Minggu, 24 Maret 2019

Gerrie Mc Call: DINOSAURUS ("SAUROPELTA")

Blog Ki Slmet 42 : "Kita Semua Wayang"
Senin, 25 Maret 2019 - 06:04 WIB 

SAUROPELTA (Foto: SP)

Salah satu nodosaurus paling besar, Sauropelta mempunyai lapisan prisai yang cukup untuk membuat frustasi bahkan predator yang paling gigih. Sekalipun tubuhnya dilindungi oleh deretan kerucut dari tulang berselang-seling dengan lempeng tulang kecil. Tonjolan meruncing dari tulangmenonjol dari lehernya dan memanjang di posisinya, melindunginya dari serangan samping dan hanya menyisakan posisi bawah yang tidak terlindungi. Bila Sauropelta diserang, dia hanya menundukkan tubuhnya rendah-rendah ke tanah untuk melindungi perutnya yang merupakan bagian lemah. Sauropelta mempunyai berat badan yang cukup dengan kaki-kaki yang kokoh, dengan jari tangan dan jari kaki yang lebar. Tenkoraknya yang sempit mempunyai rahang  kuat dan paruh tanpa gigi. Sauropelta terus-menerus makan untuk mengisi ususnya yang panjang, mengunyah tanaman yang tumbuh rendah dengan gigi di daerah pipi yng berbentuk seperti daun.

Lokasi fosil     :
Amerika Serikat bagian barat
Makanan       :
Herbivora
Pengucapan  :
SAUR-o-PEL-ta
Panjang         :
7 meter
Tinggi            :
1,8 meter
Berat              :
3 ton
Arti nama       :
“Perisai kadal” karena lempeng berlapiskan bahan tanduk yang menutupi bagian atas tubuhnya.

SUMBER:
Gerrie Mc Call, “Dinosaurus”
PENERBIT:
KARISMA Publishing Group

Senin, 25 Februari 2019

Mpu Prapanca: KAKAWIN NAGARAKERTAGAMA Pupuh 10

Blog Slamet Priyadi : "Kita Semua Wayang"
Selasa, 26 Febuari 2019 - 06:45 WIB


Image "Buku Nagara Kertagama" (Foto: SP)

Mpu Prapanca:
KAKAWIN NAGARAKERTAGAMA
PUPUH 10 (1 – 3)
PISOWANAN 2

T r a n s k r i p s i  (1)
warna warna ni sa manakil irika witãna,
mantrī wŗddha parãryya len para pasaguhan sakaparӗk,
mwa sa pañca ri wilwatikta mapagӗh demu kamuruhan,
tan sah raga tumӗṅgun uttama ni sa marӗ wӗki pãnuh.

T e r j e m a h a n  (1)
Beraneka macam mereka yang datang menghadap di Balai Witana tak henti-henti, para menteri, pejabat dan para bangsawan serta para cendikiawan berdatangan, juga lima kelompok pejabat tinggi di Wilwatikta yaitu mapatih, demung, kanuruhan, serta rangga dan tumenggung utama, yang telah akrab di istana.

T r a n s k r i p s i  (2)
Kweh ni wešma puri kemantryan amãtya ri sanagara, doni bhãșa parãpatih para dӗnu sakãn apupul, ahi sa jutu ni watӗk paalasan mahian apagӗh, pacãkweh nira mantrya nindira rumkşa kãryya ri dalӗm.

T e r j e m a h a n  (2)
Banyaknya wisma tempat tinggal para menteri di kerajaan, tujuan utama dalam pembahasan para patih, demung serta semua yang berkumpul, hanya para petinggi Pengalasan yang tetap teguh, kelima menteri mulia yang harum namanya dan perkasa menjaga dan mengabdi pada raja.

T r a n s k r i p s i  (3)
Ndan sakșattriya len bhujaga rӗsi wipra yapwan umarӗk kãne hb ni ašoka muw u hiri i witãna maadӗk, dharmmãdhyakșa kalih lawan sa  upapatti sapta madulur, sa tuhwãryya lӗkas paaran ãryya yukti satirun.

T e r j e m a h a n  (3)
Dan sang bangsawan lagi pujangga, resi, dan wipra jika datang menghadap, di sana di bawah naungan pohon asoka, ada di sisi samping Balai Wisma, dan dua pengawas agama serta tujuh pejabat kraton yang membantu, bangsawan dan petinggi kerajaan tingkah lakunya disebut arya, pantas dijadikan teladan.


