Jumat, 06 Desember 2019

KAKAWIN BHARATAYUDA PUPUH LI (1-5) Oleh Prof.Dr.R.M. Sucipto Wirjo Suparto

Blog Ki Slamet 42 : Kita Semua Wayang
Sabtu, 07 Desember 2019 - 13.17 WIB
 
Raja Kresna sebagai utusan keluarga Pandawa menuju ke Hastina mennurut cerita wayang kulit.   

“KAKAWIN BHARATAYUDA PUPUH LI (1–5)”
(SAKIT HATI DEWI DRUPADI 1)
TRANSKRIPSI
TERJEMAHAN BEBAS
1
 Nda nâhan ling dewi Drupdatanayâ sâmbad anangis.
Rumêncêm ri twas Krêshnna kadi hiris mâr mratawêlas.
Matangnyan yatnâmodana manupasân twânghari-harih.
Kumon dewi tan tibra dahat alarâ-noliha widhi.
1
Demikian kata Dewi Drupadi. Pada saat ia menangis, raja Kresna hatinya serasa diiris-iris. Ia menaruh belas kasihan terhadap nasib Drupadi. Maka Kresna berupaya tenangkan  hati dewi Drupadi dengan berkata lemah lembut agar mengingatlah kepada takdir.
2
Uddû dewi haywa ngwang iki sinêsêl rakryan ing ujar paran tan marmmâni i sakulagottranta kinêmit.
Rinâksha sing marmmânya n ahajênga pinrih pihayu.
Kiningkinkwi rehanya tulusamanêmwa n kesugatin.

2
“Wahai Drupadi, janganlah kau selalu berkata-kata dirudung penyesalan kepada saya. Saya akan selalu menjaga keselamatan keluarga dan wangsa sang puteri. Bahkan, sampai kepada tujuan kebahagiaan yang kekal itu akan selalu saya perhatikan.
3
  Kunêng tâpan mewêh têkapi pangukih- ning widhiwҫa.
Paningkahning hyang ta pwa niyata n ikin tan kakawaҫa.
Ulah ngûni pûrwwasthiti halahayunyâ-
Wama phala.
Suka mwang duhkâwâsya watês iki lâwan pati hurip.
3
Namun segalanya bergantung kepada takdir. Apa yang telah ditentukan oleh dewa-dewa tak dapat diatasi oleh manusia. Perbuatan baik dan buruk semuanya membawa pahalanya masing-masing. Suka dan duka, hidup dan mati secara mutlak menjadi batas nasib manusia.

4
Mangtanyan haywâҫâ dahat i pati sang wirapurusha.
Apan mantuk ring swargga niyata nir âmangguha hayu.
Kasatyan rakryanta pwa ya gamêlane Pânnddtanaya.
Ikâwâs marmmâning mapupul ajêmah ring surapada.

4
Maka, hendaknya tuan puteri jangan memikirkan kematian orang-orang gagah itu. Mereka telah pulang ke sorga, ke alam keabadian. Kesetiaan tuan puteri terhadap anak-anak Pandu, kelak menjadi sebab tuan puteri berkumpul dengan mereka di tempat dewa-dewa.
5
Nahan ling Krêshnna ndan prawara mahishi tan wawa rênggö.
Têkeng ҫri Kunti kemêngan apêga len
Pânnddutanaya.
Alök tâmbök ҫri Keҫawa rasa manahning duwahagi.
Ri denya n tan ҫighrâwa hatinra sang tibra kalaran.
5
Demikian nasehat Kresna kepada dewi Drupadi, tapi sang permaisuri Drupadi tidak mau mendengarkan. Begitu pula dengan dewi Kunti, anak-anak Pandu, dan orang Pandawa semua merasakan kesedihan yang teramat sangat. Dan, kesedihan hati mereka belum ada obatnya hingga mereka bisa terhibur.

Sabtu, 07 Desember 2019  10:15 WIB
Drs. Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan, Bogor

P u s t a k a  :
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto
Kakawin Bharata-Yuddha, Bhratara – Jakarta 1968

Rabu, 04 Desember 2019

"CERMIN KALAH DAN MENANG" Oleh I Gusti Ngurah Dwaja

Blog Ki Slamet 42: "Kita Semua Wayang"
Kamis, 05 Desember 2019 - 07.05 WIB

 “CERMIN KALAH DAN MENANG
Oleh I Gusti Ngurah Dwaja

     Di ruangan agung Kerajaan Astina, sebuah pesta besar sekaligus nasib tragis pernah berlangsung. Terlampau tragis bahkan, hingga mengubah sepenuhnya masa depan negeri ini. Pesta itu memang telah usai. Meninggalkan ruangan yang kini lengang. Hanya angin Sesekali terdengar mendengung di lorong-lorongnya yang dingin dan sunyi. Selebihnya adalah bayangan mencekam di antara pilar-pilar marmer yang meninggi itu. Meja kecil dengan batu dadu itu masih dibiarkan tergeletak di situ. Kursi dan botol-botol anggur kosong berhamburan di balkon. Sedang di lantai tengah, jejak-jejak kaki dan ceceran keringat masih membekas dalam debu. Juga bayangan tawa Dursasana yang aneh itu. Di situlah, beberapa waktu lalu, di tengah keramaian pesta kerajaan, Dursasana dengan nafas tersengal dan tawa menyeringai oleh birahi berusaha merenggut dan menelanjangi Drupadi.
“Yudistira telah mernpertaruhkan Drupadi dan ia kalah. Perempuan ini sekarang jadi budak kami dan kami bebas memperlakukannya kata Dursasana”. Bau alkohol menyengat mulutnya. Matanya memerah. Ia yang terhuyung-huyung karena mabuk terus berusaha melucuti kain di pinggul Drupadi yang pasrah. Di bawah tatapan para bangsawan yang hadir, Drupadi dipertaruhkan sekaligus dinista. Puncaknya, di sini hak-hak Pandawa atas Astina dirampas Kurawa.
Memang banyak hal muram hadir dalam Mahabharata, banyak hal ganjil bersuara dan sana. Tetapi yang paling getir tentu apa yang telah berlangsung di ruangan ini. Anak-anak Pandawa, yang cerdas dan menjunjung nilainilai kebenaran serta sifat-sifat ksatria, harus berhadapan dengan kenyataan pahit, mereka kalah dalam pertaruhan judi lalu kehilangan segalanva serra disingkirkan ke dalam pemhuangan 13 tahun di hutan. Sejumlah pertanyaan sempat menggantung di sana yang tak mudah dicarikan jawaban: Apa yang membuat Yudhistira rela mempertaruhkan masa dan saudara-saudaranya di meja dadu yang tak lebih lebar dari satu meter persegi itu? Atau sekalipun sebagai saudara sulung, berhakkah ia bertindak sejauh itu, bahkan menjadikan Drupadi sebagai taruhan? Adakah ia membayangkan kemenangan dalam judi itu yang akan memberinya kesejahteraan atau kehormatan? Entahlah! Bahkan para orang tua yang menyaksikan peristiwa itu tak ada yang mampu memberi jawab. Mereka hanya tertunduk, terkubur dalam perasaan tak terlukiskan, sebagaimana Kunti, Drestarasta, atau Widura. Kecuali Bima yang menunjukkan ketidaksukaannya atas permainan yang dirancang Sakuni itu. Maka ketika Kurawa mempermalukan dan menelanjangi Drupadi, putri terhormat dari Pancala itu, Bima tak bisa lagi menahan diri. Dia turun ke gelanggang dan meradang dengan sumpahnya,
 “Hai, Duryudana, Dursasana, Sakuni, kalian boleh menang taruhan dan mengambil negeri ini, tapi apa hakmu menghina Drupadi? Dengar, aku telah menyaksikan semuanya, dan di hadapan kalian kuucapkan sumpahku, kelak aku akan datang dengan pembalasan. Akan kurobek tubuhmu, dan kuminum darahmu......!”
