Sabtu, 24 Desember 2011

"Bilingualism" Theater Tradition Today by Prof. Dr. Edi Sedyawati



Prof. Edi Sedyawati
SUNDAY, DECEMBER 11, 2011 - DENMAS PRIYADI BLOG : Slower than the traditional dances that have been introduced in Unity in Diversity forum since the 1950's on August 17 events, theater tradition beginning exposition in a similar forum in 1977 when first the Directorate of Arts in collaboration with the Jakarta Arts Council collect six forms of theatrical traditions from various regions to berpentas together in TIM (Taman Ismail Marjuki). This time, at the end of 1980, both attended the same institution effort with 7 forms of theatrical traditions and 6 forms of art from various regions said. Apart from all the shortcomings and limitations, this business is significant as an attempt to cause the situation to know each other.

Theatrical tradition is part of reality in the world of Indonesian art. In most cases, he found living in two worlds cultural environment. On the one hand he was raised by a particular culture, which in the context of Indonesian nationalism, this is called cultural areas that have a number of traits that fostered through the constancy of tradition. On the other hand, he also adapted and reshaped by the needs of a stretch of the broader culture, which does not merely embrace the taste of his native tradition. From this situation arises the first problem: theater traditions for whom?

Theatrical tradition has undergone a shift in ownership. If at first he only felt as a group owned by supporters of a particular culture, they now are from other areas are encouraged to have a sense of ownership over it anyway. Legitimately have stated that the culture of Indonesia is the entire regional cultures (plus everything that grows in this country but outside the context of local cultures). Thus, an issue both may also appear here: theater traditions of a culture area can earn income on the taste or concepts from other areas of culture. And a wider door opening also allows the entry of the ideas and tastes of other States. Things like that has happened so often in the past and definitely still a lot will happen in the days to come.

These changes occur not solely caused by a circle holding a type of theatrical tradition becomes more widespread, but it could also be due to humans supporting local culture itself has changed: due to changes in the way of life, because the change of generations. In this case there was an internal development in the theatrical tradition is concerned, where the factor determining the changes that most of the talking is saturation and berpetualan. The conditions of these internal balance shows the difference between the saturation factor and adventure on the one hand, with violence on the other factors are in one values
​​the beauty of a well-established and safe.

Changes in society and culture has brought the tradition to experience theater and also the changes in form and concept. Technical and conceptual developments are not infrequently accompanied by Changes inprocedural and organizational.
Then the third problem that arises is the problem of Art History, where the elements that tend to persist and persist, and whether the dynamic elements are the same on every form of theatrical tradition. (Reference: GROWTH ART SHOW / Edi Sedyawati / Rays hope th. 2000)

NOTE:
1) Traditional Theatre Week 1977, featuring: ketoprak ongkek (Yogya), ubruk (West Java), mamanda (South Kalimantan), supportive (Riau) and mask prembom (Bali).
2) In 1980, the adjacent two occasions, namely the Comparative Study of Theatre speak on 2-3 November and the People's Performing Arts Festival on December 10 to 14, has shown:  

a) Seven forms of theatrical tradition, namely: ketoprak ongkek (Yoya), makyong (Riau), ludruk made ​​(East Java
Java), dulmuluk (South Sumatra), supportive (West Kalimantan), puppet gong (South Kalimantan), Sandiman / theatrical mamanda (East Kalimantan), and Cupak-Grantang (Lombok) and Anggun Nan Tongga (Minang) which are both referred to as ballet.
b) Six-spoken art form, namely: plash (Lombok), cekepung (Bali), sinrili (South Sulawesi), puppeteer jemblung (Central Java), templing / kentrung (East Java) and warahan (Lampung)
.

