Senin, 06 Mei 2013

Transkripsi Kakawin Bharata -Yuddha I ( 5 s/d 10 ) Oleh Prof. Dr. R.M. Soetjipto Wiryosuparto


Denmas Priyadi Blog│Senin, 06 Mei 2013│20:43 WIB 

Kurawa


5. Sampun mangkana sukhmarehnira bhattara telasira maweh anugraha. Tan dwanut samusuh narecwara padda prannata teko ri Hemabhupati. Enak tandelireng sarat maling aweh ri cakti sang prabhu.
Anghing tan wedi sabsabing wang ahajeng teka sumilib I tambwanging wulan.
5.Setelah dewa Syiwa member anugrah, dewa Syiwa itu sesuai dengan tabiatnya menghilang.
Semua musuh raja Jayabaya kemudian tunduk dan bersembah kepadanya, bahkan juga raja Sumatera. Seluruh dunia menjadi tenteram dan percaya kepadanya; tidak ada pencuri lagi, karena mereka telah lari, takut akan kesaktian sang raja. Tetapi mereka yang mencuri orang perempuan yang indah (tetap) tidak takut; pada waktu bulan purnama mereka berkelilingan secara diam-diam.
6.Nahan dong empu seddah makirrtya caka-kala ri sanga kuda cuddha candrama.
Sang sakshat Harimurtti yan katiga nitya makapalana kecaning musuh.
Sang Iwir Lek pratipada cukla pinalakwan ahuripa wijilnireng ripu.
Ring prang darppa Pacu prabhupamanirahyun i kadungulaning parangmuka.
6.demikianlah yang menjadi tujuan empu Seddah ketika ia berjasa dengan membuat cerita sejarah pada tahun Caka Sanga Kuda Cuddha Candrama.
Sang raja mempunyai rupa seperti dewa matahari pada musim kemarau dan pelananya berupa rambut musuh dan mempunyai rupa seperti bulan pada waktu paro putih; ia selalu diminta untuk menyelamatkan hidup anak dan keturunan musuhnya.
7.Byaktacamana pada-pangkaja bhattara Ciwa marang umastawa sira.
Yogyan manggalaning miket prangira Panddawa makalaga Korawecwara.
Ndan duran kawacahalib kadi sereh pamahugi mahapu susuh geseng.
Manggeh tan seddepanya ring waja tuhun palaren amanguna ngresing hati.
7.jelaslah bahwa jika orang bersembah kepada kakinya yang bersifat bunga teratai, persembahannya itu sama dengan bersembah kepada sang Syiwa.
Alangkah baiknya apabila yang tersebut di atas itu dipergunakan sebaggai pendahuluan membuat pujian tentang peperangan antara orang-orang Pandawa melawan raja Kurawa.
Sangat sukarlah untukku menulisnya; tidak mungkin (rasanya) karena pekerjaan ini menyerupai suguhan daun sirih yang berkapur rumah siput yang gosong waktu dibakar.
Sungguh tidak enak rasanya untuk gigi; walaupun demikian akan diusahakan juga supaya (cerita ini)dapat membangkitkan rasa pilu dalam hati.
8.Nguni kala nararyya Khresnna pinakacra yanira naranatha Pannddawa.
Sinwikara kinon lumakwa ddatengeng Kurupatimangaran Suyodhana.
Tan len denaniramalakwa ri kapaliha ni pura nararyya Pannyapwan pasraha tuta rakwa yadi tan pasunga karannaning prang adbhuta.
8.Dahulu kala Kreshna diminta pertolongannya oleh raja Pandawa. Ia didesak untuk pergi ke raja Kurawa yang bernama Suyodhana. Tujuannya tidak lain ialah membagi dua Negara untuk raja Pandawa.
Jika ini dikabulkan aka nada damai, tetapi apabila ini tidak dikabulkan akan menimbulkan perang dahsyat.
9.Ndah mangkat sira cighra sangka ri Wiratta dinuluring anama Satyaki.
Enggal prapta tekap ni cakti ni turangganira pinndda manglayang.
Kongang decanikang Gajahwaya-purahawuk inemuka ing hudan riwut.
Oruk warnnani wannddiranya kadi coka makemul I paninggaling priya.
9.Maka dari itu raja Kreshna pergi dengan segera dari Wirata dengan diantar oleh Satyaki. Karena kesaktian kudanya yang seolah-olah terbang di angkasa, dengan segera ia dating. Negeri Gajahwaya (Hastinapura) dengan kotanya tampak di mata, tetapi agak samar-samar karena tertutup oleh hujan lebat. Pohon beringin cemas, seolah-olah susah seperti orang perempuan yang berselimut (karena susah) ditinggalkan oleh kekasihnya.
10.Puncak-puncak i gopuranya hatur anghadddanga ri sira mungwa ring henu.
Kadyagya ri teka Janarddana panambay i patapanikangawe katon.
Warnnanambaha pangnikang bhujaga-pushpa mageyuhan umimba kanginan.
Sakshat lakhsmyanikang puri Kuru 
matakwana ri milu nuraryya Pannddawa.
10.Puncak gapura seolah-olah menunggu kedatangannya di tepi jalan dan sinarnya kelihatan seolah-olah melambai untuk mempercepat kedatangan raja Kreshna. Dahan-dahan pohon nagasari yang oleh tiupan angin bergerak-gerak seolah-olah memberi sembah. Pohon-pohon itu seolah-olah berupa orang-orang perempuan yang elok di kota raja Kurawa dan menanyakan tentang ikut sertanya raja-raja Pandawa.


Sumber:
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosupatro: “Kakawin Baratha -Yuddha” Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1968 – Penerbit Bhratara – Jakarta.
Posted:
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor
 
Denmas Priyadi Blog: WAYANG ISLAMI: Transkripsi Kakawin Bharata -Yuddha I ( 5 S/D 10 )...: Denmas Priyadi Blog│Senin, 06 Mei 2013│20:43 WIB Sri Kreshna 1. Sampun mangkana sukhmarehnira bhattara telasira ma...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar