertolongan). Ihdinal’ l-sirat’ al-mustaqima dengan makna “teguhna amba jaluki dadalan wot siratal mustakim, lawan tetepna” (teguhkanlah hamba meminta di jalan jembatan siratal mustaqim (jalan yang lurus), dan tetapkanlah aku). Siratal ‘lladhina an-‘amta ‘alaihim dengan “den … dalane wong kang wus den wehi pakenak ika, kaya kang tuwna nugraha ika, kaya para nabi para wali ika, kaya wong aperang sabil ika” (tetapkan dijalan orang yang telah Engkau anugerahi nikmat, seperti halnya jalan jalan orang yang telah Engkau beri karunia seperti para Nabi dan Wali-Mu, seperti jalan orang-orang yang telah berperang sabilillah).

Dalam menafsirkan Surat Al Fatihah, Lontar Ferrara juga mengingatkan agar kaum muslim termasuk di Jawa jangan sampai berperilaku menyerupai kaum Yahudi dan Nashrani (Kristen). Mereka selalu diingatkan agar tidak menjadi orang yang dimurkai (sebagaimana Yahudi) dan tersesat (sebagaimana Nashrani). Ayat yang berbunyi “Ghairil ‘l maghdubi ‘alaihim” ditafsirkan “sampun Tuwan wehi pupurik kaya ing Yahudi Nashrani ika“ (Jangan Engkau beri kemurkaan sebagaimana orang Yahudi dan Nashrani itu). “Wa-la’l-dhallina” ditafsirkan “sampun Tuwan sasaraken ing marga kang ora bener, kaumira baginda Isa ing mami; tegese ikulah amba teda ing Tuwan” (Janganlah Engkau sesatkan aku di jalan yang keliru sebagaimana kaum Nabi Isa, itulah yang hamba minta kepada Engkau).

Penafsiran bahwa bagian akhir Surat Al Fatihah tersebut berbicara tentang kaum Yahudi dan Nashara merupakan penafsiran yang disepakati oleh ulama tafsir. Kesepakatannya adalah “Orang-orang Yahudi adalah mereka yang dimurkai dan orang-orang Nashrani adalah orang-orang yang sesat”. Tafsir Ibnu Katsir menunjukkan Ibnu Hatim berpendapat bahwa ia belum pernah menemukan ada perselisihan di kalangan ulama dalam menafsirkan ayat tersebut. Hal ini didasarkan hadits-hadits dari Rasulullah diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari Hammad ibnu Salamah dari Sammak, dari Murri Ibnu Qatri dari Addi Ibnu Hatim sebagai berikut:

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. tentang pekataan-Nya “Bukan jalan orang-orang yang dimurkai”, lalu beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang Yahudi”. Dan tentang perkataan-Nya “Dan bukan pula jalan-jalan orang yang sesat”. Beliau menjawab: “Orang-orang Nashrani adalah orang-orang yang sesat”.[10]

G.W.J. Drewes, ahli javanologi Belanda, menilai bahwa Surat Al Fatiĥah dalam Lontar Ferrara tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa dengan menggunakan paradigma atau visi mistis.[11] Tidak jelas alasan Drewes beranggapan demikian. Nampaknya ia memang kurang memahami bahwa Surat Al Fatiĥah tersebut telah ditafsirkan dengan menggunakan model tafsir yang lebih dekat dengan penafsiran mu’tabar dalam tradisi Islam. Sedikit kekeliruan mungkin terjadi tetapi nampaknya bukan hal yang fatal.[12]

ETIKA HIDUP MUSLIM
Di antara isi Lontar Ferrara adalah wejangan yang dikatakan berasal dari seorang bernama Syaikh Ibrahim. Wejangan itu dijelaskan dalam 25 (dua puluh lima) poin, diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Menyesali sedalam-dalamnya tindakan dimasa lalu yang keliru, yang tidak bermanfaat dan tidak baik, dan mengembalikan harta orang yang telah diambil secara aniaya. Jika tidak bias mengembalikannya maka mintalah kerelaan dari sang empunya agar menjadi halal (analasa anebataken lampah kang karuhun, kang tanpa gawe, kang tanpa yukti, lawan arep angulihaken artaning wong kinaniaya. Yen tan kawasa angulihaken palampahana halal rewanging asawala, mangkadi i kang linaran atine abcik yang pasunga halal).
  2. Carilah (bertanyalah) ilmu dan berusahalah untuk mengamalkannya dengan kesungguhan (arep atatakena elmu, sakadare andika den lampahaken).
  3. Tidak akan mengucap kata-kata kecuali diperlukan[13], berupayalah untuk selalu menyebut nama Allah (Tan pati angucap-ucap tanseng sepi, nityasa anebut ing Pangeran).