Rupanya kehidupan telah memaksakan sisi nisbinya di sini. Karena itu Yudistira, Arjuna, Nakula dan Sadewa memilih diam. Juga Bhisma. Senapati agung nan bijaksana itu hanya memandang datar dari balkon dengan mulut terkatup terhadap semua hal yang berlangsung. Juga Durna. Tak ada yang dapat ia lakukan. Permusuhan antara Pandawa dengan Kurawa tampaknya telah tiba di puncak.
Ketika sebuah peristiwa terjadi, saat pilihan telah diambil, kita pun hanya bisa menunggu apa gerangan setelah itu. Maka Pandawa yang kalah harus segera angkat kaki, meninggalkan masa-masa indah di Astina menuju satu takdir baru: hidup dalam pengasingan. Sementara Duryudana dan saudara-saudaranya, bersama sang penasihat Sakuni, boleh merayakan kemenangan, dengan penuh suka-cita. Demikianlah satu babakan hidup berlangsung. Saat semuanya tiba, maka yang kemudian terlihat adalah ada yang keluar sebagai pemenang dan ada pula yang kalah. Hingga di bagian ini sepertinya tak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Mungkin mereka tahu kemenangan itu dicapai melalui cara yang curang. Tapi bagi yang memilih bertindak murni, seperti Yudhistira, juga sadar akan berhadapan dengan risiko: entah akhirnya menang atau kalah. Siapa yang tahu? Karena itu kita agak jadi mengerti kenapa Yudhistira memilih diam saat dikalahkan. Ia tak mempersoalkan bagaimana ia kalah. Ia memang bukan pemenang. Bahwa antara kalah dan menang itu kadang jaraknya sedemikian tipis, sekalipun tak juga mudah buat digenggam. Tapi toh dengan demikian tak berarti segalanya telah berakhir. Tiga belas tahun selepas pesta judi di ruangan itu, dua keluarga keturunan Bharata ini, Pandawa dan Kurawa, dipertemukan kembali oleh takdir. Tidak dalam reuni keluarga tetapi di jalan yang pilu. Mereka harus saling angkat senjata dan baku bunuh, dalam perang saudara, perang Kuru, yang dikenal dengan Bharatayuda.  Kita kemudian paham perang itu pun ternyata bukan pertanda berakhirnya suatu riwayat. Sebab, sesudahya banyak hal tragis masih akan berlangsung. Mungkin karena itu, Astina dengan segala cekam misterinya, tetap hadir membayang di tengah kerajaan hidup kita hari ini. Darinya orang-orang dapat menilai sejenak tentang keteguhan hati, seperti Bhisma. Dengan kata lain, ini adalah soal risiko dan hikmah pilihan hidup. Sebelum perang pecah, Bhisma berkata kepada Drestarasta,
“Yudistira dan saudara-saudaranya akan memenangkan perang ini. Mereka dipayungi keberuntungan, sebab Pandawa meneguhkan kekuatannya dengan kebenaran dan keadilan, sesuatu yang tak pernah bisa dimengerti oleh Duryudana.......”
Di sana Bhisma hendak menegaskan bahwa sekalipun segalanya tampak nisbi, orang tetap perlu menggamit keyakinan tentang sesuatu sebagai pegangan hidup. Misalnya berteguh dengan nilai-nilai moral. Juga sebagaimana sikap yang diambil Bhisma dalam Bharatayudha:
”Orang seharusnya tetap menjadi ksatria meski tahu akan berada di pihak yang kalah”.
Bagaimana pun setiap peristiwa, setiap pergulatan, akan hadir dengan wajahnya yang subtil, tak pernah mudah dipahami. Sebagaimana kita tahu satu kemenangan ternyata tak seluruhnya berarti menang, begitu juga dengan kekalahan. Bharatayuda memang kemudian berakhir. Dimenangi lima putra Pandu, Pandawa, yang mengantarkan Yudhistira memegang tahta Astina. Sedangkan Kurawa, keturunan Drestarasta, yang berjumlah seratus orang itu, karena itu ia jadi mayoritas, adalah pihak yang kalah. Duryudana, Dursasana dan Sakuni dirajam habis oleh Bima, sesuai sumpahnya dulu. Tapi setelah itu apa? Yang kita tahu, meski keluarga Kurawa, lambang sifat-sifat buruk manusia itu, tumpas dari Astina ternyata mereka tak serta merta kehilangan otoritasnya atas dunia kita. Sampai hari ini.