“Bilingualism”  Teater Tradisi Kini  by Prof. Dr. Edi Sedyawati

Lebih lambat dari tari-tarian tradisi yang sudah mulai diperkenalkan di forum Bhineka Tunggal Ika sejak tahun 1950-an pada acara-acara 17 Agustus, teater tradisi baru mulai eksposisinya  dalam forum serupa pada tahun 1977 ketika pertama kali Direktorat Kesenian bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta mengumpulkan enam bentuk teater tradisi dari berbagai daerah untuk berpentas bersama di TIM (Taman Ismail Marjuki).  Kali ini, di akhir 1980, kedua lembaga yang sama mengusahakan hadir bersamanya 7 bentuk teater tradisi dan 6 bentuk seni tutur  dari berbagai daerah.   Lepas dari segala kekurangan dan keterbatasannya, usaha ini cukup berarti sebagai upaya untuk menimbulkan situasi saling kenal.
Teater tradisi merupakan sebagian dari kenyataan dalam dunia kesenian Indonesia.  Dalam kebanyakan kasus, ia terdapat hidup dalam lingkungan dua alam budaya. Di satu pihak ia ditumbuhkan oleh suatu kebudayaan tertentu, yang dalam konteks kenasionalan Indonesia, ini disebut kebudayaan daerah yang mempunyai sejumlah ciri khas yang dibina lewat keajegan tradisi.  Di pihak lain, ia juga disadur dan dibentuk kembali oleh kebutuhan suatu hamparan kebudayaan yang lebih luas, yang tidak semata-mata menganut cita rasa tradisi asalnya.  Dari situasi ini timbul masalah pertama: teater tradisi untuk siapa?
 
Teater tradisi telah mengalami pergeseran kepemilikan.  Kalau semula ia hanya dirasakan sebagai milik oleh suatu kelompok pendukung kebudayaan tertentu, kini mereka yang dari daerah lain pun didorong untuk mempunyai rasa kepemilikan pula atasnya.  Secara sah telah dinyatakan bahwa kebudayaan Indonesia adalah keseluruhan kebudayaan-kebudayaan daerah (ditambah segala yang tumbuh di negeri ini tetapi di luar konteks kebudayaan-kebudayaan daerah).  Maka, maslah kedua dapat pula tampil di sini: teater tradisi dari suatu kebudayaan daerah dapat memperoleh pemasukan cita rasa ataupun konsep-konsep dari kebudayaan daerah lain.  Dan suatu pembukaan pintu lebih lebar memungkinkan pula masuknya gagasan-gagasan dan cita rasa dari Negara-negara lain.  Hal seperti itu sudah sering terjadi di masa lalu dan pasti masih banyak akan terjadi pula di masa yang akan datang.

Perubahan-perubahan terjadi bukan semata-mata disebabkan karena lingkaran pemilikan suatu jenis teater tradisi menjadi lebih luas, tetapi bisa pula karena manusia-manusia pendukung kebudayaan daerah itu sendiri telah berubah: karena perubahan cara hidup, karena pergantian generasi.  Dalam hal ini terjadilah suatu perkembangan internal di dalam teater tradisi yang bersangkutan, dimana factor penentu perubahan yang paling banyak bicara adalah kejenuhan dan berpetualan.  Kondisi-kondisi internal ini memperlihatkan perbedaan perimbangan antara factor kejenuhan dan petualangan di satu pihak, dengan di pihak lain factor kekerasan berada dalam satu tata nilai keindahan yang mapan dan aman.

Perubahan-perubahan masyarakat dan budaya telah membawa serta teater tradisi untuk mengalami juga perubahan-perubahan dalam bentuk maupun konsep.  Perkembangan teknis dan konseptual tidak jarang disertai pula dengan perubahan-perubahan procedural dan organisatoris.

Maka masalah ketiga yang timbul adalah masalah Sejarah Kesenian, unsure-unsur mana yang cenderung untuk menetap dan bertahan,  dan apakah dinamik unsur-unsur ini sama pada setiap bentuk teater tradisi.  Dalam ulasan ini penulis dengan sengaja tidak menggunakan intilah “pertunjukan rakyat”, karena kata “rakyat” itu dapat diartikan dengan berbagai cara.  Kata itu dapat merupakan lawan dari feodal atau istana.  Kalaupun definisinya ditetapkan, toh tidak akan praktis untuk pembicaraan sekarang, karena dalam kenyataan, suatu bentuk teater atau bentuk tari dapat berubah dari bersifat rakyat menjadi tidak, atau sebaliknya.  Maka istilah “teater tradisi” saja yang dipakai, dengan batasan yang cukup luas pula, teater yang terkait pada tradisi, atau yang mempunyai tradisi.(Referensi: PERTUMBUHAN SENI PERTUNJUKAN/Edi Sedyawati/Sinar Harapan th. 2000) 

CATATAN : 
1)      Pekan Teater Tradisional tahun 1977 menampilkan:  ketoprak ongkek (Yogya), ubruk (Jawa Barat), mamanda (Kalimantan Selatan), mendu (Riau) dan topeng prembom (Bali).
2)      Pada tahun 1980, dalam dua kesempatan yang berdekatan, yaitu Studi Perbandingan Teater Bertutur tanggal 2 – 3 Nopember dan Festival Seni Pertunjukan Rakyat tanggal 10 – 14 Desember, telah ditampilkan:
a)      Tujuh bentuk teater tradisi, yaitu:  ketoprak ongkek (Yoya), makyong (Riau), ludruk besutan (Jawa Timur), dulmuluk (Sumatera Selatan), mendu (Kalimantan Barat), wayang gong (Kalimantan Selatan), sandiman/sandiwara mamanda (Kalimantan Timur), serta Cupak-Grantang (Lombok) dan Anggun Nan Tongga (Minang) yang keduanya disebut dengan istilah sendratari.
b)      Enam bentuk seni bertutur, yaitu: cepung (Lombok), cekepung (Bali), sinrili (Sulawesi Selatan), dalang jemblung (Jawa Tengah), templing/kentrung (Jawa Timur) dan warahan (Lampung)    












       

Jumat, 23 Desember 2011

Bola Misterius Ditemukan di Namibia - Yahoo!

Bola Misterius Ditemukan di Namibia

Bola misterius yang ditemukan di Namibia
Bola  misterius  ditemukan  di  Nambia

Sekitar 18 meter dari tempat ditemukannya bola ini, terdapat sebuah lubang sedalam 33 sentimeter dan lebar 3,8 meter. Sebelum bola ini ditemukan oleh petani di tanahnya, sejumlah warga mengaku mendengar ledakan kecil beberapa hari sebelumnya.

Menurut ahli forensik, Paul Ludik, bola itu terbuat dari paduan logam yang dikenali oleh manusia. "Bola memiliki permukaan kasar dan tampaknya terdiri dari dua bagian dilas bersama-sama," kata Ludik seperti dikutip kantor berita AFP. Dia menjelaskan bahwa ledakan yang didengar oleh penduduk setempat merupakan 'sonic boom' ketika benda itu turun ke bumi, atau suara akibat benturan dengan tanah.

Deputi Inspektur Polisi Jendral Vilho Hifindaka menyimpulkan bola tidak menimbulkan bahaya apa pun. "Ini bukan bahan peledak, melainkan bola berongga, tetapi kami harus menyelidiki semua ini dulu," katanya.



ACHMAD SADALI KNOW (1924 - 1987) by Agus Sachari

Achmad Sadali KNOW (1924 - 1987)
FLOWER ARANGEMENT

ACHMAD SADALI 
FRIDAY, DECEMBER 23, 2011 - DENMAS PRIYADI BLOG :  A painter who was a pioneer of art and design education at ITB isAchmad Sadali. Education has ever gone through the Faculty of Engineering University of Indonesia Department of Fine Arts(now ITB) 1949-1953, University of Iowa, USA, Art TeacherCollege, Columbia University, USA, Art Student League NYC-USA. Appointed Chairman of the Department of Fine Arts ITB in1962 to 1968. In the year 1968 -1969 served as Dean of the Faculty of Planning and Visual Arts ITB. Year 1969-1976 asassistant rector of Community Affairs ITB. Earlier in 1972 was awarded the Arts Award from the Ministry of Education andCulture. He is also a lot of solo exhibitions in Jakarta, Surabaya,Bandung, Yogyakarta, and joint exhibitions at home and abroad.Achmad Sadali earned a professor of fine arts from the Bandung Institute of Technology. character painting in the early period of his career known as a sensible Abstract Geometric. In a further development once the breath seems to Islamannya that dominatehis works.

DUA GUNUNGAN
MENGENAL  ACHMAD SADALI (1924 – 1987)

JUMAT, 23 DESEMBER 2011 - DENMAS PRIYADI BLOG :  Seorang pelukis yang sekaligus juga perintis pendidikan seni rupa dan desain di ITB adalah Achmad Sadali.  Pendidikan yang pernah ditempuhnya adalah Fakultas Teknik Departemen Seni Rupa Universitas Indonesia ( kini ITB ) 1949-1953, University of Lowa USA,  Art Teacher College, Columbia University USA, Art Student League NYC-USA.  Menjabat Ketua Departemen Seni Rupa ITB pada tahun 1962- 1968.  Pada tahun 1968 -1969 menjabat sebagai Dekan Fakultas Perencanaan dan Seni rupa ITB. Tahun 1969-1976 sebagai pembantu Rektor ITB Bidang Kemasyarakatan. Sebelumnya Pada tahun 1972 memperoleh penghargaan Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.  Ia juga banyak pameran tunggal di Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogya, dan pameran bersama di dalam dan di luar negeri.  Achmad Sadali memperoleh gelar guru besar bidang seni rupa dari Institut Teknologi Bandung . karakter lukisan pada periode awal karirnya dikenal sebagai yang berpaham Abstrak  Geometris. Dalam perkembangan selanjutnya Nampak sekali nafas ke-Islamannya yang mendominasi karya-karyanya.

Karya-karyanya antara lain, Dua Gunungan, Gunungan Emas, Flower Arangement, dll.

GUNUNGAN EMAS

Selasa, 20 Desember 2011

ANGKLUNG MUSIC by Slamet Priyadi

ANAK BERMAIN ANGKLUNG

ANGKLUNG TUESDAY, 20 DECEMBER 2011 - DENMAS PRIYADI BLOG :  If we hear the word angklung course we will immediately thought of one type of musical instrument. Hence the word angklung is already very well known by the Indonesian people, especially people of West Java. Yes, angklung is one type of musical instrument native to the area west of Java in recent years the existence of the angklung music has been increasingly recognized not only nationally and even internationally. 

DAENG SUTIGNA 1908 - 1984
Angklung music instrument made of bamboo are the type of tree that is very much thriving in Indonesia, especially in the are of West Java. From the material is then made of bamboo angklung instruments structured with certain tones that it becomes a musical instrument angklung that if played well will issue the strains of beautiful tunes. At first angklung music using the pentatonic scales, scales commonly used in folk music generally. However, according to the presence of a growing angklung music, angklung instruments using western diatonic tones. Figure figure who spearheaded the change to the pentatonic scales of diatonic scales is a figure of traditional music that originated from Garut, Daeng Sutigna in 1928. First concert angklung music using diatonic scales played by members of the scout group in Linggarjati 1947.

This type of musical instrument angklung consists of:
1.  Angklung melodies that are subdivided into:
     a. Angklung consisting of small melodic tone g to c'''(c stripe 3), and
     b. Angklung great melody with tone G to fis.

2.  Accompaniment angklung 12 units consisting of:
     a. 8 pieces septin dominant chord (Best7, F7, C7, D7, A7, E7, and B7). Each angklung    consists four tubes.
     b. 4 pieces minor chord (Dm, Em, Am, and Bm).

3. Angklung Bas (contra bass).

4. Angklung contra accompagnement, the same shape as the angklung accompaniment,
    But the tone oktafnya higher.


In order angklung music we enjoy and we feel its beauty then it should be played by several players. The number of players is very dependent on the type of unit used angklung. There are three different types of units which angklung, a small unit, medium, and large.

1. One small unit angklung consists of:
a. Two sets of angklung small melodies, from tone to tone a g''(a stripe two) with 27 tones.
b. A set of angklung great melodies, from tone to tone C fis.
c. A set of angklung accompaniment there are 8 pieces consist of:
- Major: C7, D7, F7, G7, and Bes7.
- Minor: Am, Dm, and Em.

2. One unit of angklung is made up of:
a. Two sets of small melodic angklung consists of 1 to 27 pieces
b. A set of angklung great melody consists of tones G up a tone of fis.
c. A set of 13 pieces of angklung accompaniment consists of:
- Major: C7, D7, E7, F7, G7, A7, Bes7, and B7.
- Minor: Am, Dm, Em, Gm, and Bm.

3. One unit of angklung consists of:
a. Two sets of angklung little melody as much as 1 to 27 pieces.
b. A set of angklung tone melody of tone G to fis.
c. A set of angklung accompaniment consists of 24 pieces:
- Major: C7, Cis7, D7, and Dis7 as many as 12 pieces.
- Minor: Cm, CISM, and Dm as many as 12 pieces.

How to play angklung musical instrument?

How to play it is by shaking the angklung, left hand holding the center of the angklung bamboo slats and bottom right hand shaking the angklung. Clearly the left hand holding the angklung in which a small tube leading to the next kiridan large tube leading to the right. The right hand holds the bottom of the angklung, in part this is a shake or vibrate in accordance with note values that exist in the song being played.
MUSIK ANGKLUNG  by Slamet Priyadi

TUESDAY, 20 DESEMBER 2011 – DENMAS PRIYADI BLOG :  Jika kita mendengar kata angklung tentu kita akan langsung teringat pada salah satu jenis alat musik. Oleh karena kata angklung ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa Barat. Ya, angklung memang salah satu jenis alat musik asli daerah Jawa barat yang akhir-akhir ini keberadaan musik angklung sudah semakin dikenal bukan saja secara nasional bahkan internasional.

Instrumen musik angklung terbuat dari bahan bambu yaitu jenis pohon yang memang sangat banyak tumbuh subur di Indonesia terutama di daerah Jawa barat. Dari bahan bambu inilah kemudian dibuat alat musik angklung  yang disusun sedemikian rupa dengan nada-nada tertentu sehingga menjadi alat musik angklung yang jika dimainkan dengan baik akan mengeluarkan alunan nada-nada yang indah.  Pada awalnya musik angklung menggunakan tangga nada pentatonis yaitu tangga nada yang biasa dipakai pada musik daerah umumnya. Akan tetapi sesuai dengan keberadaan musik angklung yang semakin berkembang, alat musik angklung menggunakan nada-nada diatonis barat. Sosok tokoh yang mempelopori perubahan tangga nada dari pentatonis ke tangga nada diatonis adalah seorang tokoh musik tradisional yang berasal dari Garut, Daeng Sutigna pada tahun 1928.  Konser pertama kali musik angklung dengan menggunakan tangga nada diatonis dimainkan oleh anggota kelompok pramuka di Linggarjati tahun 1947.

Jenis intrumen musik angklung terdiri atas :

1.    Angklung melodi  yang dibagi lagi ke dalam :
 a. Angklung melodi kecil yang terdiri dari nada g sampai c’’’ ( c setrip 3 ), dan
 b. Angklung melodi besar dengan nada G  sampai fis.

2.    Angklung pengiring  sebanyak 12 buah yang terdiri atas :
 a. 8 buah paduan nada dominan septin ( Best7, F7, C7, D7, A7, E7, dan B7 ).   Setiap angklung terdiri 4 tabung.
       b. 4 buah paduan nada minor ( Dm, Em, Am, dan Bm ).

3.    Angklung Bas ( contra bas ).

4.    Angklung contra accompagnement, bentuknya sama seperti angklung pengiring,
       Akan tetapi nada oktafnya lebih tinggi. 

Agar musik angklung dapat kita nikmati dan kita rasakan keindahannya maka harus dimainkan oleh sejumlah pemain.  Adapun jumlah pemain  sangat bergantung pada jenis unit angklung yang digunakan.  Ada tiga macam jenis unit angklung yaitu, unit kecil, sedang, dan besar.

1.         Satu unit kecil angklung terdiri dari :
a.      Dua set angklung melodi kecil, dari  nada  sampai dengan nada  a’’ ( a setrip
dua ) dengan 27 nada.
b.      Satu set angklung melodi besar, dari nada  C  sampai dengan nada  fis.
c.       Satu set angklung pengiring ada 8 buah terdiri dari :
-          Mayor :  C7, D7, F7, G7, dan Bes7.
-          Minor :  Am, Dm, dan Em.

2.         Satu unit angklung sedang terdiri dari :
a.      Dua set angklung melodi kecil terdiri dari 1 sampai dengan 27 buah
b.      Satu set angklung melodi besar terdiri dari nada  G  sampai dengan nada  fis.
c.       Satu set angklung pengiring sebanyak 13 buah terdiri dari :
-          Mayor :  C7, D7, E7, F7, G7, A7, Bes7, dan B7.
-          Minor :  Am, Dm, Em, Gm, dan Bm.

3.         Satu unit angklung besar terdiri dari :
a.    Dua set angklung melodi kecil sebanyak 1 sampai dengan 27 buah.
b.         Satu set angklung melodi besar dari nada  G  sampai dengan nada fis.
c.          Satu set angklung pengiring sebanyak 24 buah terdiri :
-          Mayor :  C7, Cis7, D7, dan Dis7 sebanyak 12 buah.
-          Minor :  Cm, Cism, dan Dm sebanyak 12 buah.

Bagaimana cara memainkan instrumen musik angklung?

Cara memainkannya adalah dengan menggoyangkan angklung, tangan kiri memegang bagian tengah bilah bambu angklung dan tangan kanan menggoyangkan bagian bawah angklung.  Jelasnya tangan sebelah kiri memegang angklung di mana tabung kecil mengarah ke sebelah kiridan tabung besar mengarah ke sebelah kanan.  Tangan kanan memegang bagian bawah angklung, pada bagian inilah yang digoyang-goyangkan atau digetarkan sesuai dengan nilai not yang ada dalam lagu yang dimainkan. 


  





ANGKLUNG MUSIC by Slamet Priyadi

ANGKLUNG MUSIC  by Slamet Priyadi
Top of Form
ANGKLUNG
MONDAY, 19 DECEMBER 2011 - Denmas Priyadi BLOG: If we hear the word angklung course we will immediately thought of one type of musical instrument. Hence the word angklung is already very well known by the Indonesian people, especially people of West Java. Yes, angklung is one type of musical instrument native to the area west of Java in recent years the existence of the angklung music has been increasingly recognized not only nationally and even internationally.

Angklung music instrument made of bamboo are the type of tree that is very much thriving in Indonesia, especially in the area of
​​West Java. From the material is then made of bamboo angklung instruments structured with certain tones that it becomes a musical instrument angklung that if played well will issue the strains of beautiful tunes. At first angklung music using the pentatonic scales, scales commonly used in folk music generally. However, according to the presence of a growing angklung music, angklung instruments using western diatonic tones. Figure figure who spearheaded the change to the pentatonic scales of diatonic scales is a figure of traditional music that originated from Garut, Daeng Sutigna in 1928. First concert angklung music using diatonic scales played by members of the scout group in Linggarjati 1947.

This type of musical instrument angklung consists of:

1.  Angklung melodies that are subdivided into:
     a. Angklung consisting of small melodic tone g to c'''(c stripe 3), and
     b. Angklung great melody with tone G to fis.

2.  Accompaniment angklung 12 units consisting of:
     a. 8 pieces septin dominant chord (Best7, F7, C7, D7, A7, E7, and B7). Each angklung    consists four tubes.
     b. 4 pieces minor chord (Dm, Em, Am, and Bm).

3. Angklung Bas (contra bass).

4. Angklung contra accompagnement, the same shape as the angklung accompaniment,
       But the tone oktafnya higher.

In order angklung music we enjoy and we feel its beauty then it should be played by several players. The number of players is very dependent on the type of unit used angklung. There are three different types of units which angklung, a small unit, medium, and large.

1. One small unit angklung consists of:
a. Two sets of angklung small melodies, from tone to tone a g''(a stripe
two) with 27 tones.
b. A set of angklung great melodies, from tone to tone C fis.
c. A set of angklung accompaniment there are 8 pieces consist of:
- Major: C7, D7, F7, G7, and Bes7.
- Minor: Am, Dm, and Em.

2. One unit of angklung is made up of:
a. Two sets of small melodic angklung consists of 1 to 27 pieces
b. A set of angklung great melody consists of tones G up a tone of fis.
c. A set of 13 pieces of angklung accompaniment consists of:
- Major: C7, D7, E7, F7, G7, A7, Bes7, and B7.
- Minor: Am, Dm, Em, Gm, and Bm.

3. One unit of angklung consists of:
a. Two sets of angklung little melody as much as 1 to 27 pieces.
b. A set of angklung tone melody of tone G to fis.
c. A set of angklung accompaniment consists of 24 pieces:
- Major: C7, Cis7, D7, and Dis7 as many as 12 pieces.
- Minor: Cm, CISM, and Dm as many as 12 pieces.

How to play angklung musical instrument?

How to play it is by shaking the angklung, left hand holding the center of the angklung bamboo slats and bottom right hand shaking the angklung. Clearly the left hand holding the angklung in which a small tube leading to the next kiridan large tube leading to the right. The right hand holds the bottom of the angklung, in part this is a shake or vibrated in accordance with note values
​​that exist in the song being played.
Undo edits

MUSIK ANGKLUNG  by Slamet Priyadi

SENIN, 19 DESEMBER 2011 – DENMAS PRIYADI BLOG :  Jika kita mendengar kata angklung tentu kita akan langsung teringat pada salah satu jenis alat musik. Oleh karena kata angklung ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa Barat. Ya, angklung memang salah satu jenis alat musik asli daerah Jawa barat yang akhir-akhir ini keberadaan musik angklung sudah semakin dikenal bukan saja secara nasional bahkan internasional.

Instrumen musik angklung terbuat dari bahan bambu yaitu jenis pohon yang memang sangat banyak tumbuh subur di Indonesia terutama di daerah Jawa barat. Dari bahan bambu inilah kemudian dibuat alat musik angklung  yang disusun sedemikian rupa dengan nada-nada tertentu sehingga menjadi alat musik angklung yang jika dimainkan dengan baik akan mengeluarkan alunan nada-nada yang indah.  Pada awalnya musik angklung menggunakan tangga nada pentatonis yaitu tangga nada yang biasa dipakai pada musik daerah umumnya. Akan tetapi sesuai dengan keberadaan musik angklung yang semakin berkembang, alat musik angklung menggunakan nada-nada diatonis barat. Sosok tokoh yang mempelopori perubahan tangga nada dari pentatonis ke tangga nada diatonis adalah seorang tokoh musik tradisional yang berasal dari Garut, Daeng Sutigna pada tahun 1928.  Konser pertama kali musik angklung dengan menggunakan tangga nada diatonis dimainkan oleh anggota kelompok pramuka di Linggarjati tahun 1947.

Jenis intrumen musik angklung terdiri atas :

1.    Angklung melodi  yang dibagi lagi ke dalam :
 a. Angklung melodi kecil yang terdiri dari nada g sampai c’’’ ( c setrip 3 ), dan
 b. Angklung melodi besar dengan nada G  sampai fis.

2.    Angklung pengiring  sebanyak 12 buah yang terdiri atas :
 a. 8 buah paduan nada dominan septin ( Best7, F7, C7, D7, A7, E7, dan B7 ).   Setiap angklung terdiri 4 tabung.
       b. 4 buah paduan nada minor ( Dm, Em, Am, dan Bm ).

3.    Angklung Bas ( contra bas ).

4.    Angklung contra accompagnement, bentuknya sama seperti angklung pengiring,
       Akan tetapi nada oktafnya lebih tinggi. 

Agar musik angklung dapat kita nikmati dan kita rasakan keindahannya maka harus dimainkan oleh sejumlah pemain.  Adapun jumlah pemain  sangat bergantung pada jenis unit angklung yang digunakan.  Ada tiga macam jenis unit angklung yaitu, unit kecil, sedang, dan besar.

1.         Satu unit kecil angklung terdiri dari :
a.      Dua set angklung melodi kecil, dari  nada  g  sampai dengan nada  a’’ ( a setrip
dua ) dengan 27 nada.
b.      Satu set angklung melodi besar, dari nada  C  sampai dengan nada  fis.
c.       Satu set angklung pengiring ada 8 buah terdiri dari :
-          Mayor :  C7, D7, F7, G7, dan Bes7.
-          Minor :  Am, Dm, dan Em.

2.         Satu unit angklung sedang terdiri dari :
a.      Dua set angklung melodi kecil terdiri dari 1 sampai dengan 27 buah
b.      Satu set angklung melodi besar terdiri dari nada  G  sampai dengan nada  fis.
c.       Satu set angklung pengiring sebanyak 13 buah terdiri dari :
-          Mayor :  C7, D7, E7, F7, G7, A7, Bes7, dan B7.
-          Minor :  Am, Dm, Em, Gm, dan Bm.

3.         Satu unit angklung besar terdiri dari :
a.    Dua set angklung melodi kecil sebanyak 1 sampai dengan 27 buah.
b.         Satu set angklung melodi besar dari nada  G  sampai dengan nada fis.
c.          Satu set angklung pengiring sebanyak 24 buah terdiri :
-          Mayor :  C7, Cis7, D7, dan Dis7 sebanyak 12 buah.
-          Minor :  Cm, Cism, dan Dm sebanyak 12 buah.

Bagaimana cara memainkan instrumen musik angklung?

Cara memainkannya adalah dengan menggoyangkan angklung, tangan kiri memegang bagian tengah bilah bambu angklung dan tangan kanan menggoyangkan bagian bawah angklung.  Jelasnya tangan sebelah kiri memegang angklung di mana tabung kecil mengarah ke sebelah kiridan tabung besar mengarah ke sebelah kanan.  Tangan kanan memegang bagian bawah angklung, pada bagian inilah yang digoyang-goyangkan atau digetarkan sesuai dengan nilai not yang ada dalam lagu yang dimainkan.