  4. Sadarilah dalam hati bahwa diri berhutang pada Allah, baik saat duduk, makan, tidur, juga dalam berbagai pekerjaan jangan melupakan-Nya (arep angaweruhi, yan kepotangan dening Pangeran ing jroning ati angandel, alungguh amangan turu, si salwiraning karya sampun lali ing Pangeran).
  5. Perbanyaklah amal perbuatan (anglestarekena lampah, lamun abawa rasa).
  6. Carilah seorang guru karena Rasulullah telah bersabda barangsiapa tidak punya guru maka setan akan menjadi guru. Jika tidak ada guru, carilah sanak saudara yang bisa menunjukkan kebaikan dan anggap ia sebagai guru[14] (arep aduwe guru, karana sabda nira baginda Rasulullah alehisalam, sing wong tan ana gurune, setan minaka gurune, yen tan ana kang ginuroaken ameta wong sanak kang asring mamarahi kabcikan ikulah pinabagurua).
  7. Antara mulut dan hati harus sejalan. Jangan terlalu berangan-angan tentang dunia (arep sarta ing ati kalawan ing tutuk. Lawan tanjaa angangen-angen dunya).
  8. Tepatilah ucapanmu, setia dalam perbuatan, dan bertingkah laku baik (arep kukuh ing ujar, satya ing lampah, lawan paripolah abcik).
  9. Bersedia memelihara perut, penglihatan, mulut, ucapan. Sebab jika sudah mengetahui keburukan dalam nafsu, maka tidak terhitung kecintaan dan kemauannya. Jika terlalu sering berkata-kata maka tidak kuasa hatinya diam guna memohon kepada Allah, sebab kedurhakaan dalam ucapan lebih daripada kedurhakaan anggota tubuh lainnya (arep amasesa ing weteng, ing pandeleng ing pangucap, karana lamun wus weruh ing alane ing napsune iku, tan den itung tresnane, lan karepe. Lamun asring angucap-ucap tan kawasa meneng atine dening anambat ing Pangeran, karana doraka ring pangucap lewih saking doraka ing anggota kabeh).
  10. Melaksanakan syari’at dan agama, tidak berbincang-bincang dengan penganut qadariyah, kecuali terpaksa (anglampahaken kajat mikan ing syareat lan agama, tan angucap-ucap lawan kadariyah, liana saking tan upayane).
  11. Tidak makan dan minum jika tidak lapar (atau haus), tidak tidur kecuali mengantuk (tan amangan tan anginum banyu lamun tan kaliwat luwene, tan aturu lamun tan kaliwat aripe).
  12. Tidak berbicara dengan wanita yang menimbulkan birahi (tan angucap lawan wong estri kaenggening tresna).
  13. Memelihara pandangan, tidak terlihat kecuali yang di depan mata, jangan sok ingin tahu isi rumah kaum mukmin, …[15] (rumaksan ing pandulu, tan tumingal lamun tan liana saking ayun, tan amemeruh aningali omahing wong mukmin, …).
  14. Selalu menjaga wudhu[16] (sanalika tan atingal banyu sembahyang)
  15. Tidak duduk bersama kaum munafik yang memiliki sifat hasud, suka memfitnah, orang yang menyeleweng dari aturan agama, kecuali dalam keadaan terpaksa (tan arep alungguh lawan wong munapek kang asud, kang pitenah, kang amemekaken, liana saking tan ana upayane).
  16. Tidak sekedar membicarakan dunia, tidak bertengkar dengan sesama Islam (tan angrancana ujar dunya, tan asawala pada Islam).
  17. Tidak memastikan keberhasilan semua pekerjaan sebab memastikan hal seperti itu adalah munafik. Seharusnya muslim mengucapkan Insya’ Allah untuk urusan seperti itu (nora angucap amasti sapakaryane mapan kang amasti iku munapek, apan kang muslim iku lamun angucap-ucap tan atingal ingsya’ Allah).
  18. Jangan menipu orang, jangan berbohong kepada orang lain, itu membohongi diri sendiri, jangan mengadu domba (aywa ngumpet ing wong, aywa ngucap dudu ning wong, anging awakira uga dudokna, aywa ngadu-adu).
  19. Mengajak orang pada kebajikan dan mencegak perbuatan buruk (arep amamarahi becik ing wong, arep anyegah ing wong alaku ala).
  20. Jangan mengikuti kehendak setan, jangan mempercayai setiap pengaduan hendaknya berbicara (memeriksa) yang benar dan yang salah (aywa anutaken pangrancananing setan aywa idepan ing wawadalan, arep amicara kang iya kang dudu).