P e n u l i s :
I Gusti Ngurah Dwaja di SMAN 42

Selasa, 10 September 2019

Ki Slamet 42 "BUKU GERAKAN 30 SEPTEMBER PKI"

Denmas Priyadi Blog: Kita Semua Wayang
Rabu, 11 September 2019 - 13:27 WIB

Image "Buku Gerakan 30 Setember PKI (Foto:SP)
Buku Gerakan 30 September PKI
PEMBERONTAKAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA
( GERAKAN 30 SEPTEMBER PKI )

Dalam minggu pertama bulan Oktober 1965 rakyat Indonesia dikejutkan oleh serangkaian berita Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta tentang terjadinya pergolakan pada tingkat tertinggi pemerintahan di Ibukota Jakarta.
Pada hari Jumat tanggal 1 Oktober 1965 secara berturut-turut RRI Jakarta menyiarkan empat berita penting.
Siaran pertama, sekitar pukul 07.00 pagi, memuat berita bahwa pada hari Kamis tanggal 30 September 1965di Ibukota Republik Indonesia, Jakarta, telah terjadi “gerakan militer dalam Angkatan Darat” yang dinamakan “Gerakan 30 September”, dikepalai oleh Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalion Cakrabirawa, pasukan pengawal pribadi Presiden Soekarno. Sejumlah besar Jendral telah ditangkap, alat-alat komunikasi yang penting-penting serta objek-objek vital lainnya sudah dikuasai Gerakan tersebut dan “Presiden Soekarno selamat dalam lindungan Gerakan 30 September”. Gerkan tersebut “ditujukan kepada Jendral-Jendral anggota apa yang menamakan dirinya Dewan Jendral”. “Komandan Gerakan 30 September” itu menerangkan bahwa akan dibentuk “Dewan Revolusi Indonesia” di tingkat Pusat yang diikuti oleh “Dewan Revolusi Propinsi”, “Dewan Revolusi Kbupaten”, “Dewan Revolusi Kecamatan” dan “Dewan Revolusi Desa”.
Siaran kedua, sekitar pukul 13.00 hari itu juga memberitakan “Dekrit No. 1” tentang “Susunan Dewan Revolusi Indonesia”. Baru dalam siaran kedua ini diumumkan susunan “Komando Gerakan 30 September”, yaitu Letnan Kolonel Untung sebagai “Komandan”, Brigjen Supardjo, Letnan Kolonel Udara Heru, Kolonel Laut Sunardi, dan Ajun Komisaris Besar Polisi Anwas sebagai “Wakil Komandan”.
Siaran kedua ini memuat dua keanehan. Dari sudut organisasi militer, adalah aneh bahwa seorang Brigadir Jendral menjadi Wakil dari seorang Letnan Kolonel. Selain itu, “Gerakan 30 September” ini ternyata juga bukanlah sekedar gerakan militer dalam Angkatan Darat”, oleh karena dalam “Dekrit No.1” tersebut diumumkan bahwa: “Untuk sementara waktu, menjelang pemilihan umum Majelis Permusyawaratan Rakyat sesuai dengan Undang-Undang Dasar 45, Dewan Revolusi Indonesia” menjadi sumber daripada segala kekuasaan dalam Negara Republik Indonesia.
Siaran ketiga, pada pukul 19.00 hari itu juga, Radio Republik Indonesia Jakarta menyiarkan pidato radio Panglima Komando cadangan Strategis  Angkatan Darat (Kostrad) , Mayor Jendral Soeharto, yang menyampaikan bahwa “Gerakan 30 September” tersebut adalah golongan kontra revolusioner, yang telah menculik beberapa perwira tinggi Angkatan Darat, dan telah mengambil alih kekuasaan negara, atau coup, dari PYM Presiden/ Panglima Tertinggi Abri/Pemimpin Besar Revolusi dan melempar Kabinet Dwikora  kekedudukan demisiones. Perwira-perwira tinggi Angkatan Darat yang telah diculik adalah: Letnan Jendral A. Yani, Mayor Jendral Soeprapto, Mayor Jendral S. Parman, Mayor Jendral Haryono M.T., Brigadir Jendral D.I. Pandjaitan, dan Brigadir Soetoyo Siswomihardjo. Sesuai dengan prosedur tetap Angkatan Darat, Mayor Jendral Soeharto mengumumkan bahwa untuk sementara pimpinan Angkatan Darat dipegang oleh beliau.
Kemudian pada tengah malam tanggal 1 Oktober 1965 itu juga, menjelang tanggal 2 Oktober, RRI menyiarkan Pengumuman Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi Soekarno bahwa beliau dalam keadaan sehat walafiat dan tetap memegang pimpinan negara dan revolusia.
Selanjutnya pada tanggal 3 Oktober 1965, pukul 01.30, RRI Jakarta menyiarkan pidato Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno, yang selain menegaskan kembali bahwa beliau berada dalam keadaan sehat walafiat dan tetap memegang tampuk pimpinan Negara serta tammpuk pimpinan Pemerintahan dan Revolusi Indonesia. Beliau mengumumkan bahwa tanggal 2 Oktober beliau telah memanggil semua Panglima Angkatan Bersenjata bersama Wakil Perdana Menteri Kedua, Dr. Leimena, dan pejabat penting lainnya. Pimpinan Angkatan Darat langsung berada dalam tangan beliau, dan tugas sehari-hari dijalankan oleh Mayor Jendral Pranoto Reksosamodra, Asisten III Men/PANGAD, Panglima Kostrad, ditunjuk untuk melaksanakan pemulihan keamanan dan ketertiban.
Sesuai dengan pidato Presiden tersebut di atas, pada tanggal 3 Oktober 1965 itu juga Panglima Kostrad Mayor Jendral Soeharto mengumumkan bahwa mulai saat itu Pimpinan Angkatan Darat dipeganglangsung oleh PYM Presiden/Panglima Tertinggi ABRI. Beliau sendiri masih diberi tugas untuk mengembalikan keamanan sebagai sediakala.
Pada tanggal 4 Oktober 1965 pukul 20.00 RRI Jakarta menyiarkan rekaman pidato Mayor Jendral Soeharto setelah menyaksikan pembongkaran tujuh jenazah jendral dan satu jenazah perwira pertama yang diculik “Gerakan 30 September” pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Jenazah tersebut diketemukan dalam keadaan rusak di dalam sebuah sumur tua di desa Lobang Buaya, dekat Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta. Daerah itu digunakan sebagai lokasi latihan Sukarelawan dan Sukarelawati yang berasal dari Pemuda Rakyat(PR) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) oleh oknum-oknum Angkatan Udara. Kedua organisasi ini, PR dan Gerwani, adalah “organisasi mantel” Partai Komunis Indonesia (PKI). Tujuh perwira yang ditangkap oleh oknum-oknum Cakrabirawa di kediamannya masing-masing, dibawa ke lokasi latiha PR Dan Gerwani tersebut untuk disiksa dan dibunuh. Gerakan 30 September ternyata ke luar merupakan aksi Cakrabirawa, ke dalam merupakan aksi PR dan Gerwani.
Pada tanggal 4 Oktober 1965 itulah diketahui untuk pertama kalinya kejelasan mengenai “Geraka 30 September” tersebut. gerakan itu ternyata terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang sejak tahun 1951 membangun kembali kekuatannya setelah terlibat dalam pemberontakan terhadap Republik Indonesia dalam bulan September 1948 di kota Madiun, Jawa Timur.
Rangkaian Sidah Makamah Militer Kuar Biasa (Mahmilub) untuk mengadili mereka yang terlibat dalam kudeta tersebut telah mengungkapkan lebih dalam lagi keterlibatan PKI. Partai ini terbukti merupakan dalang dan pelaku dari aksi subversi sejak tahun 1954, yang berpuncak pada kudeta berdarah pada awal bulan Oktober 1965 tersebut. oleh karena itu “Gerakan 30 September” tersebut disebut secara lengkap sebagai “Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia”, atau disingkat “G30S/PKI”.