P u s a t a k a :
Mpu Prapanca, “Kakawin Nagaraketagama”
Teks dan terjemahan:
Damaika Saktiani, dkk
P e n e r b i t :
NARASI Yogyakarta 2018
 

Minggu, 17 Februari 2019

Mpu Prapanca : "KAKAWIN NAGARAKERTAGAMA" Pupuh 9

Blog Ki Slamet 42 : "Kita Semua Wayang"
Senin, 18 Febuari 2019 - 06:05 WIB

Image "Buku Nagarakertagama (Foto:SP)
Buku Nagarakertagama

Mpu Prapanca:
KAKAWIN NAGARAKERTAGAMA
PUPUH 9 (1 – 4)
PISOWANAN 1

T r a n s k r i p s i  (1)
Nahan lwir nya manakil paalasan iaran kwehnya tanpa pramaa,
Tanpalwir myū gai jagalaa kadhiri sӗdhah palara rājadwī,
wwaiśakā  wwa panewwan kŗtapura sinӗlir mwa jaye pra jayāgön,
areyok kaywapu wwa jaladhi masuruhan sāmajādi prakīra.

T e r j e m a h a n  (1)
Adalah tampak di antara yang menghadap, yang disebut pengalasan, banyaknya tak terkira, nampak pejabat Niu Gading, Janggala, Kediri, Sedah,Panglarang, Rajadewi, Waisangka, orang-orang Panewan, Kertapura, memilih yang menang dalam peperangan, Jayaageng, tentara kerajaan Kayu Apu, orang-orang Jaladhi,Pasuruan, dan orang-orang Gajahan, dan banyak lagi.

T r a n s k r i p s i  (2)
Nāhan tādinya mugw i wataan alun-alun tan pӗgat lot maganti,
tada mwa gusti wadwã haji muwah ika amwa tuhan ri jawãbãp,
mukya mugw i wijil pi kalih adhika bhayakãryya pintãpupul sk,
lor ni dwãredalӗm gwanya kidul ika para kșatrya mwa bhujaga.

T e r j e m a h a n  (2)
Demikianlah yang ada di alun-alun watangan  tidak putus-putus berganti terus; Pejabat tinggi, dan pengikut raja, dan juga pembesar di tanah Jawa itu, yang paling terkemuka, bhayangkara, satuan pengawal kerajaan dalam jumlah banyak, penuh berkumpul di gerbang kedua, sebelah utara pintu masuk ke istana tempatnya, sebelah selatan tempat para bangsawan serta pujangga.

T r a n s k r i p s i  (3)
Ñkãne bãyabhya ri pascima midӗr umare mŗtyudesã yasakweh, sar sk de sa sumantryãmawa pinituha ri wirã bhŗtyãn panakil, anyat kannah kidul pantaran lawaan manapa mwaa gŗhãkweh,
Sar sk de bhŗtya san sri nŗpati paguhan nityakala n paserwa.

T r a n s k r i p s i  (3)
Di sana di sebelah barat laut dan barat melingkar ke daerah selatan, banyak balai-balai, penuh sesak dengan para menteri serta perwira tinggi dan rakyat yang menghadap, dan lainnya di selatan sana dibatasi pintu gerbang dan pedapa dan juga bangunan lainnya, penuh sesak oleh abdi Raja Paguhan selalu siap menghadap dan melayani Sang Raja.


Ñkãne jro niwijil pi kalih arӗja natarnyãratãiwãtisobha,
sk wesna mwa witãnã bhinawa papupulan sa manakil mare jro, wetan teka gŗhãnopama waunan ikãsryaruhur sopacara,
sgwan srī nãthan paweh saiwa ri uamarӗk unugw i witãnãprameya.

T r a n s k r i p s i (4)
T e r j e m a h a n (4)
Di sana di bagian dalam di pintu gerbang kedua terdapat halaman luas nan indah menawan, penuh rumah serta serta balai untuk mereka yang datang menghadap ke dalam, sebelah timur itulah gaya yang tidak tertandingi, asri dan tinggi itu juga tempat upacara, tempat Sang Raja menjamu para tamu yang datang ke Balai Witana yang tiada tara,

P u s a t a k a  :
Mpu Prapanca,“Kakawin Nagaraketagama”
Teks dan terjemahan: Damaika Saktiani, dkk
P e n e r b i t  :
NARASI Yogyakarta 2018