  21. Hilangkan sifat pemarah, tetaplah bersabar meskipun ada orang yang membuat jengkel (arep angilangaken srengen, arep sabar darana, lamon ana wong aweh kesel ing ati).
  22. Jangan takabur (sombong) dan berbangga diri, meremehkan orang lain, membanggakan kekayaan, kekuasaan, ucapan siapa bisa menyamai aku, tidak ada yang ditakuti. Malah sifat ujub itu tandanya suka kepada diri dan ucapannya sendiri serta tidak memperhatikan pendapat orang lain (aja takabaur, aja ujub, angalpa ing wong, gungaken ing awake saking kasugihane, saking pangawasane, saking pangucape, sapa kadi aku, tan ana kang den wedeni, malah cihnaning ujub, suka lamun aneng sarirane, sukaning wicarane, tan kaidep wicaraning wong wawaneh).
  23. Jangan mendengki, tidak suka apabila ada orang lain mendapat kelebihan dari Allah berupa harta (uang), ilmu, atau kemampuan (aja dengki, tan suka lamun ana wong winehan kalewihan dening Pangeran, atawa saking arta, saking elmune, atawa saking kabisane).
  24. Jangan berangan-angan dengan menyangka bahwa Allah itu jauh (aja ngangen-angen sangkaning adoha lawan Pangeran).
  25. Berupayalah memiliki empat hal, pertama kendaraan tunggangan yang muat, rumah yang luas, pakaian yang muat, lampu untuk penerang. Rumah yang luas artinya banyak bicara tentang kebajikan, pakaian yang muat adalah sebagai ganti, lampu yang terang artinya ilmu yang benar, yang sejati (arep amadreweken patang prakara, kang sawiji, tutunggangan kang amot, griya ajembar wastra kang kaot, pandam kang apadang. Tegesing umah kang ajimbar, den akeh wicarane maring kabcikan; tegesing wastra kang kaot sampen santun; tegesing dilah kang apadang, elmu kang sabenere, kang satuhune …).
Kitab ini juga mengajarkan tentang bagaimana cara yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk ber-“tapa”. Bertapa bisa dilakukan dengan shalat, membaca Al Quran, duduk (i’tikaf) di dalam masjid, dan memilih-milih teman untuk duduk-duduk (karan tapa iku, asembahyang angaji Al Qur’an, alunggwing masjid, amilih rowang alinggih).

Tulisan dalam lontar tersebut juga menekankan pentingnya mengikuti teladan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Hal itu dilakukan dengan mengikuti perilaku dan menjalankan sunah-sunahnya. Seseorang yang tidak menjadikan beliau sebagai teladan tidak akan dianggap sebagai umat Muhammad. Bahkan sangat mungkin akan terjerumus sebagai pelaku bid’ah atau kafir (lamun ta wong iku, tan atingkahira polahing baginda Rasulullah tan nut sunat jama’at amung pang satingkah lakune, atawa ujare kufur akeh wong iku bid’ah, dudu umat Muhammad. Kinage polahe denira baginda Rasulullah, polahe angrusak agama Islam …).

ETIKA GURU
            Dalam salah satu bagiannya, Lontar tersebut memaparkan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang guru. Karakteristik tersebut dipaparkan dalam 20 (dua puluh) poin sebagai berikut:
  1. Memahami ilmu syari’at baik berupa perintah untuk melaksanakan maupun larangan-larangannya (arep weruh elmu syareat sekira-kirane kang kinon anglampahakna, ingkang nora kawasa ora, muwah ingkang aninggahana lan kasinggahan)
  2. Berpegang teguh pada kebenaran, mengikuti seluruh sunah jama’ah. Menghalangi agar orang tidak murtad dari Agama Islam (sisiskepan arep abener, arut nut ing satingkahing sunat jama’at, aja amung pang, kalawan ta angalangana lamun ana wong tiba saking agama Islam)
  3. Hendaklah berupaya berhati-hatilah dalam beragama dan hiduplah dalam menjalani hidup (arep abudi, den wiweka praniti, atiti ing agama Islam, arep wicaksana tingkahing urip)
  4. Jadilah orang dermawan, penyayang, dan mau membantu orang yang mengalami kesulitan (loma welasan, angamuleni saniskara)
  5. Perhatikan dan hargai sikap para murid, anggap seperti anak cucu sendiri, pakaian dan makanan. Hal itu harapannya agar mereka mampu menjalankan agama Islam, agar mereka tidak berpikiran pendek. Demikian juga apabila memiliki pembantu maka anggaplah sama seperti murid, jangan sakiti hatinya, jangan membuatnya susah. Berbuatlah yang mengenakkan hati orang. Jika ada kekeliruan jangan langsung dibentak, tetapi ingatkanlah dengan nasihat dari para pendahulu (salaf), tetapi jika keadaan darurat maka terpaksa lakukan itu (arep mule uninga, arep anggungaken tingkahing murid den pada gen atingkah, den kadi anak putu, pangane penganggone, arep winehan sangkanane kawasa anglampahana agama Islam, sangkane aja esak. Mangka yan arorowang den apadakaya murid, aja linaran atine, aja aweh susahe arep amakenaki atining wong. Lamun ana kaluputanne, aja age kataragal den aris, arep winaleraken rumuhun, anging laku kang darurat, arep uga linampahaken yan teka. Sing angaranipon arep hebat dening amedeken amet kabcikan ikuta saking sugih nugraha uga)
  6. Utamakan pekerjaan untuk akhirat daripada dunia (arep anggungaken gawe akhirat, aja nilingi panggawe dunya)
  7. Berhati-hati dan tertib dalam menjalankan peraturan agama (arep nastiyapik dening nglakoni agama tarekat)
  8. Berani tanpa khawatir dengan ucapan orang lain (arep wani tan den sangsayaken pangucaping wong)
  9. Sabar dan pemaaf (arep sabar darana pangapura)
  10. Pasrah kepada Allah dan tidak berputus asa (arep pasrah ing Pangeran tan manasika ing kirya upaya)
  11. Bertindak dengan tujuan mulia untuk mendapatkan keselamatan (enging anglampahaken amet karya rahayu)
  12. Jika berhasil atau tidak (dalam usaha) maka hendaknya diterima dengan senang hati (yen oleh tan poliha, anging ananggapana suka)
  13. Menuruti perintah Allah tanpa membantah (anut sarehing Pangeran tan langgana)
  14. Menerima dengan suka cita jika mendapat cobaan Allah terhadap dirinya (suka radin lamun ana cobaning Pangeran teka maring awake, norana rasane atine)
  15. Sabar menghadapi sakit atau mendapat kesusahan hati (darana lamun winehan lara, lamun winehan sekeling ati)
  16. Teguh dan tidak tergoyahkan apabila hendak menjalankan perbuatan baik (arep akukuh tan anambah manih, dening ayun anglampahaken rahayu karya)
  17. Bersyukur dan taat kepada Allah (arep sukur, santosa ing Pangeran)
  18. Menyembunyikan saat sedekah (anilibaken lamun asidekah)
  19. Menyembunyikan apabila mendapat anugerah sakit dari Allah (anilibaken lamun sinung lara dening Pangeran)
  20. Merahasiakan ibadahnya dari manusia yang lain (aningidaken pangabekti)
Selain itu seorang guru hendaknya memiliki tanda yang lain yaitu  aluwe (lapar atau menjalankan ibadah puasa),[17] atangi ring wengi (bangun malam, maksudnya bangun untuk melaksanakan shalat malam), dan meneng alungguh dhewek (duduk terdiam sendirian). Ketiga hal ini masing-masing memiliki tujuan dan manfaat tersendiri. Dengan menjalankan puasa maka seseorang akan mendapatkan cahaya. Sedangkan shalat malam akan menjadikan hati terang. Sementara itu berdiam diri sendirian akan memudahkan seseorang untuk memandang hina terhadap dunia.

PERINGATAN TENTANG KAFIR
            Perilaku kufur juga mendapatkan sorotan dalam Lontar Ferrara. Perilaku-perilaku ini ditempatkan sebagai semua perbuatan yang sengaja menghalangi agama Islam. Perilaku yang harus dihindari oleh seorang mukmin agar tidak terjerumus dalam kekafiran tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Ikut menyembah berhala (kaya wong anembah brahala)