Pengungkapan perana PKI dalam sidang mahkamah tersebut telah menimbulkan reaksi hebat dalam masyarakat Indonesia, yang berujung dengan ditetapkannya Ketetapan Majeis Permuyawaratan Rakyat Sementara No. TAP-XXV/MPRS/1966 tanggal 5 Juli 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia, dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.
Pelaksanaan Ketetapan Permusyawaratan Rakyat Sementara tersebut mengandung implikasi adanya kewajiban idiologis untuk memurnikan Pancasila, yang sejak tahun 1959 telah disalahtafsirkan sebagai gabungan dari paham Nasionlisme, Agama dan Komunis (“Nasakom”). Tugas pemurnian ini baru seesai dalam tahun 1978, dengan ditetapkannya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No. TAP-II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (“Eka Prasetia Pancakarsa”). Dalam tahun ini pula dimulailah rangkaian penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila tersebut, bermula dari Pegawai Negeri disusul oleh pimpinan organisasi sosial politik dan organisasi  masyarakat, diikuti oleh pelajar dan mahasiswa.
Dengan pertimbangan bahwa ajaran yang bersumber dari paham Komunisme/Marxisme-Leninisme adalah merupakan ancaman laten terhada Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, dan bahwa oleh karena kegiatan mempelajari ancaman paham Komunisme/Marxisme-Leninisme secara ilmiah dalam rangka mengamankan Pancasila harus dilakukan secara terpimpin di bawah kendali Pemerintah, maka dengan Instruksi Presiden No. 10 Tahun 1982 telah diinstruksikan kepada Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk menyelenggarakan Penataran Kewaspadaan Nasional untuk Eselon I pada departemen-departemen dan instansi-instansi pemerintahan lainnya. Penataraan Kewaspadaan Nasional ini kemudian diluaskan kepada lapisan lainnya dalam masyarakat, baik secara khusus maupun sebagai bagian dari penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).
Buku Putih ini memuat fakta dan analisis secara komprehansif dan integral mengenai latar belakang aksi dan penumpasan G30S/PKI, baik untuk digunakan dalam masyarakat sebagai referensi dalam penataran kewaspadaan nasional, maupun sebagai publikasi resmi Pemerintah Republik Indonesia Indonesia untuk masyarakat umum mengenai gerakan tersebut.
Latar belakang G30S/PKI perlu ditelusuri sejak masuknya paham Komunisme/Marxisme-Leninisme ke Indonesia awal abad ke-20, penyusupannya ke dalam organisasi lain, serta kaitannya dengan gerakan komunisme internasional. Dalam hal-hal yang mendasar dari politik PKI di Indonnesia terbukti merupakan pelaksanaan perintah dari pimpinan gerakan komunisme internasional itu.
Ditinjau dari keseluruhan latar belakang ini, aksi G30S/PKI dapat dibagi dalam tiga babak, yaitu babak pertama aksi subversi untuk menyusup ke dalam kalangan lain dan untuk merusak kesetiaan rakyat terhadap Pemerintah yang berlangsung dari tahun 1954 sampai dengan tahun 1965, babak kedua upaya percobaan kudeta, perebutan kekuasaan pemerintah, dari bulan Juli – Oktober 1965, dan babak ketiga pemberontakan bersenjata melawan Pemerintah Republik Indonesia yang sah dari tahun 1966 sampai tahun 1968.
Penumpasan G30S/PKI mencakup penumpasannya secara fisik dengan menghancurkan pimpinan, organisasi, dan gerakan bersenjatanya; penumpasannya secara konstitusional dengan melarang paham Marxisme/Leninisme-Komunisme; dan penumpasan secara ideologis dengan mengadakan penataran Kewaspadaan Nasional.

S u m b e r :
Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta 1994
Gerakan 30 September PKI – Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya

Kamis, 05 September 2019

Dr. Sa'id bin Ali: "IBADAH SUNNAH YANG PALING DISUKAI ALLAH"

Blog Ki Slamet 42: Kita Semua Wayang
Kamis, 05 September 2019 - 16:33 WIB

Image "Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahthani" (Foto: SP)
Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahthani
Amal perbuatan yang paling disukai oleh Allah adalah yang secara rutin dijalankan pelakunya, meskipun jumlahnya sedikit, berdasarkan hadist Aisyah bahwa ia bercerita yang artinya sebagai berikut:
 “(Suatu kali) Nabi masuk masjid, tiba-tiba beliau melihat ada tali yang dibentangkan di antara dua tiang. Beliau bertanya, ‘Tal apa ini?’ rang-orang di situ menjawab, ‘Itu milik Zainab, digunakan untuk shalat. Bila ia merasa malas atau hilang semangat, ia berpegangan pada tali tersebut.’ maka beliau bersabda, ‘Jangan begitu. Lepaskan tali itu. Hendaknya seseorang di antara kalian shalat sebatas semangatnya, lalu bila hilang semangat, hendaknya ia berhenti’.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab at-Tahajjud, Kitab at-Tahajjud, Bab Ma Yukrah min at-Tasydid fi al-Ibadah, no.1150. diriwayatkan oleh Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin, Bab Fadhilah al-Amal-Da’im min Qiyam al-Lail wa Ghairihi wa al-Amru fi al-Iqtishad fi al-Ibadah, no.784)
Masruq berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah, ‘amalan apa yang paling disukai oleh Rasulullah?’ Aisyah menjawab, ‘Yang rutin.’ Aku bertanya lagi, ‘Kapan beliau mulai bangun shalat malam?’ Aisyah menjawab, ‘Beliau bangun bila mendengar tukang teriak’. (diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab at-Tahajjud, Bab Man Nama Inda as-Sahar, no. 1132, juga dalam kitab ar-Riqaq, Bab al-Qashd wa al-Mudawamah ala al-Amal, no. 2461, 2462. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Musafirin, Bab Shalat al-Lail wa Adadu Raka’at an-Nabi, no. 741. Yang dimaksud dengan “tukang teriak” yang didengar nabi adalah ayam berkokok.
Juga berdasarkan hadits Aisyah secara marfu’, dalam hadits itu tercantum yang artinya sebagai berikut:
“Lakukanlah dari amal-amal itu sesuai dengan kemampuan kalian; karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri bosan.”
Demikian juga shalat yang paling disukai oleh Nabi adalah yang paling rutin dilakukan, meskipun jumlahnya sedikit. Beliau bila melakukan shalat, menjalankannya dengan rutin. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab ash Shaum, Bab ShaumSha’ban, no 1970, juga dalam Kitab ar-Riqaq wa ash-Shiyam, Bab Shiyam an-Nabi no. 782.
Dalil lain adalah hadits Abu Hurairah, dari Nabi diriwayatkan bahwa beliau bersabda, yang artinya sebagai berikut:
 “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tak seorangpun yang memaksakan diri (berlebihan) dalam agama, kecuali pasti ia akan dikalahkannya (dibuatnya tidak mampu). Maka bersikaplah lurus, berusahalah mendekati kesempurnaan, dan bergembiralah (tentang pahala), serta jadikanlah kesempatan pada setiap pagi dan petang serta waktu di tengah malam sebagai penolong (beribadah).” (HR. Al-Bukhari).
Dalam satu riwayat lain disebutkan, yang artinya sebagai berikut:
 “Amal seseorang tidak bisa memasukkannya ke dalam surga.” Para sahabat bertanya, “Beliau menjawab, “Tidak, tidak juga aku, hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmatnya, maka bersikaplah lurus, berusahalah mendekati kesempurnaan, dan janganlah salah seorang kalian mengharapkan mati; karena bila ia orang baik, semoga dia bisa bertambah kebajikannya, dan bila ia seorang pendosa, semoga dia bisa memperbaiki diri (dan bertaubat).” (HR.Bukhari).

Sumber:
Dr. Sai’d Bin Ali, “Shalat Sunnah dan Keutamaannya”
Penerbit:
Darul Haq Jakarta 2018