  2. Mengikuti pepujian atau upacara keagamaan orang kafir (atanapi milua ing pujiane wong kapir)
  3. Ikut mengeluarkan sesaji (milua ababanten)
  4. Merendahkan wahyu Allah, baik dengan menyangkal kebenaran maupun keberadaannya. Misalnya menganggap bahwa Al Quran yang terdiri dari 30 juz itu bukanlah wahyu dari Allah, menyelewengkan dalil Allah, atau memaki kebenaran kalam Allah (anginaa sastra Pangeran, den paidoa, atawa den alpaa, kang kuran tigang puluh jus iku, deng sengguha dudua andikaning Allah. Atawa anaha analibana dalil, ing Pangeran iku atawa anglewihana, andikaning Pangeran)
  5. Memaki Allah dan Rasul utusan Allah atau Malaikat (yang angucapa ala ing Pangeran muwah ing sakehing utusaning Pangeran, atawa yang malaikat)
  6. Menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal sebagaimana yang dibicarakan dalam empat madzhab (angalalena kang  haram atawa ngramna kang halal kang saujaring patang madahab)
  7. Menganggap sunat hal yang wajib dan menganggap wajib hal yang sunat (kang perlu den arani sunat, kang sunat diarani parlu)
  8. Mengaku sebagai nabi atau rasul setelah Nabi Muhammad. Hal ini termasuk meyakini atau bahkan mengikuti orang yang mengaku sebagai Nabi setelah beliau (ana wong angakua utusaning Pangeran, ing sauwus ilanging Nabiyulllah, atawa ingajak manira atawa ing sajaman iki atawa angaku ingsun nabi atawa ikang adidepa ing ujare iku, sakabehe iku dadi kapir)
  9. Menuduh kafir terhadap saudaranya yang muslim[18] (wong Islam den aranana kapir, nora ta atut saking pangucape kang angucap iku dadi kapir)
  10. Senang apabila dianggap kafir atau berfikir sebagai orang kafir dan membantu semua perbuatan orang kafir (siang sapa suka ingaran kapir dadi kapir)
  11. Bersahabat dengan orang kafir, memandang baik terhadap kekafiran, dan mengikuti semua perilaku kafir (lamun ana wong Islam asih ing kafir atawa aidep ing kafir, milu satingkahing kapir)
  12. Jika ada orang kafir yang berjanji suatu saat akan masuk Islam kemudian mati tanpa sempat bersyahadat maka ia belum Islam (lamun ana wong kapir arep dadi Islam, ujare wong iku besuk ingsun Islam, nuli besukane mati durung ta asadat, nora dadi wong Islam iku)
  13. Meremehkan sunnah Nabi. Hal ini dicontohkan ketika ada orang diminta untuk mencukur rambut, memotong kuku karena itu adalah perintah Rasulullah. Tetapi orang itu kemudian mengatakan bahwa dirinya menolak meskipun itu adalah dicontohkan oleh Nabi sekali pun. Penulis lontar ini menganggap bahwa itu merupakan perilaku kufur (ata wong akona akurisa adastara kaki sira, atugela kuku iku laku abcik, lakunira baginda Rasulullah, den saurana ta mangkene saki lapane nora ingsun agelem kadi ujarira iku, yen lakuni Rasulullah, pan ingsun ora arep, yen ingsun aidepa kupur wong iku)
  14. Menghina semua Nabi (amadaa ing nabi kabeh, sakehe utusaning Pangeran)
  15. Menghina sahabat Nabi (amadaa ing sabating Rasulullah)
  16. Mengaku sebagai Tuhan dan berkeyakinan bahwa Allah tidak mengetahui segala sesuatu (sing sapa angucapa awake Pangeran kupur, utawa angucap ing Pangeran ora weruh, ingkang durung ana)
  17. Mengatakan bahwa dirinya sudah bertemu Allah, bidadari surga dan memakan buah-buahan surga (angucap yen wus sanpe ing Pangeran utawa angucap ya wis atetamu lan widadari atawa angucapa yan wus amangan wowohaning suwarga kabeh iku kupur)
  18. Melebihkan imam-imam dibandingkan para Nabi, menganggap para wali lebih agung dari Nabi, melebihkan mereka dari Nabi Muhammad (imam kang agung-agung iku, angalahaken para nabi, atawa wali den lewihakna saking nabi, den lewihakna saking baginda Muhammad, kapir)
  19. Dan lain sebagainya.
MEMELIHARA HATI
            Lontar ini juga memuat 8 (delapan) hal yang dikatakan akan mematikan hati, antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui kewajiban berbakti kepada Allah, namun tidak mau melaksanakannya (wong kang weruh pangabektine ing Pangeran, tur tanoradena degaken)
  2. Membaca Al Quran namun tidak melaksanakan isinya (amaca qur’an nora denlakoken)
  3. Mengaku cinta kepada Nabiyullah namun sunahnya ditinggalkan (angucap asih ing Nabiyullah tur ta sunat den tinggalaken)
  4. Mengucap takut mati namun tidak mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian (angucap awdi mati nora taden cangaken pakolihing kapaten)
  5. Mengatakan bahwa setan adalah musuh namun berlaku buruk mengikuti kejahatan setan (angucap setan pinaka satrune tur tu lumaku ala atut salaning setan)
  6. Mengaku takut api neraka namun menyulutkan api ke badannya sendiri (angucap awdi ing api naraka tur ta suled dawake)
  7. Berkata senang dengan surga namun tidak bertindak kebajikan yang membawa ke surga (angucap asih ing swarga tur ta nora den lampahi karya abcik kang sangkene olih swarga)
  8. Berkeinginan mengetahui keburukan orang lain. Ini sama halnya dengan meletakkan setan ke dalam diri, sehingga setan-setan itu mengelilingi lahir dan batinnya (lamun sira atangi dera buncalaken awakira sakehe alanira, wadanira dera pungkuraken angung dera kawruhi alaning wong, wadaning wong, oleh dosa roro sira ing Pangeran, kaya paran ta katanggapana panene dan ira iku, lamun sira ngalepana setan kang aneng awakira ikut kang angideri awakira jrone iku)
Ada pun hal-hal yang menjadi penerang hati (amadangaken ati) juga diterangkan antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Shalat (asembahyang)
  2. Mengkaji Al Quran (angaji Qur’an)
  3. Duduk di dalam masjid (alungguh ing masjid)
  4. Bercakap-cakap dengan ulama (angucap-ucap lawan pandita)
  5. Memilih teman untuk duduk (amilih rowang ing alinggih)
  6. Mengurangi makan (aneli angirangana pangan)
  7. Mengurangi berkata-kata (angirangi ujar)
  8. Banyak bertaubat (akeh atobat)
  9. Membantu anak yatim (adamela sandang sing anak yatim)
  10. Berjemur diri di bawah sinar matahari agar lebih sehat (tatamba arep srengenge)
  11. Mengambil air wudhu (amet banyu sembahyang)
  12. Meminum air dalam jumlah banyak (anginuma banyu den akweh)
  13. Sujud diiringi perasaan bahwa dirinya hanya tercipta dari tanah yang dibakar (asujuda angrasa yan dinadekan saking bhumi bong iki).
Sebagian dari hal-hal yang dimasukkan sebagai penerang hati di atas kandungannya mengingatkan akan keberadaan dan isi syair “Tamba Ati” (obat hati), sebuah tembang puji-pujian yang sangat populer di kalangan masyakat Jawa. Pepujian yang sering disenandungkan di Masjid-masjid Jawa pada masa lampau ini juga diyakini tercipta pada Jaman Kawalen. Salah satu versi syairnya adalah sebagai berikut: “Tamba ati iku ana limang prekara, kaping pisan maca Qur’an sak-maknane, kaping pindho shalat wengi lakonana, kaping telu dzikir wengi ingkang suwe, kaping papat wetengira ingkang luwe, kaping lima wong kang sholih kumpulana, salah sawijine sapa bisa anglakoni Insya’ Allah gusti Allah ngijabahi” (Obat hati itu ada lima perkara, yang pertama membaca Al Quran beserta maknanya, yang kedua kerjakan shalat malam, yang ketiga dzikir malam perpanjanglah, yang keempat perut yang lapar (puasa), yang kelima berkumpullah dengan orang-orang shalih, salah satunya jika bisa menjalankan Insya’ Allah gusti Allah akan memberikan ijabah).

PENUTUP
            Lontar Ferrara merupakan naskah klasik Jawa yang mencerminkan prototype ajaran Islam sekitar abad XV atau XVI, era dimana Wali Sanga diyakini eksis. Kitab ini secara umum berisi pembicaraan secara umum terhadap aspek tauhid, ibadah, tafsir, dan penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs). Pembicaraan itu diantaranya berkisar tentang penafsiran Surat Al-Fatihah yang diantaranya berisi permohonan agar umat Islam, termasuk masyarakat Jawa, tidak menjadi kaum yang dimurkai sebagaimana Yahudi dan umat yang tersesat sebagaimana Nashrani. Menerangkan pula tentang etika hidup beragama yang harus dimiliki oleh seorang guru dan muslim secara keseluruhan. Juga tentang bagaimana memandang dan menjalani kehidupan dengan kebersihan hati. Intinya, kehidupan akan mencapai keselamatan apabila setiap muslim memahami ajaran Islam dengan baik dan mengikuti keteladanan hidup Nabiyullah Muhammad S.a.w. Wallahu a’lam bishshawab. [Susiyanto]

FOOTNOTE

[1] A. Mukti Ali, The Spread of Islam in Indonesia, Yogyakarta: Nida, 1970, p. 15-16
[2] Meskipun cerita tentang Wali Sanga tersebut telah berbalut dengan mitos dan sebagian sukar dipercaya sebagai historis namun cerita tersebut bukan tidak ada gunanya. Setidaknya cerita-cerita ini menunjukkan suatu nilai budaya dan pandangan hidup yang diyakini oleh masyarakat empunya cerita. Setidaknya Wali Sanga di sini digambarkan sebagai sebuah prototype lokal yang sempurna untuk menunjukkan model keislaman yang baik. Dalam kajian yang sama bisa juga diperoleh suatu kajian tentang tipe kepribadian yang banyak dianut oleh masyarakat pada saat mitos semacam ini tumbuh. Meski demikian memang disadari bahwa mitos dan pemitosan seperti ini juga akan membawa kebuntuan terhadap hal yang bersifat lebih serius, tanpa menganggap hal yang lain tidak serius, seperti kajian sejarah atau keagamaan. Sebagai pembanding Lih: James Danandjaja, Folklor sebagai Bahan Penelitian Antropologi Psikologi, dalam Analisis Kebudayaan No. 3 Th. IV/ 1983-1984, p. 61-69
[3] Jaman Kewalen atau Jaman Kuwalen adalah ungkapan masyarakat Jawa dan juga ungkapan populer yang termuat dalam sejumlah naskah klasik Jawa untuk menyebut era dimana yang diyakini para anggota Wali Sanga hidup.
[4] G. W. J. Drewes, Perdebatan Walisongo Seputar Makrifatullah, Terjemahan dari An Early Javanese Code of Muslim Ethics penerjemah: Wahyudi, Surabaya: Alfikr, 2002, p. 1
[5] G. W. J. Drewes, Perdebatan Walisongo …, p. 5, 23-24
[6] M. Shaleh Putuhena, Historiografi Haji Indonesia, Yogyakarta: LKiS, 2007, p. 94-95
[7] Syaikh Lemah Abang dianggap sebagai nama sebutan lain dari Syaikh Siti Jenar. Meskipun demikian sebenarnya pengartian kata Siti Jenar menjadi Lemah Abang atau Sitibrit (Siti Abrit) itu agak membingungkan. Kata Siti memang bermakna lemah (tanah), namun kata “jenar” harusnya diartikan sebagai warna “kuning”, bukan merah (abang).
[8] Lihat: Serat Musawaratipun Para Wali, Yogyakarta: Kulawarga Bratakesawa, 1959.
[9] Lihat: P. S. Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda / Babad Cirebon, Cirebon: tp, 1984, p. 89-93; Kitab Babad Cirebon, sebuah koleksi naskah klasik yang dimiliki Kraton Kasepuhan Cirebon nampaknya tidak banyak memberikan informasi tentang riungan (sarasehan) ini. Lih: Tim Kraton Kasepuhan Cirebon, Babad Cirebon: Koleksi Naskah Kuno Kraton Kasepuhan Cirebon, Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2003
[10] Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, Bandung: Sinar Baru Algresindo, 2000, p. 147
[11] G. W. J. Drewes, Perdebatan Walisongo …, p. 32
[12] Misalnya sedikit kekeliruan itu nampak ketika menafsirkan kata “maghdubi” (orang-orang yang dimurkai)  dengan “Yahudi Nashrani”. Sementara hadits Nabi di atas menjelaskan bahwa ungkapan tersebut ditujukan untuk “Yahudi” saja. Penafsiran Ghairil ‘l maghdubi ‘alaihim  dan Wa-la’l-dhallina dengan menggunakan hadits ini telah tercantum pada kitab-kitab tafsir yang masyhur. Hamka dalam Tafsir Al Azhar menawarkan bahwa hadits ini pun memerlukan penafsiran lagi. Perhatian kita hendaknya jangan hanya terpaku pada Yahudi dan Nashrani saja, namun juga difokuskan untuk memahami sebab-sebab mengapa Yahudi dikatakan kena murka dan Nashrani dikatakan tersesat. Menurut Hamka, Yahudi dimurkai oleh Allah karena mereka selalu mengingkari segala petunjuk yang dibawa oleh rasul mereka, sehingga Nabi Musa pun mengatakan bahwa mereka “keras tengkuk”, tak mau tunduk bahkan mereka membunuh nabi-nabi. Nashrani dikatakan sesat karena mereka terlalu cinta kepada Nabi Isa sehingga mereka katakan Isa itu anak Allah, bahkan Allah sendiri menjelma menjadi anak, datang ke dunia untuk menebus dosa manusia. Lih: Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz I, Jakarta: Pustaka Panjimas, 2001, p.113-114
[13] Hadits tentang pentingnya berhati-hati dalam perkataan diantaranya:
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berimana kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari No. 5559)
Hadits yang serupa dengan berbagai variasi terdapat juga dalam Shahih Muslim hadits No. 67, 68, 69, 3255, dan lain sebagainya.
[14] Ungkapan ini sebenarnya bukan merupakan hadits atau ucapan Rasulullah. Kitab-kitab tasawuf sering membahas hal ini dalam tema tentang urgensi memiliki guru dalam mempelajari agama.
[15] Hal ini merupakan salah satu keistimewaan ajaran Islam yang berupaya memelihara dan menghormati privasi setiap individu. Hadits Nabi yang mengajarkan agar seorang mukmin tidak mengintip rumah saudaranya kecuali ada ijin sebelumnya banyak ditemukan diantaranya adalah sebagai berikut:
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan, Az Zuhri berkata; “Aku telah menghafalnya sebagaimana dirimu di sini, dari Sahl bin Sa’d dia berkata; “Seorang laki-laki pernah melongokkan kepalanya ke salah satu kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, waktu itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tengah membawa sisir untuk menyisir rambutnya, lalu beliau bersabda: “Sekiranya aku tahu kamu mengintip, sungguh aku akan mencolok kedua matamu, sesungguhnya meminta izin itu di berlakukan karena pandangan.” (HR. Bukhari No. 5772). Hadits serupa juga dapat ditemukan dengan sejumlah variasi misalnya dalam H.R. Bukhari No. 6391, 6392, dan 6393; Shahih Muslim hadits No. 4013, 4014, 4015, dan 4017; Sunan Abu Dawud hadits No. 4503 dan 4504; dan lain sebagainya.
[16] Diantara keutamaan menjaga Wudhu terdapat dalam Hadits Riwayat Bukhari sebagai berikut:
‘Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Nashr telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Abu Hayyan dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepada Bilal radliallahu ‘anhu ketika shalat Fajar (Shubuh): “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga”. Bilal berkata; “Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu’) pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat dengan wudhu’ tersebut disamping shalat wajib”. Berkata, (Abu ‘Abdullah): Istilah “Daffa na’laika maksudnya gerakan sandal”. (HR. Bukhari No. 1081)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid Al Muqri`. Dan menurut jalur yang lain; telah menceritakan kepada kami Musaddad dan telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ziyad, Abu Dawud berkata; Saya lebih hafal hadits Ibnu Yahya dari Ghuthaif, dan Muhammad berkata; dari Abu Ghuthaif Al Hudzali; Saya pernah bersama Abdullah bin Umar, ketika adzan dzuhur dikumandangkan, dia berwudhu lalu shalat. Tatkala adzan Ashar dikumandangkan, dia berwudhu kembali, lalu aku bertanya kepadanya (tentang hal itu), maka dia menjawab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu dalam keadaan suci (masih memiliki wudhu), maka Allah menulis untuknya sepuluh kebaikan.” Abu Dawud berkata; Ini adalah hadits Musaddad, dan ia lebih sempurna’. (HR. Abu Dawud No. 57, dalam sanad hadits ini terdapat Abdur Rahman bin Ziyad bin An’um dan Ghuthaif. Terkait Abdur Rahman bin Ziyad bin An’um, para ulama seperti Yahya bin Ma’in, Abu Zur’ah, An Nasa’i, As Saji, Ibnu Hajar Asqalani, dan Adz Dzahabi menyatakan bahwa ia “dha’if”; Ibnu Kharasy berkomentar “matruk”, Ahmad bin Hambal mengatakan “laisa bi syai’”; dan  Ya’kub bin Sufyan mengatakan “la ba’sa bih”. Sedangkan untuk Ghuthaif, At Tirmidzi mendoifkannya)
[17] Selain sering menjalankan puasa, Rasulullah Muhammad sendiri digambarkan sebagai orang yang paling banyak mengalami lapar dibanding kenyang. Sebuah gambaran dari riwayat Ahmad misalnya menjelaskan hal ini:
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’d dari Yazid bin Abu Habib dari Ali bin Rabah ia berkata, saya mendengar Amru bin Ash berkata, “Di waktu pagi dan sore hari kalian lebih mencintai sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap zuhud terhadapnya. Kalian lebih mencintai kehidupan dunia, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap zuhud di dalamnya. Demi Allah, tidaklah berlalu satu malam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali laparnya lebih banyak daripada kenyangnya.” Lalu sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, “Sungguh, saya telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencari pinjaman.” (H.R. Ahmad No. 17149, dalam jalur sanad hadits ini terdapat Ali bin Rabbah bin Qumair. Ulama antara lain Ibnu Saad, Al ‘Ajli, An Nasa’i, dan Ibnu Hajar menyebut ia “tsiqat”. Ibnu Hibban mengatakan: “disebutkan dalam ats-tsiqaat”. Sementara Adz Dzahabi mengatakan: “mereka mendha’ifkannya”).
[18] Tuduhan kafir terhadap saudaranya sesama muslim bisa berakibat bahwa kekafiran itu kembali kepada salah satunya. Misalnya dinyatakan dalam hadits sebagai berikut:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr dan Abdullah bin Numair keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut.”  (HR. Muslim No. 91). Hadits yang semisal juga terdapat dalam hadits Bukhari No. 5638 dan lain-lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar